Istri di Depan


Pentigraf: Yant Kaiy

Kemiskinan menggiring kami pada beberapa pilihan. Karena hidup bagiku harus memilih. Tentu yang terbaik menurut akal akan dipilihnya. Ketika aku menganggur, istri yang bekerja. Pekerjaanku sebagai seorang petani. Jadi lebih banyak tinggal di rumah.

Ketika istri diterima sebagai karyawati pabrik rokok, pekerjaan rumah jadi tanggung jawabku. Tidak mudah memang, sebab aku juga mesti menjaga dua buah hati yang masih balita. Di mata orang-orang, rumah tangga kami jadi hidangan perbincangan.

Aku jadi suami tersudutkan. Harga diriku anjlok. Kami tak pedulikan mereka. Bagiku mereka adalah penonton yang bisanya hanya bertepuk tangan kalau menyenangkan.

Pasongsongan, 17/3/2020


LihatTutupKomentar