Hijrah


Pentigraf: Yant Kaiy
Tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari yang tak bisa ditunda membuat Tonah segera mengambil langkah. Ia bersama suami dan anaknya berangkat ke Bali. Bukan berwisata tapi bekerja di sebuah toko kelontong buka 24 jam.

Di kampung halamannya yang tandus tak menjanjikan hidup sejahtera. Yang ada hanya derita. Merenda hari-hari bagai di neraka. Bagaimana tidak kalau saban hari rumah tangga Tonah selalu disudutkan oleh mereka yang hidupnya berkecukupan.

Ia pun mengadu peruntungan di tanah rantau. Prinsipnya, miskin musuh utama yang harus dibumihanguskan dari sisi hidupnya.

Pasongsongan, 24/3/2020


LihatTutupKomentar