Korban Kebebasan Demokratisasi



 Hasil gambar untuk orang berpolitik


Opini: Herry Santoso


Banyak negara di dunia yang menjadi korban kebebasan demokrasi sehingga kerap melibas multikultur yang ada dalam tatanan kemasyarakatan serta norma-norna kebangsaan. Hal itu sangatlah wajar, karena dunia kita saat ini dihadapkan pada kontestasi global yang bernuansa orientasi pertumbuhan ekonomi (growth economy oriented). Inilah yang oleh para konservatifisme acap disebut revolusi budaya radikal. Sebagai dampak latens (sebut saja : Indonesia) tergerusnya nilai-nilai nation and character buillding yang parah dan, atau terkikisnya nilai-nilai theologis oleh kultur utilitas pengagungan kebendaan. Segala derajad kemanusiaan (strata sosial) "hanya" terukur oleh : kaya miskin, sukses-stagnan, modern-kuno, dan angka-angka target pertumbuhan,  bahkan dalam urusan politik pun ditandai adanya amandemen-amandenen, perubahan konstitusi yang progresif revolusioner namun miskin peradaban dan keadilan sosial.

Fenomena tersebut  terjadi di negara-negara berkembang (laiknya Indonesia) yang berkiblat pada terapan demokrasi barat yang pada gilirannya negara maju mengeksploitasi sumber daya alam  dan menumpuk produk-produk industrinya. Sayangnya, itupun tidak mampu menyejahterakan rakyat. Ketimpang-ketimpangan ekonomi semakin merebak lantaran materi dan kekuasaan hanya mengakumulasi pada kaum menengah ke atas (middle - upper class), sementara kaum bawah ( the lower class ) hanya kebagian remah-remah keserakahan yang dibarengi dengan merosotnya nilai moral dan ideologi bangsa.

Demokrasi Amburadul

Setelah lepas dari otoritarian rezim Orde Baru, Indonesia serta-merta menerapkan praktik demokratisasi yang sesungguhnya yaitu "bebas tak berbatas" dan dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, semua kebijakan dan regulasi bisa terwujud. Model pemerintahan yang borcorak buttom up inilah yang acapkali melahirkan tragika baru : hilangnya nilai etik, estetik, dan panduan moralitas. Rakyat, baik secara individu maupun kelompok berani menumpah ekspresi gilanya di depan publik : foto presiden ditempelkan di pantat kerbau, ibu-ibu demonstrasi dengan (maaf) telanjang dada, melempar telur busuk di gedung pemerintahan dan ekspresi-ekspresi lain yang menyimpang dari adab ke-Indonesia-an dengan dalih sebuah demokrasi. Itulah ilustrasi nyata demokrasi "Indonesia Baru" yang saat ini dianut oleh mazab kebangsaan kita.

Sungguh celaka bangsa ini, dan semakin termangu-mangu di simpang jalan. Demokrasi kenyataannya hanya membawa bangsa ini jadi prabrik impian ( dreams factory ), alhasil produk demokrasi liberal pada gilirannya justru  jadi remah-remah politik yang identik dengan  "kalungan puisi indah tanpa kenyataan". Nah....***



Tentang Penulis :

Drs. Herry Santoso, M.Pd adalah pemerhati masalah sosial-politik, dan kebudayaan sekarang menetap di Blitar, Jawa Timur.
LihatTutupKomentar