Peluit Kereta Selepas Dini Hari...

Hasil gambar untuk gambar hitam putih gadis tersenyum


Cerpen : Herry Santoso


      
      Wajahnya mengingatkanku pada   Janette Milani si mahabintang dalam  Twilight Was Mired in The Rhine River  (Senja Terperosok di Sungai Rhine). Film box office selama tiga bulan berturut-turut sukses di bioskop Roma, Paris, London, dan New York, dan "sampahnya"  bisa dinikmati di medsos itu. Film itu sukses besar  lantaran dukungan bintang jelita blesteran Italy - Swiss mirip perempuan yang duduk di sebelahku...

              ***

      Wajahnya oval dengan dagu indah. Matanya selalu berbinar memancarkan aura optimisme yang dalam. Bibirnya sensual setiap kali ia bicara selalu basah, rekah bak buah delima. Lebih-lebih jika tertawa, waow...deretan gigi bak mutiara selalu melengkapi kecantikannya..
      Palupi. Begitu orang-orang menyebutnya. Wanita yang selalu tampil modis dan trendy itu, awalnya kukenal saat dalam satu kereta yang membawa kami ke Jogja.
      "Bapak mau ke Jogja ?" tanyanya terkesan bodoh. Karena siapapun orangnya yang ada di gerbong ini pasti ke Jogja.
      "Iya. Anda ?"
      "Kita satu tujuan, Pak, " jawabnya sembari tersenyum. "Mau sambang cucu, ya, Pak ?" lanjutnya sok tahu.
Ini pertanyaan yang paling tidak kusuka. Meskipun usiaku sudah kakek-kakek, tapi itu pertanyaan "menyakitkan" karena aku masih selalu styles gaya kekinian.
      "Bisa iya, bisa tidak, Non !" jawabku sekenanya.
      "Nyonya, Pak, bukan Nona. Usiaku sudah 45, lho, "
      "Oh, iya ?" aku tercengang.
      "Dikira berapa sih, Pak ?"
      "Dua-lima."
      "Heheeee...." ia terkekeh.
      "Kok ketawa ? " sergahku,  "Aku bicara apa adanya dan...."
      "Dan sekarang balik kutanya,  usia Bapak berapa, ayo ?"
      "Enam dua, tapi aku masih merasa  empat dua, hahaa..." aku mencoba melucu.
     "Tapi meski usia Bapak segitu, tampak masih keren, kok.  Sungguh !" ucapnya lagi yang membuatku benar-benar besar kepala bahkan ada riak kecil  melecut di dada.
      "Anda, eh..."
      "Namaku Palupi, Pak. Bukan Anda.  Panjangnya Dian Tri Palupi. "
      "Oh iya, sebuah nama yang indah dan bermakna. Anda pasti anak nomor tiga. Ya, kan ?"  tebakku yang membuatnya sejenak tertegun sebelum mengangguk patah-patah.
      Kereta terus meluncur merobek rembang petang.  Kulirik Palupi membenarkan krah blusnya agar lebih ke atas.
      "Kedinginan, ya, Lup ?"  tanyaku. Bibirnya sedikit pucat dan gemetar.
      "I...iya. Saya tidak tahan AC yang terlalu dingin, Pak..." akunya jujur. Bergegas aku menarik tas di atas kepala dan mengeluarkan mantel ekslusif warna hijau toska seraya menawarkannya.
      "Bapak penuh perhatian. Bapak baik, sekali..." gumamnya.
      "Karena dulu aku juga pernah punya istri."
      "Oh, ya ? Sekarang ?" mata itu lurus menatapku.
      "Sudah kedaluwarsa."
      "Maksudnya...?"
      "Barangku sudah kedaluwarsa."
      "Hii...Bapak genit, " ia mencubit pangkal lenganku.
      "Maksudku, ibarat barang, aku ini sudah terlalu lawas, sudah kedaluwarsa,  gitu, lho... !"
      "Yang lawas itu biasanya justru  branded, aku suka, " ucapnya tanpa beban yang membuat suasana jadi cair dan familier.
      "Kamu, sendiri, ya, Lup ?"
      "Kan sama, Bapak !"
      "Heh. Maksudku, mengapa tidak bersama suami ? "
      "Suami ? "
      "Iya, suami, kamu punya suami, kan ?"
      "Eh, pernah, pernah punya, "
      "Anak ?"
      "Belum pernah." ia berterus terang.
      "Belum pernah ?"
      "Iya, kenapa ?"
      "Maklumlah..."
      "Makkumlah gimana ?" 
      "Maklumlah,  kamu tampak cantik sekali. Kamu seksi bingit,  dan kamu...." suaraku tersendat ragu. Khawatir ia tersinggung dengan sanjunganku yang sedikit nakal itu.
      "Aku kenapa lagi, Pak ?"
      "Dan kamu sempat membuatku terpesona. Jujur, aku menyukaimu. Kamu marah jika kukatakan hal ini ke padamu ?"
      "Tidak. Aku merasa tersanjung, Pak..."
      " Alhamdulillah...   Memangnya kamu tidak malu duduk berdampingan denganku ?"
      "Kenapa harus malu ?"
      "Lihatlah, orang di sekeliling kita selalu memandang kemari. Mungkin dalam hati bilang, pasangannya kok laki-laki tua,"
      "O,o. Bung Karno saja saat jatuh cinta pada Neoko Nemoto, usia 66 kok. Wanitanya 21. Tapi romantis, penuh cinta kasih," ucapnya. Aku terkesima dengan  ucapannya itu.
      Malioboro Expres  terus melesat menembus gulita malam. Stasiun Madiun sudah lewat. Kini melaju di double track arah Solo-Balapan.
      Palupi tertidur. Ia tak segan menyandarkan kepalanya di pundakku. Dengan mantel hijau toska yang kuberikan ia tampak lebih cantik. Kubiarkan ia pulas. Permukaan wajahnya terlihat begitu teduh.  Mungkin terasa hangat dengan balutan mantel dan (maaf) dekapan tanganku yang melingkar di bahunya.
      Menjelang Solo-Balapan, Palupi terbangun. Sejenak ia tergagap, begitu menyadari ia tersandar di bahuku.
      "Maaf, ya, Pak..."
      "Nggak apa-apa kok,"
      "Bapak nggak _sare_ ?"
      "Belum, ngantuk. "
      "Kenapa ? Karena ada di dekatku ?"
      "Bukan,"
      "Lalu ?"
      "Karena..." suaraku tercekat di kerongkungan, tapi segera kusambung lagi,  "Karena ada  imajinasi liar yang merasuki benakku."
      "Tentang apa, Pak ?"
       "Andaikan kamu jadi istriku..." lanjutku jujur.
      Palupi tertunduk, seraya mengangkat wajahnya dan menatapku.
      "Sungguh ?" katanya.
      "Kamu tidak marah ?" balasku.
      Ia menggeleng perlahan.
      "Andai aku...."
      "Andai apa, Pak ?"
      "Andaikan aku mencintaimu ?"
      Ia tersenyum manis. Manis sekali. Kurengkuh tubuhnya ke arahku. Kupandangi dalam-dalam wajah ayu itu. Palupi memejamkan matanya ....
      Deeett.....! Kami terjingkat. Klakson kereta merobek suasana hati. Palupi tersipu, dan menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya. Mukanya memerah. Menahan geli...***

Kediri, 13 November 2019


Editor: Yant Kaiy

Biodata Penulis :

Drs. Herry Santoso, M.Pd. lahir di Blitar, 1957. Pendiri Sanggar Sastra Adinda, Pasongsongan, Sumenep (1990). Aktif menulis puisi, cerpen, novel, artikel, dan buku nonfiksi. Karyanya banyak termuat di media massa cetak. Karya yang diterbitkan antara lain Demang Kolomayan (Novel, 1995), Lies di Matamu ada Tuhan (Novel, 2001), Senja Jingga Laut Masalembu (Novel, 2003), Lembah-lembah Duka (Novel, 2004), Antara Loji dan Kembang Kopi (Novel, 2007), Cerita tentang Rembulan (Novel, 2010), Rembulan Jatuh di Tikungan (Antologi Cerpen, 2010), Laki-laki di Pinggir Lapangan Upacara (Antologi Cerpen, 2012), Surat dari Riyadh (Antologi Cerpen, 2013), Di Antara Padang Hampa (Antologi Puisi, 2012), Cerita tentang Rani (Novel, 2018), Menulis Investasi Masa Depan (Buku, 2018). Pernah menjadi Wartawan : Harian Merdeka, Mingguan Shimponi, Mingguan Swadesi, Sinar Pagi Minggu, dan (kini) Jurnalfaktual.id. Jadi Guru SD sejak 1977 di Sumenep. Sebelum pensiun sebagai Ketua PGRI Kab. Blitar,  sampai sekarang masih aktif menulis dan menetap di Blitar, Jawa Timur.  ***
LihatTutupKomentar