Gelisah
Opini: Yant Kaiy
Hidup senantiasa selalu berganti. Seperti juga hari. Tidak
ada yang bisa menghentikan waktu itu sendiri. Ada sebagian orang yang mengejar
waktu demi tercapainya satu impian. Ada pula yang santai menikmati waktu dengan
memperbanyak ibadah kepada Tuhannya. Ada juga yang tak mampu menyelesaikan
persoalan hidupnya sendiri dengan beragam pilihan yang terhampar di hadapannya.
Setiap insan di muka bumi ini hadir dengan permasalahan
beragam. Ada yang menganggap bahwa problema hidup adalah bagian hikmah
tersembunyi. Ada pula yang mengatakan kalau persoalan hidupnya terlalu berat, pelik
dan dilematis sehingga ia terkapar tak berdaya dengan realitas itu.
Saya suatu ketika kedatangan tamu sahabat lama yang sudah
jarang ketemu. Kendati antara kami masih ada ikatan famili. Ia tinggal di satu
kecamatan dengan saya, cuma beda desa. Dari raut wajahnya ia tampak gelisah.
Sebuah beban hidup menggantung dari gerak sikapnya.
Setelah cukup berbasa-basi, ia lalu mengatakan maksud kehadirannya
pada saya.
“Saya lihat kamu selalu ceria dari dulu sampai sekarang.
Seolah tanpa beban dalam menjalani hidup ini. Beda dengan saya. Bertubi-tubi persoalan dan penyakit
menggempur rumah tangga kami,” keluhnya dengan dengus napas berat.
“Di luarnya saja terlihat santai, tapi di dalamnya sama
saja, kawan.”
“Tapi tidak seberat persoalan hidup kami. Kekayaan kita sama
tiada beda. Istri kita sama satu. Anak kita juga sama dua. Pekerjaan kita juga
sama, jadi petani. Tapi kenapa permasalahan hidup jadi tidak sama?” tanyanya
seolah pada dirinya sendiri.
Selepas sahabat pulang, saya duduk menikmati sisa kopi.
Sejenak saya teringat cerita teman, seorang guru ngaji di kampung sebelah.
“Ibarat 17 orang satu perahu. Bila ia mendapat uang dari
hasil tangkap ikan, lalu mereka bagi secara merata.
Tentu hasil barang yang
mereka belanjakan itu tidak sama. Ada yang hanya cukup untuk makan. Ada pula
yang bisa belanja alat-alat elektronik. Bahkan lebih tragis, hanya cukup beli
celana dalam dan kutang istrinya,” ujar teman guru ngaji itu.
Jadi untuk apa berlama-lama di lembah gelisah, segeralah
‘hijrah’ ke bukit bahagia dengan memperbanyak zikir kepada-Nya.
