Terorisme: Antara Agitasi dan Fakta
Opini:
Yant Kaiy
Eksistensi ajaran Islam
dari dulu sampai sekarang selalu menjadi kekhawatiran beberapa agama yang ada
di beberapa belahan bumi ini. Termasuk Indonesia sebagai negara mayoritas
penduduknya muslim. Beberapa negara yang masyarakatnya sebagian besar non-muslim
senantiasa mengumandangkan jargon-jargon yang mendiskreditkan Islam.
Lebih
sadis lagi, ada beberapa negara yang menjadikan Nabi Muhammad SAW. sebagai
sosok yang bertolak-belakang dengan aslinya, bahkan cenderung berbau
penghinaan. Tidak hanya sekali, tapi berulangkali dilakukan negara-negara yang
benci Islam.
Nabi Muhammad SAW.
sebagai nabi terakhir sangat menghormati para pendahulunya. Sebagai pembawa
ajaran Islam, beliau telah menghiasi dunia ini dengan revolusi akhlak yang
agung. Pada akhirnya kehadiran Islam mampu membuat perubahan sangat berarti
untuk umat. Kaidah manusia sebagai khalifah di muka bumi ini dijunjung tinggi dalam
Islam. Juga persamaan hak menjadi program
spesial dalam Islam.
Sedangkan strata sosial bukan jaminan bagi seseorang
menjadi mulia dunia-akhirat, hanya penekanan keimanan yang menjanjikan umatnya
pada sebuah kehidupan bahagia nan abadi dalam surga. Kaum yang tertindas, orang
yang miskin, orang lemah dalam segala hal masih punya banyak harapan untuk
hidup ‘nikmat’ kelak di akhirat apabila perilaku akhlak dan keimanan terpatri
di kalbunya.
Dalam Islam penekanan
akhlak menjadi urutan pertama di dakwahnya. Baik itu akhlak terhadap sesama manusia,
akhlak dengan alam semesta, akhlak dengan hewan juga menjadi perhatian khusus.
Mustahil Islam mengajarkan kebencian terhadap sesama manusia yang berbeda dari
segi SARA.
Tidak ada paham radikalisme dalam perjalanan ajaran Islam di muka
bumi. Kalaupun ada, itu hanya sebagai
bentuk kekecewaan berlebihan yang
dilampiaskan dengan tindakan-tindakan anarkis. Ada pepatah usang yang
mengatakan kalau ada asap karena ada api.
Kalau kita mengungkap
keberadaan terorisme di tanah air, sewajarnya kita harus bersikap bijak. Tidak semena-mena
menepis akar persoalan yang ada.
Mengungkap gerakan terorisme semestinya obyektif dan bijaksana,
mengesampingkan kepentingan-kepentingan politik praktis yang berpihak pada salah
satu posisi saja. Apalagi kalau sampai pemutar-balikan realitas yang bisa
melahirkan perspektif lain di kalangan masyarakat.
Sensitifitas dan
kecerdasan masyarakat tinggkat bawah saat ini tidak bisa diragukan lagi. Hanya
kesempatan yang membuatnya bernasib tidak sama dengan lainnya. Perkara kemampuan
tidak perlu dipertanyakan. Masyarakat era millenial sudah bisa memfilter dengan
bijak segala sesuatunya.
Mindset telah menjadi
budaya yang sangat kuat dari pejabat kita yang sewajibnya menjadi pelayan
masyarakat justru terbalik menjadi pejabat yang minta dilayani. Sumpah jabatan
untuk menjadi aparatur negara yang baik
malah menjadi tikus kantor. Semestinya bisa memfasilitasi segala keperluan
masyarakat justru mementingkan kebutuhan hidupnya dan keluarganya.
Maka sumbatan-sumbatan
yang membuat beraneka kekecewaan telah menatalkan gerakan vandalisme. Karakter
masyarakat akhirnya berpola kasar, amburadul, tidak beradab. Falsafah bangsa
kita adalah negara hukum. Jadi masyarakat harus taat hukum dan ini harga mati.
Tapi apa lacur, justru pejabat negara pembuat hukum malah melindas rambu-rambu
hukum yang ada. Ini sangat memalukan.
Di samping faktor
kecewa terhadap penyelenggara negara, mereka juga mengalami
kemiskinan/ketimpangan sosial yang tidak direspons dengan baik oleh sang
penguasa. Lapangan kerja sedikit tidak seimbang dengan kelulusan perguruan
tinggi sehingga angka pengangguran sangat merajalela, harga kebutuhan pokok
melambung tidak seimbang dengan pendapatan masyarakat, semua semakin menambah
daftar kecewa dan kecemburuan sosial terhadap pejabat negara.
Selama ini memang
banyak argument tentang sebab-sebab orang menjadi teroris. Tapi untuk Indonesia
isu kekecewaan terhadap pejabat publik dan cemburu sosial (faktor kemiskinan)
disinyalir kuat menjadi pemicu tindakan terorisme. Sungguh disayangkan kalau
kita tidak peduli dengan kenyataan ini. Sebab ini fakta yang ada di sekitar
kita. Bukan agitasi yang mengada-ada.
