Money Politic dalam Kompetisi Pilkades di Sumenep
Opini:
Yant Kaiy
Untuk mendapatkan
pemimpin yang berkualitas di era millenial memang sangatlah sulit. Rekam jejak
yang bagus ternyata tidak menjadi garansi mutlak dikemudian hari ketika sudah
menjadi pemimpin. Sungguh sangat banyak contoh kasus yang dapat diteladani.
Ketika seorang pemimpin sebelum menduduki tahtanya, ia sudah mengonsep program
yang pro rakyat. Namun ketika menjadi pemimpin, sudah bukan rahasia lagi ia
akan berbenturan dengan segala bentuk birokrasi yang menelikung agenda pro
grass rootnya.
Ia tidak lagi menjadi
pembela rakyat yang dipimpinnya. Ia akan mengedepankan kepentingan pihak yang
menaungi dirinya agar mahligai kekuasaannya langgeng tak terbantahkan. Pada
akhirnya, ia bukan lagi berwajah sebagai sang juru selamat, akan tetapi ia
menjadi pemimpin berpaham ABS (asal bapak senang).
Kalau ia tidak menjalankan
tradisi itu, maka ia akan terkucilkan dari persekongkolannya.
Pola transformasi
kepemimpinan demikian tidak hanya terjadi di level atas saja, tapi pada tataran
bawah juga sudah terkontaminasi dengan pola seperti itu. Lagu lama tersebut
terus tumbuh subur di masyarakat kita. Tidak ada indikasi suatu saat nanti
perubahan akan terjadi. Kendati begitu, kita sebagai rakyat harus tetap
optimis.
Dalam kompetisi politik
apa pun, seorang kandidat biasanya mementingkan kemenangan. Bukan ketenangan.
Ia akan berupaya maksimal dalam mengkeokkan lawan. Ia telah mengebiri iba yang
ada pada nuraninya. Karena tidak sedikit budget yang mereka gelontorkan demi
tercapainya tujuan.
Mereka telah mengkalkulasi untung-rugi dari perhelatan yang
akan diikutinya. Sebagai akibatnya sistem perdagangan pun mereka praktekkan
sebagai pengejawantahan ikhtiar dari kompetisi itu. Elemen tersebut ternyata
menjadi sorotan utama bagi kandidat yang akan bertarung habis-habisan untuk
merengkuh juara.
Aroma money politic di
suasana menjelang Pilkades Kabupaten Sumenep tahun 2019 ini sudah mulai terasa.
Bagi-bagi sembako dan amplop berisi duit bukanlah sesuatu yang tabu. Bungkusnya
sebagai model pengenalan kandidat, bukan lagi sebagai suap. Alasannya lagi sebagai
wujud sosialisasi yang halal hukumnya. Dan sederet lagi alasan masuk akal.
Tradisi lama yang cukup
manjur ini hampir tidak bisa lepas dari adanya perhelatan pesta demokrasi.
Bumbu penyedap dari sekian banyak ini tentu membutuhkan dana tidak sedikit.
Sebab seorang calon harus mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pihak pemilih.
Pengenalan visi-misi menjadi jalan terciptanya politik uang. Ditambah lagi
dengan open house di kediaman sang calon. Anggaran dapur pun membengkak dengan
sendirinya.
Beban berat inilah yang
harus dipikul bagi semua kandidat dalam pemilihan kepala desa yang ada di
Kabupaten Sumenep. Sementara itu para pemilih juga tidak ambil pusing dengan
itu semua. Salah sendiri kalau nanti tidak jadi terpilih.
Bukankah slogan “siap
kalah-siap menang” sudah menjadi kesepakatan berjamaah bagi semua kandidat.
Namun apakah baris kalimat bijak itu dapat diterapkan setelah pesta demokrasi.
Wallahualam bishawab.
