Antara Kompetisi dan Kompetensi Wajah Pendidikan di Kecamatan Paongsongan Sumenep

Hasil gambar untuk gambar kartun sekolah

Opini: Yant Kaiy

Kompetisi untuk merebut standarisasi pendidikan dengan jumlah murid yang banyak telah menatalkan efek negatif di beberapa sekolah di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Salah satu faktor dominan yaitu adanya stimulan BOS (Biaya Operasional Sekolah) dan beberapa elemen donor yang dijanjikan apabila mencapai kriteria tertentu. 

Persaingan yang tidak higienis ini memicu letupan-letupan di beberapa kalangan utamanya antara guru versus guru dan antara wali murid versus guru. Sederet catatan skeptis mengemuka seiring gesekan kompetisi antara lembaga pendidikan negeri dan swasta yang saling  membombardir via slogan.

Dari beberapa analisis di lapangan, memang tidak ada yang merasa kalau itu merupakan sebuah wujud intimidasi pembonsaian kompetensi. Mereka tetap asyik saling lempar opini bahwa dirinya bukan orang satu-satunya yang bersalah. Mereka menjalankan aksi dari reaksi aspirasi di kalangan lembaganya. Sebab, selama ini tidak ada rambu-rambu yang mengundangkan sampai kapan kompetisi itu  harus dihentikan.

Wali murid juga ikut-ikutan latah tergiring mindset beberapa guru yang punya kepentingan untuk itu. Mereka tidak mau tahu tentang kompetensi lembaga pendidikan yang bersangkutan. Mereka lebih condong pada kuantitas yang sengaja disematkan oleh lembaga bersangkutan. 

Toh, sampai detik ini tidak ada segelintir manusia yang bisa menangkal kompetisi itu. Mereka menganggap kalau kompetisi adalah suplemen yang bisa mengangkat pamor lembaganya.

Sesungguhnya ada struktur zona yang telah dibuat oleh lembaga terkait tentang berapa jarak yang boleh berdiri bangunan sekolah lagi. Tapi aturan itu adalah embun pagi hari yang cepat sirna oleh nafsu angkara dan loba dari lembaga. 

Sejatinya aturan main ini bisa diaplikasikan pada roh pendidikan itu sendiri. Plus batasan-batasan yang bisa mengebiri lembaga yang gemuk untuk membagikan kue itu kepada lembaga lainnya. Akankah hukum rimba ini terus berlanjut pada  generasi berikutnya? Sampai saat ini indikasi islah itu belum tercium baunya.

Memang untuk mengendus bau luka lama di lembaga tertentu tidak mudah karena semua tidak tampak, tapi akan sangat terasa kalau kita memasukinya lebih dalam. Sebab umumnya personil di lembaga pendidikan bukan orang bodoh. Mereka adalah kaum intelektual yang notabene berangkat dari latar pendidikan mumpuni. Pasti ia punya obat racun yang bisa mengeliminir sekecil mungkin galau diantara mereka.

Dari evaluasi fakta di lapangan, skor final dari kompetisi itu lebih banyak dimenangkan oleh lembaga pendidikan swasta. Menang dan kalah adalah hukum kausalitas dalam mengiringi perjalanan kompetisi. Ada beberapa regrouping yang sudah terjadi di lembaga pendidikan plat merah di Pasongsongan. Ada sebagian lagi yang sekarat menunggu bom waktu meledak. 

Sementara lembaga pendidikan swasta terus menajamkan ujung “tombak” yang  dimilikinya. Beberapa kegiatan ekstrakurikuler semakin disemarakkan sebagai power gedor untuk mendongkrak elemen strategi yang sudah dicanangkannya. Memang ada sebagian terus memaksakan diri. Sehingga kentara antara yang serius dan tidak.

Ketar-ketir dari sebagian besar lembaga pemerintah ini bukanlah momok yang menakutkan, karena mereka punya proteksi gaji. Kalaupun suatu saat nanti terjadi “tsunami” pada lembaganya, maka ia akan tetap melakoni profesinya di lingkungan yang berbeda. Banyak diantara mereka yang tidak punya gairah untuk berinovasi. Kalaupun mereka memilikinya, itu hanya sebatas kalimat puisi yang meninabobokan.

Jadi kesimpulannya kompetisi itu penting di lembaga pendidikan. Tapi jangan lupa, membangun kompetensi jauh lebih terhormat dan bermartabat.


LihatTutupKomentar