Perempuan di Malam Tahun Baru


 Hasil gambar untuk gambar kartun ibu gendong anak

Cerpen : Herry Santoso


Sari memandangi permukaan sungai yang keruh dan pekat kehitaman sore itu. Berkali-kali ia  bercermin di permukaan air itu mencermati kerut-merut wajahnya yang kian dilipat usia. Sebagai perempuan yang memasuki kepala  lima, wajar jika ia tidak bisa dibilang muda lagi.

Bahkan Sari sendiri sadar kalau sebentar lagi kecantikannya itu akan memudar tidak laik jual lagi. Untuk itu, Sari selalu "beroperasi" di malam hari, dan itu pun semata-mata untuk mengecoh pelanggannya. Dilakukannya dari taman kota satu ke taman kota lainnya sebagai tempat mangkalnya, atau di bawah flay over satu ke lainnya yang dirasa aman dan cukup strategis untuk menjerat mangsa.

Jika siang hari sesungguhnya Sari tak lebih sosok perempuan berumur yang miskin, kusut dan keriput. Akan tetapi tatkala gulita malam mulai membalut mata, di bawah keremangan lampu mercury

Sari seolah bermetamorfosis bak sosok bidadari : rambutnya yang legam dibiarkan lepas tergerai sebatas pinggang, tubuhnya yang  semampai tampak aduhai dengan balutan busana full press body. Wajahnya, meski mulai mengeriput tampak licin dan mulus  dengan dempulan cream malam tebal dan lembab sebatas lehernya yang jenjang. Belum lagi, saputan maskara dan batu alis hitam pekat mampu membikin tatapan mata wanita lewat paruh baya itu tajam bak seekor elang. Juga gincu merah darah yang memoles bibirnya, membuat Sari seolah lebih kuat daripada cahaya lampu-lampu di taman.

Ya, semua yang menempel pada diri Sari merupakan modal untuk menyiasati kehidupan di kota besar yang keras dan keji. Sari jadi pe-es-ka penjerat birahi laki-laki hidung belang, atau pria kesepian yang kalah "berjudi dengan nasib", atau pun juga orang-orang yang tipis iman. Sari, nasibnya, mutlak "terpenjara" oleh dosa-dosa yang kian membara, hingga ia tak pernah untung kecuali semakin buntung.

Betapa tidak, semenjak  ia tamat esde tidak melanjutkan sekolah lagi kecuali menimba ilmu di es-em-pe 'terbuka', tempat ngumpul bocah-bocah sebaya di kampungnya. Namun apa daya, di saat usianya masih sangat muda, Sari dinikahkan oleh ayahnya  dengan Kang Banjar, seorang  blantik sapi ssal Lumajang.

Namun sayang, perkawinannya hanya seumur jagung lantaran sang suami bangkrut, dan Sari ditinggal lari ke luar negeri. Dua tahun kemudian Kang Banjar pulang dan gilanya menggandeng wanita yang bukan mukrimnya. Hati Sari pun hancur dan minta cerai. Belum lama menjanda Sari diperisteri oleh Kang Eko juragan soto dari Lamongan, tapi perempuan itu minggat gara-gara sang suami cengkiling suka menempiling.

Tidak berhenti di situ, bak piala bergilir Sari menikah lagi sama Sodrun. Di sini  Sari menemukan cintanya.  Meski suaminya cuma berprofesi sebagai sopir truk pasir tetapi hati wanita itu merasa tenang dan harmonis, hingga mereka dikaruniai momongan.

Namun kembali disayangkan, ternyata Kang Sodrun tak kalah mata keranjang dan ringan tangan dibanding laki-laki sebelumnya. Sari dihajar habis-habisan ketika balitanya jatuh dari gendongan dan terluka di keningnya. Bahkan sang suami tega mengusirnya dari rumah. Hati Sari kembali hancur berkeping-keping hingga akhirnya nekad minggat ke kota mencari penghidupan yang baru dan nyaman. Sayangnya, kota yang gemerlap tidak pernah ramah pada perempuan itu....

"Sedari tadi kuperhatikan kamu kok tidak cepat mandi, to Sar..." sebuah teguran mengagetkannya.
"Aku kurang enak badan, Mak...." balas Sari tanpa menoleh ke belakang pada wanita tua yang berdiri di dekatnya sejak tadi. Sari numpang tidur pada wanita  itu di gubuk liar yang menjamur di bantaran kali. Meski di lingkungan kumuh, namun hidupnya berasa tenang. Paling tidak untuk sementara waktu bisa dijadikan tempat persembunyian tatkala terjadi obrakan dari Pol PP.
"Jadi, malam nanti kamu tidak kerja, ya, Sar..."
"Kerja, Mak,"
"Katamu, kurang enak badan, Sar ?"
"Tapi kita kan butuh  makan, Mak... Juga mengirim uang sekolah anakku yang di kampung sana...!" tukasnya.
"Lalu anakmu di kampung ikut siapa Sar ? "
"Dulu ikut Kang Sodrun, ayahnya, nggak tahu, sekarang. Yang penting aku kirim uang nggak pernah kembali, " kata Sari sembari angkat bahu, wanita tua itu pun terdiam. Seraya Sari  membasahi ujung handuknya dengan air kali  serta-merta ia pun hanya menyeka wajahnya yang agak pucat, sebelum bergegas bangkit ke pondoknya.

Senja beringsut ke rembang petang,  ketika Sari tampak keluar dari mulut gang. Kota benar-benar semarak, maklum malam Minggu. Sari bergegas ke stand rokok Cak Budi. Diambilnya sebatang kretek dan segera nenyulutnya.

"Kamu tidak usah kerja malam ini, Sar, ada obrakan !" ujar Cak Budi mengingatkannya.
"Sok tahu, Cak !" sergahnya.
"Yitno-becak, yang bilang."
"Kawasan mana yang diobrak? "
"Stasiun, Pasar Sore, dan Taman Kota, konon kabarnya."
Sari tidak menimpali. Ia langsung ngeloyor pergi, setelah menyedot asap kreteknya berkali-kali.
"Nggak ngeteh dulu,  to,  Sar ?" gumam Cak Budi, tetapi yang ditanya sudah bergegas menyetop becak langganannya. Malam semakin marak. Sari segera pasang aksi di traffic light persimpangan jalan.
"Hallo selamat malam, Sayang....!" sebuah sedan hitam berhenti tepat di depannya. Diturunkannya kaca pintu mobil itu, tampak sosok muda mengumbar senyum dari belakang kemudi.
"Ada apa, Mas ? " tanya Sari genit sambil mengibaskan sisi kiri rambutnya.
"Ikut, yuuk...!"
Sari tak menimpali. Segera masuk ke mobil itu dan melesat merobek keramaian kota...

                               ***

Sari terkapar. Kepalanya terasa berputar. Pandangan matanya mengabur di antara banyak orang yang mengerumuninya.

"Sampeyan sudah sadar, ya, Mbak...?" gumam seseorang yang berusaha menolongnya. Sari pingsan. Dibenahinya pakaian Sari yang kedodoran. Ia tergolek lemah di pinggir jalan yang menuju kampung halamannya.

Tragis, betapa tidak, dalam keadaan sakit Sari mudik. Padahal tubuhnya lemah gemetaran, wajahnya pucat dan langkahnya pun limbung, terhuyung dan gontai. Sari pasrah akan nasibnya,   hatinya pun telah bertekad bulat, "....ya Allah kalau memang ajalku tiba, aku ingin mati di kampung halaman dan beri kesempatan aku ingin melihat anakku sudah seberapa besarnya ..."  begitu doa yang selalu terucapkan dari bibirnya yang kering dan pucat.

Wajar jika separah apa pun sakit yang dideritanya Sari tetap ingin pulang. Entahlah, di rumah siapa ia nanti akan tinggal, itu tidak penting bagi Sari.

"Sampeyan harus ke dokter, Mbak..." ujar wanita paruh baya yang menolongnya ketika ia jatuh pingsan.
"Iya..., tapi saya tidak punya apa-apa kecuali kain yang menempel di tubuh ini..." ucap Sari berterus terang.
"Tidak usah kamu pikirkan hal itu. Ayo kita berangkat sekarang..." ujar wanita itu. Segera dipanggilnya gojek. Direngkuhnya tubuh Sari  dan dilarikannya ke dokter terdekat.
"Waduh, Pak Dokter tutup, Mbak !" kata tukang gojek. "Maklum malam Tahun Baru," imbuhnya.
"Sudahlah tinggalkan saja saya di sini, rasanya saya tidak kuat lagi..." ucap Sari kian melemah. Tukang gojek pun menggedor ruang praktik dokter itu berkali-kali sampai akhirnya sosok pria muda keluar.
"Ada apa? "
"Mohon pertolongan Pak Dokter, perempuan ini pingsan di tepi jalan, dan keadaannya kritis mengkhawatirkan..."

"Tidak bisa! Ibu tahu kan sekarang Tahun Baru, praktik sedang libur! " kata dokter muda itu dengan ketusnya seraya menutup pintu rumahnya rapat-rapat.

Malam semakin menapak. Di sana-sini hanya terdengar suara terompet berpadu kerlap-kerlip lampu hias pertokoan. Kedua orang orang itu tertunduk lesu di trotoar setelah merebahkan Sari di pinggir jalan. Angin Januari berembus lembut menyapa malam yang kian lembab dan atis.

"Tinggalkan saya di sini....ma...maafkan saya merepotkan Anda berdua...." ucap Sari patah-patah dan kian melemah.
"Tidak....bertahanlah Mbak....!" balas si penolong semakin panik. Sedang tukang gojek itu tak kalah galau. Ia hanya bisa mondar-mandir ditindih kebingungan, sampai sebuah mobil berhenti di dekatnya.
"Dokter ?" teriaknya terkesiap.
"Mari, cepat, masukkan ke mobil saya, "
"Ya Tuhan...terima kasih atas pertolonganmu..." gumam wanita penolong itu...

Sari pun dirawat di klinik pribadinya.
"Nama ibu, siapa? " tanya sang dokter.
"Sari, panjangnya Sariyem...."
"Tinggal Bu Sariyem, di mana? " tanyanya lagi. Sari cuma menggeleng lemah.
"Punya suami? "
"Pernah."
"Pernah? Nama suami Ibu, siapa? " lagi-lagi terdiam. Yang terlintas di benaknya cuma Sodrun, laki-laki yang terakhir kali menikahi dan memberikan momongan.
"Suami saya bernama Sodrun, Dokter...." akunya lirih.
"Siapa ? " dokter muda itu mengerutkan keningnya.
"Siapa nama suami, Ibu? " tanyanya lagi.
"Sodrun. Tapi saya tinggal pergi hampir dua puluh lima tahun yang lalu dan...."
" Dan apakah Ibu juga pernah punya anak? "
"Iya, pernah....tapi ketika saya tinggal pergi anak itu masih umur setahun...." jelasnya. Tampak dokter muda itu termangu-mangu. Ia keluar kamar rawat. Tidak lama kemudian balik lagi disertai laki-laki tua mengenakan piyama.
"Ibu masih ingat dengan laki-laki ini? " tanya dokter itu lagi.

Dipandanginya lama-lama laki-laki itu sebelum bibirnya bergerak-gerak menyebut sebuah nama.
"Kang Sodrun...?" suara Sari tertelan.

Laki-laki itu cuma diam bagaikan patung di dekat ranjang, sebelum akhirnya jatuh memeluk Sariyem dan tangisnya pun seketika pecah....
"Ini ibumu, Nak....." ujar Sodrun terisak.

Dokter muda itu pun tertegun sebelum bersimpuh di kaki Sariyem. Diciuminya telapak kaki ibunya. Malam terus berlari ke gerbang dini hari. Di sana-sini terus terdengar suara terompet merobek dini hari ditingkahi syluara knalpot motor meraung-raung. Tetap didekapnya Sariyem oleh laki-laki tua itu, di antara kesibukan dokter muda yang merawatnya.....


 _________________



( Blitar,  01 Januaru 2020 )


*) Catatan :
Selamat Tahun Baru 2020

(Herry Santoso sekeluarga, Bitar)

Editor: Yant Kaiy
LihatTutupKomentar