Puisi: Yant Kaiy (9)
![]() |
| Vignet: Yant Kaiy |
Anak Nelayan
cantik sketsa alam kelahiranku
gersang pada kanvas lukis
subur diantara asa menjingga
walau lama temaram
namun hangat desah ombak
menyongsong kehadiranku
pengembaraan mengembalikanku
di pesisir Pasongsongan kenangan
ketika bocah berlarian
berburu uang jajan
dari ikan para nelayan
itulah aku
mereka bertelanjang dada
bukan lagi anak gunung
tapi air mata perih,
menekuri luka lampau
tentang kerikil fitnah
menenggelamkan semuanya
tanpa puing lagi
senandung tari daun kelapa
gairah kejantanan dan dendam
berkecamuk tiada henti
menggerus pasir insyaf
terbentang
sungguh,
telah kubakar memori itu
tapi pedih menancap kuat
di dada yang ringkih
dimakan usia
hingga kini
anak-istriku tak mengerti
apa itu pohon cinta,
dan akar sayang
apa itu sungai benci,
dan sumur kekecewaan
yang sudah kupasung
bersama kelahiran
mereka yang mengerti
tidak angkat bicara lagi
mereka lebih suka sinetron
di televisi
dari pada peduli sesama
aku tak mengatakan kau
seorang pecundang
dan maafmu telah kusimpan
sekian lama di kulkas
agar membeku
karena kau dan aku
anak laut cerita silam
Paberasan,
2008

