Halau Galau Sebelum Depresi Menjelang
Opini: Yant Kaiy
Banyak berharap pada kesuksesan
setelah lulus sekolah, ternyata kecewa yang menghampirinya. Kaum muda harus
gigit jari setelah tidak memperoleh apa yang jadi impiannya. Mereka
terkatung-katung dalam pengembaraan khayal tak berujung. Setelah menghabiskan waktu belajarnya sampai
perguruan tinggi dengan biaya yang tidak sedikit, endingnya mereka merana
berkepanjangan. Mereka pun terpaksa bekerja dalam himpitan bakat yang tak
berbanding lurus dengan ilmu yang didapatkan.
Minimnya lapangan kerja di
berbagai sektor di Kabupaten Sumenep membuat mereka tidak betah di tanah
kelahirannya. Mau tidak mau mereka pun hijrah agar tidak tergilas waktu. Mereka
menambatkan impiannya pada lapangan kerja di luar negeri. Seperti di Malaysia
dan beberapa Negara Timur Tengah. Memang sungguh memprihatinkan realita ini.
Ungkapan “gemah ripah loh
jinawi toto tentrem kerto raharjo” merupakan baris kalimat yang
menggambarkan keadaan bumi pertiwi Indonesia. Bahwa bumi nusantara ini kekayaan
alamnya sangat berlimpah dan masyarakatnya tidak galau. Ya, galau akan terhalau
dengan sendirinya kalau kehidupan ekonomi masyarakat sudah makmur.
Sinyalemen galau kaum muda
sejatinya bisa direspons oleh para pemangku kebijakan di daerah. Terutama para
legislatif yang duduk di kursi empuk.
Bukankah legislatif corong suara rakyat yang punya taring tajam.
Semestinya tidak tumpul dalam pembelaan kaum tertindas.
Tingginya angka pengangguran di
Sumenep setiap tahun terus bertambah. Hal ini menjadi bukti konkrit
tersumbatnya regulasi kepala daerah untuk membuka lowongan kerja pada
perusahaan milik daerah setempat. Sesulit apakah dalam membuka lowongan kerja
itu. Jangan tutup mata dan telinga terhadap fakta yang ada. Kaum muda tersebut
adalah anak-anak bangsa yang berhak hidup sejahtera di daerahnya. Kita tidak
pantas mendholimi mereka hanya karena kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Sebab pejabat daerah itu punya
power finansial untuk hal ini. Bangun perusahaan yang bisa menyerap tenaga
kerja di Sumenep. Bukankah hasil tangkap ikan laut di Sumenep begitu melimpah,
hasil cabe rawit petani juga banyak, bahkan tembakau Sumenep pun menjadi
incaran perusahaan rokok raksasa di Pulau Jawa. Tidak bisakah mendirikan
perusahaan yang mampu mengcover seluruh tenaga kerja muda terampil.
Ingatlah kembali dengan ajaran
Islam, bahwa kefakiran itu mendekatkan seseorang pada kekafiran. Kita
menyadari, penduduk Kabupaten Sumenep mayoritas beragama Islam. Tak bisakah
kita meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW yang memikirkan umat lebih dari dirinya
sendiri.

