Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Menara Ekonomi Pasongsongan: Saat Sinergi Melampaui Kompetisi Etnis

Gambar
Dalam teori ekonomi klasik, persaingan seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan. Tapi, Desa Pasongsongan di ujung barat utara Kabupaten Sumenep punya narasi berbeda. Disini, sejarah mencatat bahwa kemakmuran tidak dibangun di atas reruntuhan pihak lain, melainkan melalui sebuah "Menara Ekonomi" yang dipahat bersama oleh etnis peranakan Tionghoa dan warga pribumi Madura. Pasongsongan telah lama jadi titik temu strategis. Kepiawaian dagang etnis Tionghoa yang mengakar kuat di wilayah pesisir bertemu dengan kearifan lokal dan daya tahan warga pribumi. Kolaborasi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan kebutuhan. Etnis Tionghoa membawa jaringan perniagaan yang luas, sementara warga pribumi menyediakan basis sosial dan sumber daya lokal yang tak ternilai. Filosofi Balancing System Titik balik paling menarik terjadi pada era 80-an. Secara perlahan tapi pasti, kendali ekonomi makro yang sebelumnya didominasi oleh etnis Tionghoa mulai bergeser....

Tjoa dan Jejak Sunan Ampel: Narasi Tionghoa Muslim di Tanah Pasongsongan

Gambar
Penulis (kiri) dan Ibnu Suaidi. Di balik pintu kayu jati berusia ratusan tahun di Desa Pasongsongan , tersimpan rahasia sejarah yang menepis segala sekat etnisitas. Salah satunya berada di kediaman Ibnu Suaidi, sosok lelaki yang membawa garis keturunan marga "Tjoa". Rumahnya yang dibangun abad ke-18 di Jalan Ki Abubakar Sidik bukan sekadar bangunan tua, melainkan monumen identitas yang unik: Tionghoa Muslim. Garis Keturunan yang Bertemu Dalam sebuah perbincangan dengan saya di kediamannya, Ibnu Suaidi mengungkap sebuah fakta mengejutkan, tapi bagi warga Pasongsongan adalah kewajaran. "Keluarga besar saya masih ada ikatan keturunan dengan Sunan Ampel," tuturnya pada 1 September 2010 silam. Pernyataan ini bukan sekadar klaim silsilah. Ini adalah bukti bahwa di Pasongsongan, darah Tionghoa dan tradisi keislaman Nusantara telah menyatu berabad-abad. Akulturasi yang Melampaui Ekonomi Peranakan Tionghoa di Pasongsongan memberikan dimensi baru dalam ke...

Jejak Arsitektur Tionghoa dan Sejarah Ekonomi Desa Pasongsongan

Gambar
Rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. Jika Anda menyusuri Jalan Abubakar Sidik di Desa Pasongsongan, Sumenep, langkah Anda akan disambut oleh deretan bangunan tua yang seolah menghentikan waktu. Arsitektur rumah-rumah tempo dulu milik warga peranakan Tionghoa ini bukan sekadar pemandangan estetik; mereka adalah saksi bisu dari sebuah "Imperial Niaga" yang pernah bertahta di ujung barat utaraMadura. Dulu, pelabuhan Pasongsongan adalah urat nadi perdagangan yang sibuk. Di sinilah etnis Tionghoa membangun supremasi ekonomi mereka. Selama beberapa dekade, mereka merajai roda perniagaan tanpa sekat, mengendalikan arus keluar-masuk barang, dan menciptakan era kemakmuran yang sulit terbendung. Bangunan-bangunan kokoh yang kita lihat hari ini adalah sisa-sisa kejayaan yang pernah mereka capai melalui ketekunan di dunia perdagangan. Angin Perubahan Era 80-an Tapi, sejarah memiliki cara sendiri untuk berputar. Memasuki era 80-an, dominasi absolut tersebut mulai mered...

Pasongsongan: Simfoni Tiga Etnis di Pesisir Madura

Gambar
Bentuk rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. Di ujung barat utara Sumenep, Desa Pasongsongan berdiri sebagai bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan beban. Desa ini bukan sekadar titik geografis, melainkan laboratorium sosial tempat etnis Arab, Tionghoa, dan Pribumi (Madura) merajut harmoni tanpa gesekan selama berabad-abad. Kunci kedamaian Pasongsongan terletak pada akar budayanya yang terbuka. Sebelum pengaruh besar Islam dan perdagangan masuk, masyarakatnya telah lebih dulu dipengaruhi nilai-nilai Hindu dan Buddha. Karakter "terbuka" inilah yang jadi modal utama warga lokal dalam menyambut pendatang tanpa rasa curiga. Religi dan Perniagaan Kedua bangsa pendatang memainkan peran strategis yang saling mengisi: Etnis Arab: Hadir dengan pendekatan santun dalam menyebarkan ajaran Islam hingga menyatu dalam spiritualitas warga. Peranakan Tionghoa: Jadi penggerak utama nadi perekonomian melalui jaringan niaga dan pelabuhan. Kedua etnis ini tidak m...

Petis Pancetan: Mahakarya Kuning dari Ujung Barat Utara Sumenep

Gambar
Perahu tradisional Desa Pasongsongan. Di ujung barat utara Kabupaten Sumenep, tepat di perbatasan Pamekasan, berdiri Desa Pasongsongan yang masyhur dengan julukan Desa Petis Pancetan. Lebih dari sekadar bumbu dapur, petis bagi warga Pasongsongan adalah identitas, sejarah, dan nafas kehidupan yang terangkum dalam satu rasa. Petis Pancetan lahir dari kesabaran. Ia bukan produk instan, melainkan hasil olahan air rebusan ikan segar yang dimasak di atas perapian hingga mengental dan pekat. Proses penguapan yang lama ini menciptakan tekstur kuning berkilau dengan cita rasa gurih yang mendalam—sebuah ekstraksi kejujuran masyarakat pesisir dalam mengolah rezeki laut. Bagi penduduk setempat, penganan ini adalah penyelamat meja makan. Di saat sulit, ia hadir sebagai pengganti lauk utama. Tapi di saat senggang, ia menjadi kunci kelezatan rujak pedas yang dinikmati bersama. Di sinilah letak magisnya: Petis Pancetan jadi ruang temu bagi masyarakat Pasongsongan yang majemuk—baik pribumi...

Ketika 'Pintu Rezeki' Tertutup Demi Kebanggaan: Fenomena Warung Madura dan Final DA7

Gambar
Pagelaran Dangdut Academy 7 (DA7) Indosiar di penghujung 2025 bukan sekadar kompetisi menyanyi biasa. Bagi warga Madura   yang ada di Jabodetabek, malam final tersebut menyisakan pemandangan ganjil, sebuah anomali sosial yang jarang terjadi: banyak Warung Madura memilih tutup. Kita semua tahu reputasi legendaris Warung Madura. Ada guyonan populer yang mengatakan, "Warung Madura hanya akan tutup jika hari kiamat sudah berlangsung setengah hari." Etos kerja 24 jam tanpa henti adalah identitas mereka. Tapi, pada malam final Valen (Pamekasan) menuju juara   DA7, etos ekonomi itu sejenak tunduk pada etos solidaritas. Fenomena ini mencatat beberapa hal menarik: Patahnya Mitos 24 Jam: Tutupnya warung-warung ini membuktikan bahwa ada hal yang lebih mahal daripada omzet semalam, yaitu kebanggaan kedaerahan.   Valen bukan sekadar biduan bagi mereka; dia adalah representasi dari perantau yang sukses menaklukkan panggung nasional. Solidaritas Ekonomi: Tidak berhenti pa...

Download Soal PAI SD Kelas 1 Sampai 6 Beserta Kunci Jawaban Terlengkap

Gambar
Redaksi apoymadura.com akan menyajikan soal-soal dan kunci jawaban mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk peserta didik yang duduk di bangku Sekolah Dasar. Selamat belajar!

Jejak Ju’ Keng: Saudagar Tibet di Pesisir Pasongsongan dan Pusaranya di Komplek Sunan Ampel

Gambar
Kiai Muhammad Ersyad (kiri) bersama penulis.  [sh] Desa Pasongsongan di Kabupaten Sumenep tidak hanya dikenal dengan pesona lautnya, tapi juga menyimpan narasi sejarah yang kuat tentang asimilasi budaya dan kejayaan ekonomi. Salah satu tokoh kunci yang jadi akar silsilah masyarakat setempat adalah Ju’ Keng, seorang leluhur berasal dari Tionghoa yang membawa pengaruh besar sejak abad ke-17. Kedatangan Sang Saudagar dari Tibet Menurut penuturan Kiai Ersyad, salah seorang keturunan Ju’ Keng yang kini usianya telah sepuh di Pasongsongan, Ju’ Keng bukanlah pendatang biasa. Ia diyakini berasal dari wilayah Tiongkok Tibet. Ju’ Keng diperkirakan menginjakkan kaki di bumi Sumenep melalui pelabuhan pesisir Pasongsongan pada sekitar abad ke-17 Masehi. Pada masa itu, Pasongsongan merupakan titik strategis bagi perdagangan maritim, lantaran para Raja Sumenep jika hendak melakukan perjalanan laut melalui pelabuhan ini. Kedatangan Ju’ Keng menandai awal mula geliat ekonomi yang sign...