Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Dari Pasongsongan ke Jember: Refleksi 33 Tahun Perjalanan Hidup Syamsul Arifin

Gambar
Pertemuan selalu punya cara sendiri untuk mengaduk-aduk emosi.  Kemarin malam (Selasa, 26 Mei 2026) di sebuah rumah di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, saya duduk berhadapan dengan Syamsul Arifin.  Di rumah saudaranya itulah, ingatan kami mendadak terlempar jauh ke belakang, tepatnya 33 tahun yang lalu. Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.  Pikiran saya langsung memutar kembali memori saat Syamsul masih lajang, belum memiliki istri, dan menjalani kerasnya hidup bersama orang tuanya.  Kala itu, kata "miskin" dan "menderita" bukan sekadar bumbu cerita, melainkan makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Orang tua Syamsul adalah warga asli Pasongsongan yang memutuskan merantau ke Jember demi mengadu nasib.  Di tanah rantau itulah Syamsul lahir dan dibesarkan.  Tanpa modal apa pun kecuali tenaga dan harapan, mereka bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat ketat.  Menatap Syamsul yang sekarang, sulit rasanya melupak...

Membaca Sejarah, Menanam Karakter: Catatan Reflektif Darmawisata Siswa Kelas VI SDN Padangdangan 2

Gambar
Tidak ada yang salah, darmawisata sekolah seringkali diidentikkan dengan sekadar rekreasi melepas penat setelah ujian.  Tapi, bagi kami di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, perjalanan bersama siswa-siswi kelas VI kali ini memuat esensi yang jauh lebih mendalam.  Di bawah bimbingan langsung Kepala Sekolah beserta jajaran dewan guru, kami membawa anak-anak melangkah keluar dari dinding kelas untuk membaca langsung buku peradaban yang terhampar di bumi Sumenep. Sebagai pendidik, kami menyadari bahwa tumpukan teori di dalam kelas kerapkali terasa abstrak bagi siswa.  Oleh karena itu, mendampingi mereka menjelajahi kekayaan daerah sendiri adalah cara terbaik untuk menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap tanah kelahiran. Dari sekian banyak destinasi yang dikunjungi, momen di Asta Tinggi—kompleks pemakaman Raja-raja Sumenep—menjadi puncak perjalanan yang paling menggetarkan hati. Sabtu (23/5/2025).  Tempat ini bukan sekadar situs purbakala atau tu...

Aoleng! Saat Badan Jalan Raya Pasongsongan Berganti Jadi Pasar Tumpah

Gambar
Setiap hari Sabtu dan Selasa pagi, sebuah potret menyedihkan sekaligus menguji nyali tersaji di sepanjang jalan raya Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.  Aoleng (pikiran jadi pusing)! Alih-alih jadi jalur transportasi yang aman dan lancar, fasilitas publik ini berubah menjadi panggung semrawut akibat fenomena "pasar tumpah".  Keberadaannya kini bukan lagi sekadar pusat perputaran ekonomi, melainkan sumber frustrasi, pemicu tingginya tensi emosi pengendara, hingga ancaman nyata bagi keselamatan nyawa. Ada tiga titik utama yang jadi pusat kesemrawutan ini.  Di Desa Pasongsongan, kemacetan parah rutin terjadi di dua lokasi, yakni di depan BRI Pasongsongan dan kawasan simpang tiga Pasar Pao.  Sedangkan di Desa Panaongan, pemandangan serupa terlihat jelas persis di depan Kantor Kecamatan Pasongsongan.  Tiga titik ini mendadak lumpuh setiap kali hari pasaran tiba. Ironisnya, kekacauan ini terjadi bukan karena ketiadaan fasilitas.  Pemerintah sebenarnya tel...

Menakar Ego di Jalan Raya: Potret Menyedihkan Pasar Tumpah Pasongsongan

Gambar
Kecamatan Pasongsongan dikenal sebagai salah satu wilayah yang dinamis di Kabupaten Sumenep.  Tapi, setiap hari Sabtu dan Selasa, kedinamisan itu berubah menjadi momok yang menguji kesabaran.  Pasar tumpah yang digelar di Desa Panaongan dan Desa Pasongsongan kini kondisinya sungguh menyedihkan.  Alih-alih jadi pusat perputaran ekonomi yang tertib, keberadaan pasar ini justru menjelma menjadi titik rawan yang merenggut hak-hak para pengguna jalan. Skenarionya selalu sama setiap pekan: kemacetan mengular, klakson bersahutan, dan tensi emosi para pengendara meninggi.  Mengapa fasilitas publik yang krusial seperti jalan raya harus dikorbankan demi ego segelintir pihak? Ketika Badan Jalan Beralih Fungsi Akar masalah dari kacaunya kondisi ini adalah hilangnya fungsi utama jalan raya.  Seolah tanpa beban moral, sebagian pedagang berjualan "seenak dengkulnya" dengan menggelar lapak hingga memakan badan jalan.  Fenomena ini otomatis memicu efek domino. Ketika lapak ...

Memutar Ulang Waktu di Pasongsongan: Secangkir Kopi Nostalgia Bersama Aji Lahaji

Gambar
Pada medio Maret 2026 yang lalu membawa angin yang berbeda di kediaman saya di Pasongsongan, Sumenep.  Di pertengahan bulan itu, sebuah ketukan di pintu menjelma jadi mesin waktu yang melemparkan ingatan saya jauh ke belakang, tepatnya 28 tahun yang lalu.  Tamu yang datang bukanlah orang asing, melainkan Aji Lahaji—seorang kawan lama, musisi, dan kini seorang pendakwah—yang datang beranjangsana bersama seorang rekannya. Melihat sosoknya yang kini lebih sering menghabiskan waktu di Jakarta, ingatan saya langsung melayang ke tahun 1998.  Sebuah tahun yang riuh, penuh gejolak, dan menjadi saksi awal mula persahabatan kami di sebuah sudut ibu kota: Gang Siaga, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Gang Siaga 1998: Ruang Mimpi Anak Muda Pada tahun 1998, Gang Siaga adalah saksi bisu dari pergulatan hidup kami sebagai anak muda yang sedang menjemput takdir.  Saat itu, Aji adalah seorang pemuda kelahiran Sumenep yang sedang berjuang meniti karier sebagai biduan spesialis dangdut....

Meneladani Agus Sugianto: Totalitas Pengabdian dan Jangkar Kolaborasi Pendidikan di Pasongsongan

Gambar
Dunia pendidikan di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, adalah sebuah ekosistem yang dinamis.  Di dalamnya, ratusan guru dari jenjang TK/RA hingga SMA/MA—baik di sekolah negeri maupun swasta—berjuang setiap hari demi masa depan generasi penerus.  Di tengah tantangan administrasi dan kurikulum yang terus berubah, kehadiran sosok pemimpin yang mampu mengayomi dan merekatkan komunikasi antarlini menjadi sangat krusial.  Sosok itu, bagi banyak pendidik di Pasongsongan, melekat erat pada diri Agus Sugianto. Nama Agus Sugianto bukanlah nama yang asing.  Sebagai Kepala SDN Panaongan 3, dedikasinya tidak lagi terbatas pada pagar sekolah yang dipimpinnya.  Ia telah melangkah lebih jauh, menjadikan dirinya sebagai bagian dari denyut nadi pendidikan di seluruh pelosok kecamatan. Totalitas Tanpa Batas Waktu untuk Kemajuan Pendidikan Salah satu alasan utama mengapa nama Agus Sugianto selalu muncul di setiap lini adalah totalitasnya yang tanpa batas.  Pria dengan ...

Belajar Filosofi 'Lilin Kecil' dari Blangkon Agus Sugianto: Mengapa Kolaborasi Harus Menumbangkan Kompetisi Egois di Sekolah Kita

Gambar
Di era modern ini, dunia pendidikan seringkali terjebak dalam arus kompetisi yang melelahkan.  Sekolah-sekolah berlomba-lomba memoles citra, memperebutkan calon peserta didik baru, dan saling sikut demi status "sekolah favorit".  Keberhasilan pendidikan telanjur diukur secara egois: seberapa megah infrastruktur lembaga sendiri dan seberapa mentereng prestasi internalnya.  Tapi, di tengah riuh-rendah kompetisi yang sarat ego sektoral itu, sosok Agus Sugianto hadir membawa perspektif yang sepenuhnya berbeda. Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep ini belakangan mencuri perhatian publik.  Bukan sekadar karena blangkon khas yang selalu melekat di kepalanya—yang kerap dianggap sebagai sekadar gaya nyentrik—melainkan karena isi kepala dan pola pikirnya yang mendobrak pakem arus utama. Dalam sebuah diskusi pemikiran yang tajam bersama redaksi apoymadura.com, sebuah gugatan yang sangat realistis dilayangkan kepada Agus.  Mengapa ia, sebagai ke...

Mengenal Yamaro Sitompul: Maestro di Balik Lagu Pelabuhan Pasongsongan

Gambar
Yamaro Sitompul, sosok seniman yang membuktikan bahwa dedikasi tanpa batas akan membuahkan karya abadi.  Sebagai musisi berdarah Batak yang kini menetap di Bekasi, ia tidak hanya dikenal karena karakter vokalnya, tapi juga karena produktivitasnya yang luar biasa sebagai pencipta lagu.  Ribuan komposisi lahir dari tangannya dan telah memperkaya belantika musik tanah air, menjadikannya salah satu pilar kreatif yang memberikan warna tersendiri dalam industri hiburan di Indonesia. Kehebatan Yamaro tidak hanya terletak pada kemampuannya merangkai nada secara mandiri, tapi juga pada keterbukaannya dalam berkolaborasi untuk melahirkan visi artistik yang baru.  Sinergi kreatif ini menemukan bentuk nyatanya melalui kolaborasi dalam pembuatan karya-karya musik yang menyentuh hati.  Lewat proses kreatif yang mendalam, ia mampu menerjemahkan ide dan rasa jadi sebuah harmoni yang bisa dinikmati oleh khalayak luas, membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menghub...