Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Sekolah Mati Suri dan Jeritan Guru PPPK Paruh Waktu

Gambar
Tahun ajaran baru tidak selalu membawa keceriaan. Bagi sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang sama sekali tidak mendapatkan murid baru, momentum ini adalah lonceng kematian.  Sekolah yang kosong bukan sekadar statistik, melainkan tragedi "mati suri" yang berujung pada ancaman penutupan. Di balik bangku-bangku kosong itu, ada kecemasan mendalam dari para gurunya.  Bayangkan jika mereka adalah saudara, famili, atau sahabat kita sendiri.  Di era sekarang, tidak sedikit dari mereka yang berstatus sebagai guru PPPK Paruh Waktu dengan gaji pokok hanya Rp 400.000 per bulan.  Satu-satunya harapan agar dapur tetap mengepul adalah Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) atau sertifikasi. Lalu, apa yang terjadi jika sekolah mereka terpaksa ditutup? Regulasi akan memindahkan mereka ke SDN lain.  Tapi realitasnya, sekolah yang dituju biasanya sudah padat.  Akibatnya, guru pindahan ini tidak mendapatkan jam mengajar yang cukup.  Padahal, pemenuhan jam mengajar adalah sya...

Duh, "Niserra" Guru PPPK PW: Sekolah Sepi Murid, Tunjangan Terancam Hangus?

Gambar
Ruang-ruang kelas di sekolah dasar kita setiap hari berdengung oleh kata-kata mulia: empati, gotong royong, dan berbagi.  Kita, sebagai pendidik, dengan penuh khidmat menanamkan nilai-nilai itu ke dalam sanubari para murid.  Kita ingin mereka tumbuh jadi manusia yang peka terhadap penderitaan sesama.  Tapi, sebuah renungan mendalam dari Agus Sugianto, S.Pd., Kepala SDN Panaongan 3, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, baru-baru ini seperti menampar wajah kita semua.  Menurut 'Bapak Pendidikan Pasongsongan' tersebut, saat sistem pendidikan dihadapkan pada ancaman penutupan sekolah yang kekurangan murid, dimanakah letak empati yang selalu kita dengungkan itu? Tahun ajaran baru sejatinya jadi momentum harapan.  Tapi bagi sebagian sekolah negeri yang "mati suri" karena tidak mendapatkan satu pun murid baru, ini adalah lonceng kematian.  Di balik angka nol pada data pendaftaran itu, ada nasib manusia-manusia konkret yang sedang dipertaruhkan. Bayangkan jik...

Menjemput Kemandirian Umat: Catatan Pemikiran dari Sudut Meja Hairul Anwar

Gambar
Siang itu, suasana kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep, terasa hangat.  Kunjungan kekeluargaan saya kepada Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan yang kini mengabdi sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep—berubah menjadi sebuah diskusi yang menyenangkan sekaligus mendalam.  Di balik meja kerjanya, perbincangan kami mengerucut pada satu tema krusial yang jadi pekerjaan rumah kita bersama: kesejahteraan masyarakat Sumenep. Sebagai sosok yang tumbuh dari dunia usaha sekaligus memahami denyut kebijakan di kursi parlemen, Hairul Anwar melemparkan sebuah gagasan yang menantang tapi sangat relevan bagi realitas hari ini.  Ia menekankan betapa pentingnya bagi organisasi kemasyarakatan (ormas) maupun organisasi keagamaan di Kabupaten Sumenep untuk mulai mengubah paradigma: tidak boleh lagi selalu bergantung pada bantuan pihak lain dalam mengupayakan kesejahteraan umat. "Sudah saatnya organisasi-organisasi kita berdikari se...
Gambar
Sebuah diskusi hangat terjadi di kantor Madura Energi di Jalan Basuki Rahmad, Sumenep. Selasa (7/7/2026).  Dalam sebuah kunjungan kekeluargaan, saya berkesempatan bertukar pikiran dengan Hairul Anwar—seorang pengusaha sukses asal Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, yang saat ini mendedikasikan dirinya sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumenep.  Pembicaraan kami tidak jauh dari kegelisahan mendasar tentang masa depan daerah: bagaimana cara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumenep. Sebagai figur yang berangkat dari dunia usaha sekaligus memahami regulasi, Hairul Anwar menitipkan sebuah harapan besar kepada organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan di Sumenep.  Ia menekankan bahwa sudah saatnya organisasi-organisasi ini tidak hanya fokus pada kegiatan seremonial atau spiritual, tapi juga senantiasa membangun pemikiran taktis mengenai pemberdayaan ekonomi wong cilik. Pertanyaannya kemudian, bagaimana format pemberdayaan yang ideal agar masyarakat bawah be...

Sepeda Listrik Menjamur di Pasongsongan: Bisakah Cas Otomatis Lewat Putaran Roda?

Gambar
Pemandangan jalanan di Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, kini kian berwarna dengan hilir mudiknya sepeda listrik.  Kendaraan ramah lingkungan ini telah jadi primadona baru yang memikat berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga kalangan ibu rumah tangga yang menggunakannya untuk berbelanja atau mengantar anak sekolah. Kepraktisan dan efisiensi jadi alasan utama mengapa sepeda listrik begitu cepat menjamur di wilayah ini.  Bagi para pelajar, kendaraan ini mempermudah akses menuju sekolah tanpa perlu menguras tenaga untuk mengayuh atau bergantung pada jemputan orang tua.  Sementara bagi ibu rumah tangga, sepeda listrik dianggap sebagai solusi transportasi jarak dekat yang hemat dan mudah dioperasikan. Tapi, di balik kepopulerannya, ketergantungan pada pengisian daya listrik baterai (charging) masih jadi tantangan tersendiri, terutama saat mobilitas sedang tinggi.  Keterbatasan jarak tempuh ini memicu sebuah gagasan inovatif: b...

Mengenal Program Unggulan SDN Panaongan 3 dalam Membentuk Karakter Siswa

Gambar
Sekolah yang hebat bukanlah sekolah yang hanya melahirkan siswa berprestasi, tetapi sekolah yang mampu membentuk manusia yang berkarakter, beriman, berbudaya, dan peduli terhadap sesama. Di tengah hamparan pesisir utara Kabupaten Sumenep, di sebuah lingkungan yang tumbuh dalam nilai religiusitas, gotong royong, dan kearifan lokal Madura, berdirilah seorang pendidik yang menjadikan pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian.  Sosok itu adalah Agus Sugianto, S.Pd, Kepala SDN Panaongan 3 Kecamatan Pasongsongan, seorang pemimpin pendidikan yang meyakini bahwa perubahan besar dapat dimulai dari sekolah kecil, selama dikelola dengan hati, keteladanan, dan semangat melayani. Bagi Agus Sugianto, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pembelajaran.  Sekolah adalah rumah kedua bagi peserta didik; ruang tumbuh yang memungkinkan anak-anak belajar mengenal diri, menghargai sesama, mencintai budaya, memperkuat iman, dan membangun mimpi-mimpi besar untuk masa depa...

Pengurus Baru MWC NU Pasongsongan 2026–2031: Harapan Besar untuk Kesejahteraan Nahdliyin

Gambar
  Pelantikan Pengurus MWC NU Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 yang berlangsung lancar di Gedung KH Abdul Wahab Hasbullah pada Senin (8/6/2026) bukan sekadar agenda seremonial organisasi.  Di balik prosesi pelantikan tersebut, tersimpan harapan besar dari warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin) yang menginginkan hadirnya perubahan nyata dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan kesejahteraan masyarakat. Ucapan selamat tentu layak disampaikan kepada mereka yang telah menerima amanah untuk mengemban roda organisasi selama lima tahun ke depan.  Tapi, ucapan selamat itu juga harus dipahami sebagai pengingat bahwa jabatan bukanlah sebuah kehormatan semata, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada organisasi, masyarakat, dan Allah SWT. Harapan masyarakat terhadap pengurus baru tidaklah kecil.  Di tengah berbagai tantangan ekonomi, pendidikan, dan sosial yang dihadapi warga, NU sebagai organisasi keagamaan terbesar memiliki peran strategis untuk h...
Gambar
Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan masa khidmat 2026–2031 di Gedung KH. Abdul Wahab Hasbullah, Senin (8/6/2026) lalu, bukan sekadar prosesi seremonial belaka.  Bagi masyarakat Pasongsongan, momen ini adalah babak baru yang membawa estafet kepemimpinan sekaligus tumpukan harapan yang mendesak. Selamat atas dilantiknya para pengurus baru.  Jabatan ini adalah kehormatan, tapi di balik itu, ada tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar di tengah situasi yang sedang tidak mudah. Menjawab Jeritan Akar Rumput: Waktu Kita Tidak Banyak Setiap kali ada pelantikan, doa agar pengurus bersikap "amanah" selalu menggema.  Tapi, apa arti amanah yang paling dinanti oleh warga Nahdliyin Pasongsongan hari ini?  Jawabannya adalah gerak cepat dalam membantu mengatasi kesulitan ekonomi. Fakta di lapangan tidak bisa dimungkiri: saat ini banyak warga Nahdliyin yang terseok-seok dan kesulitan mencari penghasilan di tanah kelahiran...