Dari Pasongsongan ke Jember: Refleksi 33 Tahun Perjalanan Hidup Syamsul Arifin
Pertemuan selalu punya cara sendiri untuk mengaduk-aduk emosi. Kemarin malam (Selasa, 26 Mei 2026) di sebuah rumah di Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, saya duduk berhadapan dengan Syamsul Arifin. Di rumah saudaranya itulah, ingatan kami mendadak terlempar jauh ke belakang, tepatnya 33 tahun yang lalu. Tiga puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pikiran saya langsung memutar kembali memori saat Syamsul masih lajang, belum memiliki istri, dan menjalani kerasnya hidup bersama orang tuanya. Kala itu, kata "miskin" dan "menderita" bukan sekadar bumbu cerita, melainkan makanan sehari-hari yang harus mereka telan. Orang tua Syamsul adalah warga asli Pasongsongan yang memutuskan merantau ke Jember demi mengadu nasib. Di tanah rantau itulah Syamsul lahir dan dibesarkan. Tanpa modal apa pun kecuali tenaga dan harapan, mereka bertahan hidup di garis kemiskinan yang amat ketat. Menatap Syamsul yang sekarang, sulit rasanya melupak...