Syahdu di Ujung Senja: Mengapa Magrib Hari Ini Begitu Berarti
Bagi
umat Islam, waktu Magrib selalu memiliki tempat istimewa. Saat berada di bulan
suci Ramadan—seperti hari ini—Magrib membawa resonansi spiritual yang jauh
lebih mendalam.
Di
detik-detik matahari terbenam, Magrib bertransformasi dari sekadar pembatas
waktu siang dan malam, jadi momen puncak sebuah ketaatan: waktu berbuka puasa.
Sejak
fajar menyingsing, seorang muslim menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Perut
yang kosong dan tenggorokan yang kering bukanlah sebuah bentuk siksaan,
melainkan wujud kepatuhan mutlak kepada Allah SWT.
Ketika
ufuk barat mulai memerah, dilanjutkan dengan azan Magrib bersahutan dari
menara-menara masjid, ada getaran emosi yang sulit dilukiskan.
Itulah
momen saat batas antara kelemahan manusiawi dan luasnya kasih sayang Sang
Pencipta terasa begitu dekat.
Berbuka
puasa tidak pernah sesederhana memuaskan rasa lapar. Sebagaimana yang diyakini
umat muslim, ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: kebahagiaan saat ia
berbuka dan saat ia bertemu Tuhannya kelak.
Tegukan
pertama air atau gigitan kurma manis saat azan berkumandang adalah perayaan
"kemenangan kecil".
Kemenangan
karena telah berhasil menundukkan ego dan dorongan fisik seharian penuh.
Rasa
syukur yang mengalir membasahi kerongkongan, diiringi doa adalah bentuk ibadah
yang sangat personal dan syahdu.
Magrib
di hari puasa juga merupakan waktu yang meruntuhkan sekat-sekat sosial dan
menyatukan umat.
Meja
makan di rumah yang mungkin biasanya sepi, kini jadi tempat berkumpulnya
keluarga. Di jalanan, orang-orang saling berbagi takjil. Di pelataran masjid,
musafir dan warga setempat duduk bersila menghadap hidangan berbuka yang sama.
Saat
Magrib tiba, jutaan muslim membatalkan puasanya secara serentak. Ada keindahan
luar biasa dalam keserempakan ini—sebuah simpul persaudaraan yang mengingatkan
bahwa semua manusia setara di hadapan-Nya.
Magrib
hari ini mengajarkan satu filosofi penting: setiap kesulitan dan ujian pasti
memiliki batas akhir.
Rasa
lelah, lapar, dan dahaga yang tertahan berjam-jam sirna seketika hanya oleh
segelas air.
Begitu
pula dengan ujian hidup; semuanya akan berujung pada kelegaan jika dilalui
dengan kesabaran.
Magrib hari ini bukan sekadar penanda waktu makan malam, melainkan sebuah monumen harian atas kesabaran, rasa syukur, dan penyerahan diri seorang hamba. [kay]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.