Lebih dari Sekadar Kata: Mengapa Kita Masih Perlu Doa Buka Puasa?
Diantara suara denting sendok dan aroma takjil yang menggoda, doa buka puasa seringkali terucap begitu cepat—atau bahkan terlewatkan karena rasa lapar.
Muncul pertanyaan: Jika Allah sudah tahu kita bersyukur, mengapa kita masih dianjurkan melafalkan doa?
1. Jeda Spiritual
Buka puasa adalah momen dimana kendali diri kita diuji dalam sehari. Menunda suapan pertama selama beberapa detik untuk berdoa adalah bentuk pernyataan sikap.
Kita sedang menegaskan bahwa, walau kita amat butuh makan, kita tetap menempatkan Allah SWT di atas rasa lapar.
2. Manifestasi Syukur
Secara psikologis, mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata memperkuat kesadaran kita. Dalam doa, kita menyebutkan secara spesifik bahwa rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah.
Ini adalah cara kita "hadir" sepenuhnya menikmati nikmat air, yang mungkin selama setahun terakhir kita anggap remeh.
3. Waktu Mustajab
Secara teologis, momen berbuka adalah salah satu waktu dimana doa tidak tertolak. Melewatkan doa buka puasa ibarat memiliki kunci gudang harta namun enggan memutarnya.
Ini bukan sekadar ritual, melainkan kesempatan emas untuk memanjatkan harapan-harapan pribadi di saat posisi spiritual kita sedang berada di titik tertinggi setelah berpuasa seharian.
Kesimpulannya, doa buka puasa bukan sekadar syarat sah atau tradisi teknis. Ia adalah "rem" yang manis agar kita tidak jadi hamba rakus, sekaligus "jembatan" yang menghubungkan rasa lapar fisik dengan kepuasan batin. [kay]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.