Berbuka Puasa dengan "Piring Kosong" Negara

magrib hari ini terasa indah di tengah-tengah keluarga tercinta

​Magrib hari ini sungguh syahdu. Aroma takjil ibu jauh lebih jujur daripada janji politik mana pun. 

Kami duduk bersila di tikar, menikmati hidangan sederhana hasil keringat sendiri yang jauh dari bau amis anggaran.

Disini, syukur itu gratis dan mengenyangkan. Tidak seperti proyek megah di luar sana yang katanya mengenyangkan rakyat, tapi justru membuat dompet negara tersedak.

​Mari sejenak mengheningkan cipta untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Sebuah inovasi brilian guna memindahkan angka di kas negara ke kantong para "ahli gizi" bersafari. 

Kita harus prihatin melihat uang rakyat habis demi membiayai kunyahan massal yang konon penuh protein. 

Padahal, aroma korupsi sistematisnya jauh lebih menyengat daripada sambal terasi di meja makan kita saat ini.

​Sungguh sebuah prestasi luar biasa jika korupsi bisa disajikan dalam bentuk paket nasi kotak. 

Negara ini memang kreatif; mengubah gizi jadi celah korupsi, dan ubah lapar jadi proyek. 

Selamat berbuka puasa bagi kita yang makan dengan tenang. Dan selamat berpesta bagi mereka yang sedang "kenyang" memakan masa depan anak cucu kita lewat anggaran. [kay]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna