Berbuka dalam Pelukan Pajak dan Korupsi

miris, masyarakat indonesia banyak yang berbuka puasa seadanya karena perekonomian sulit

​Sungguh syahdu Magrib kali ini. Aroma kolak menyatu pas dengan aroma ketidakpastian ekonomi yang kian menyengat.

Kita duduk bersama, merayakan kemenangan setelah puasa, sembari pura-pura lupa bahwa harga beras sudah lebih galak dari ibu mertua. 

Tidak apa-apa kantong kering, yang penting perut kenyang sesaat sebelum besok kembali memikirkan cara membayar cicilan yang bunganya setinggi cita-cita pejabat kita.

​Pemerintah memang sangat menyayangi kita, sampai-sampai pajak dipungut dengan semangat yang luar biasa heroik. 

Setiap suapan takjil hari ini adalah kontribusi nyata bagi negara, mungkin untuk membiayai renovasi kantor atau perjalanan dinas yang urgensinya hanya Tuhan yang tahu. 

Kita adalah pahlawan tanpa tanda jasa, terus menyetor upeti meski daya beli sudah sekarat di ICU, demi menjaga gaya hidup mewah mereka yang duduk di singgasana sana.

​Sementara itu, para koruptor sedang asyik "ngabuburit" di balik jeruji besi yang konon fasilitasnya lebih nyaman dari kos-kosan mahasiswa. 

Penegak hukum kita pun sangat santun; saking santunnya, mereka segan mengusik tumpukan harta haram yang sudah jadi rahasia umum. Jadi, mari kita nikmati kebersamaan ini dengan khidmat. 

Selamat berbuka puasa, wahai rakyat jelata taat pajak tapi tetap tabah, walau keadilan hanyalah mitos di negeri ini. [kay]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna