Magrib yang Hangat, Sindiran Halus untuk Klaim Nasab dan Akhlak Palsu

magrib hari ini bersama cerita khurafat imigran Yaman

Magrib hari ini terasa lebih hangat. Langit seperti ikut tersenyum. Azan datang pelan, tapi menenangkan. 

Meja sederhana penuh cerita. Ada takjil, ada teh hangat, ada tawa kecil yang lama tak terdengar. Berbuka bersama orang-orang tercinta selalu punya cara untuk menyembuhkan hari letih.

Di sela kunyahan pertama, saya teringat banyak kisah yang beredar. Cerita-cerita khurafat yang dibungkus jubah dan sorban. 

Tentang sebagian imigran Yaman, mengaku keturunan Rasulullah SAW. Katanya darah mulia. Katanya pewaris nasab. 

Tapi tingkahnya jauh dari akhlak yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Lidahnya tajam. Sikapnya tinggi hati. Seolah garis keturunan lebih penting dari garis kebaikan.

Magrib hari ini mengajarkan hal lain. 

Kemuliaan tidak turun dari nama. Ia tumbuh dari laku. Dari cara kita menahan amarah. Dari cara kita memuliakan sesama. 

Di meja berbuka ini, saya belajar lagi bahwa yang membuat suasana indah bukan klaim silsilah, melainkan akhlak yang sederhana dan tulus. 

Dan mungkin, itu warisan paling nyata yang seharusnya dijaga. [kay]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna