Magrib yang Hangat, Sindiran Halus untuk Klaim Nasab dan Akhlak Palsu
Meja sederhana penuh cerita. Ada takjil, ada teh hangat, ada tawa kecil yang lama tak terdengar. Berbuka bersama orang-orang tercinta selalu punya cara untuk menyembuhkan hari letih.
Di sela kunyahan pertama, saya teringat banyak kisah yang beredar. Cerita-cerita khurafat yang dibungkus jubah
dan sorban.
Tentang sebagian imigran Yaman, mengaku keturunan Rasulullah
SAW. Katanya darah mulia. Katanya pewaris nasab.
Tapi tingkahnya jauh
dari akhlak yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Lidahnya tajam. Sikapnya tinggi
hati. Seolah garis keturunan lebih penting dari garis kebaikan.
Magrib hari ini mengajarkan hal lain.
Kemuliaan tidak turun dari nama. Ia tumbuh dari laku. Dari cara kita menahan amarah. Dari cara kita memuliakan sesama.
Di meja berbuka ini, saya belajar lagi bahwa yang membuat suasana indah bukan klaim silsilah, melainkan akhlak yang sederhana dan tulus.
Dan mungkin, itu warisan paling nyata yang seharusnya dijaga. [kay]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.