Langsung ke konten utama

Tidak Tersedianya Bak Sampah di Pesisir Pasongsongan: Dampak Warga Membuang Sampah ke Laut

Pesisir pasongsongan kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep

Pesisir Pasongsongan, sebuah kawasan pesisir yang indah di Kabupaten Sumenep, adalah rumah bagi ribuan warga yang hidup dan bergantung pada laut. 

Namun, salah satu masalah serius yang dihadapi masyarakat padat penduduk di daerah ini adalah ketidaktersediaan bak sampah yang memadai. 

Akibatnya, warga sering kali terpaksa membuang sampah mereka ke laut, yang pada gilirannya mengakibatkan dampak serius terhadap lingkungan dan kehidupan laut.

Tidak adanya bak sampah yang memadai di Pesisir Pasongsongan merupakan masalah yang kompleks dan multifaktor. Beberapa alasan utamanya meliputi:

Pertumbuhan Populasi: Seiring pertumbuhan populasi di daerah ini, jumlah sampah yang dihasilkan oleh warga juga meningkat secara signifikan. Ini meningkatkan tekanan pada infrastruktur pengelolaan sampah yang ada.

Keterbatasan Sumber Daya: Pasongsongan adalah daerah yang sering kali terbatas pada sumber daya, termasuk anggaran untuk pengelolaan sampah. Keterbatasan dana dapat menghambat pembangunan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.

Kesadaran Lingkungan yang Terbatas: Kurangnya kesadaran lingkungan di kalangan sebagian warga juga menjadi faktor penting. Beberapa masyarakat mungkin kurang memahami dampak negatif dari pembuangan sampah ke laut terhadap ekosistem laut dan kesehatan mereka sendiri.

Akses yang Terbatas: Keterbatasan akses ke layanan pengelolaan sampah, terutama bagi warga yang tinggal di permukiman pesisir yang terpencil, juga berperan dalam masalah ini. 

Tanpa akses yang mudah ke tempat sampah yang aman, warga terkadang terpaksa membuang sampah mereka ke laut.

Dampak dari masalah ini sangat serius. Pembuangan sampah ke laut merusak ekosistem laut yang kaya dan beragam di sekitar Pesisir Pasongsongan. 

Sampah plastik, bahan kimia berbahaya, dan limbah lainnya dapat mencemari perairan, membahayakan hewan laut, dan mengganggu mata pencaharian nelayan setempat. 

Selain itu, limbah ini dapat kembali ke pantai, mencemari lingkungan pesisir dan mengancam kesehatan warga.

Untuk mengatasi masalah ini, berbagai langkah harus diambil:

Pembangunan Infrastruktur: Pemerintah setempat perlu berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai, termasuk bak sampah yang ditempatkan secara strategis di seluruh kawasan pesisir.

Kampanye Kesadaran Lingkungan: Kampanye pendidikan lingkungan harus ditingkatkan untuk meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya menjaga lingkungan laut dan cara mengelola sampah dengan benar.

Peningkatan Akses: Upaya harus dilakukan untuk memastikan bahwa semua warga memiliki akses yang mudah dan terjangkau ke layanan pengelolaan sampah.

Kolaborasi Komunitas: Komunitas lokal, LSM, dan nelayan dapat bekerja sama untuk membersihkan pantai dan melindungi ekosistem laut mereka.

Tidak tersedianya bak sampah bagi masyarakat padat penduduk di pesisir Pasongsongan adalah masalah yang mendesak, namun dengan upaya bersama, ini adalah masalah yang dapat diatasi untuk melindungi keindahan alam dan mata pencaharian nelayan setempat.[kaiy]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer PAI di Sumenep tidak Terurus

Catatan: Yant Kaiy Tidak adanya rekrutmen PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) bagi guru PAI (Pendidikan Agama Islam) di lingkungan Dinas Pendidikan Sumenep, menambah panjang penderitaan mereka. Karena harga dari profesi mulia mereka sebagai pendidik dibayar tidak lebih dari Rp 300.000,- per bulan. Rupanya pihak pemangku kebijakan masih belum terketuk hatinya untuk mengangkis mereka dari lembah ketidak-adilan. Sekian lama guru PAI terjebak di lingkaran mimpi berkepanjangan. Impian para guru PAI ini untuk menjadi PPPK menyublim seiring tidak adanya jaminan kesejahteraan. Namun mereka tetap berkarya nyata walau kesejahteraan keluarganya jadi taruhan. Mereka tetap tersenyum mencurahkan keilmuannya terhadap murid-muridnya. Animo itu terus bersemi karena ada janji Allah, bahwa siapa pun orang yang mendermakan ilmu agamanya, maka jaminannya kelak adalah surga. Barangkali inilah yang membuat mereka tidak bergolak dalam menyampaikan aspirasinya. Mereka tidak turu

Panji Gumilang Pesohor Akhir Kekuasaan Jokowi

Catatan: Yant Kaiy Emosi rakyat Indonesia berpekan-pekan tercurah ke Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Panji Gumilang. Episode demi episode tentangnya menggelinding bebas di altar mayapada. Akhirnya, lewat tangan-tangan penguasa ketenangan dan kenyamanan Panji Gumilang mulai terusik. Telusur mereka berdasar pernyataan dirinya tentang beberapa hal yang dianggap sesat oleh sebagian besar umat Islam di tanah air. Cerita tentangnya menenggelamkan beraneka berita krusial dalam negeri. Isu ketidakadilan, kasus besar menyangkut hajat hidup orang banyak menyublim di dasar laut Al Zaytun. Banyak orang bertanya-tanya, seberapa perkasa Panji Gumilang di mata hukum Indonesia. Ia bertakhta atas nama kebenaran walau kadang berseberangan jalan dengan organisasi Islam yang ada. Mungkin baginya, berbeda itu indah. Sekarang tugas penguasa menyembuhkan suasana negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Tidak ada nilai tawar.[] - Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

SDN Panaongan 3 Layak Menyandang Predikat Sekolah Terbaik di Pasongsongan

Agus Sugianto (kanan) bersama Kepala Dinas Pendidikan Sumenep Agus Dwi Saputra. [Foto: Sur] apoymadura.com  - SDN Panaongan 3 terletak di Dusun Campaka Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Lokasinya masuk pelosok dengan jalan rusak ringan. Warga masyarakatnya sebagai besar bekerja di ladang sebagai petani. Musim penghujan mereka bercocok tanam jagung. Musim kemarau masyarakat lebih banyak menanam tembakau.  Ada pula sebagian dari mereka merantau ke kota lain. Bahkan ada yang bekerja di Malaysia, mengadu peruntungan agar kesejahteraan hidup lebih baik. Etos kerja warga masyarakat cukup tinggi. Mereka sadar, putra-putri mereka paling tidak harus punya pondasi keilmuan yang cukup. Agar dalam mengarungi hidup lebih indah, sesuai impiannya. Kendati perekonomian mereka rata-rata lemah, namun masalah pendidikan anak-anaknya menjadi sebuah prioritas. Karena mereka sadar, hidup bahagia itu lebih lestari dengan ilmu. Mereka menginginkan pendidikan putra-putrinya ke tingkat p