Rindu Senja Menjingga: In Memoriam Latif Han
![]() |
| Almarhum Latif Han |
Opini: Akhmad Jasimul Ahyak dan Yant Kaiy
Remang malam membias
diantara langkah kaki, sepintas aku berjalan di pelataran
rumahnya. Sekilas terlintas di benakku bayang samar sosoknya, teduh... Aku terbayang paras
wajah dia
di teras rumahnya sambil duduk bersandar di kursi kesayangannya, aku
mencoba menepikan kerinduan tapi seperti ada angin menepuk bahuku seolah mengajak
kerinduan itu menemaniku.
Sungguh berat untuk melupakan kenangan yang
selalu berdiri tegak di ujung hatiku, karena dia yang selalu tundukkan hatiku di bawah duli,
serta dialah mengajariku
jati diri ke hadirat Ilahi. Rinduku kini meradang akut merengek membujuk temu. Menghampar luas di belantara kidung doa. Sudah kau kuburkan rindumu untukku? kemana harus kuluahkan rasa ini dan
kini aku terkapar seorang diri.
Mungkin aku kini kehilangan senjamu yang sudah menua, yang sudah dituliskan
oleh Sang Maha Kuasa. Padahal sebuah jarak bayangmu masih mengikuti di belakangku,
tapi aku masih mengingat semua kenangan itu sambil aku merapal sebuah namamu dalam
mantra doa setiap waktu. Kepada siapa lagi aku mencari kemaslahatan dikala aku
terpuruk oleh pikiran-pikiran hitam, tidak ada lagi yang dapat membasuh
luka-lukaku yang sudah membusuk. Penglihatanmu barangkali terpejam, tapi aku
yakin selembar hatimu tak akan pernah padam.
Di saat-saat seperti ini aku rindu pada lukisan senjamu yang sudah
menua, karena
bias senjamu
selalu menyinari kehidupan semua insan dan semoga juga sinar senjamu masih tetap
bersinar di Lembaga Ma'arif Pasongsongan
yang engkau tinggalkan.
“Engkau di alam sana tidak mungkin apa-apa,
tapi aku di sini semua tidak bisa apa-apa.”
Selamat jalan! Mengenangmu takkan habis lautan membasahi gersang bumi. Aku
akan menyusul senjamu dan itu pasti.
Pasongsongan, Mei
2020

