Perpustakaan Desa: Mengungkap Sejarah Lokal

Kades Pasongsongan Ahmad Saleh Harianto, S.Pt
Opini: Yant Kaiy
Beberapa bulan yang lalu saya bertanya pada Pendamping Lokal Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Amaruddin, tentang kans apa yang  bisa diusulkan pada Kepala Desa sesuai dengan kapasitas yang saya miliki. Sebab Amaruddin tahu tentang basic dan aktivitas saya selama ini.

Amaruddin menjelaskan tentang parameter yang menurutnya sesuai dengan bakat saya yang bisa dikembangkan ke depannya untuk desa. Parameter itu meliputi: Pengembangan sistem informasi, pengelolaan perpustakaan untuk desa, pengembangan pembinaan sanggar seni, pembuatan jaringan komunikasi dan informasi lokal desa.

Kebetulan saya memiliki dua buku sejarah lokal dan sudah diterbitkan, yaitu: “Syekh Ali Akbar: Menelisik Sejarah Pasongsongan yang Terputus” diterbitkan Rumah Literasi Sumenep, dan “Melihat Lebih Dekat Tiga Objek Bersejarah di Pasongsongan” diterbitkan CV Duta Media Pamekasan. Kedua buku karya saya ini sudah ada ISBN-nya dan penerbitnya bukan abal-abal.

Saya juga membangun media online apoymadura.com dengan mengakomodir karya-karya teman penulis di Desa Pasongsongan. Bahkan ada banyak penulis dari luar kota yang menyumbangkan karya-karyanya ke media online saya tanpa mendapat imbalan apa pun.

Walau website apoymadura.com terbilang masih merangkak, namun pembacanya sudah mencapai seribu orang lebih. Pribadi saya bangga dengan realita ini. Beberapa support dan kritik dari pembaca bermunculan. Hal itu menambah gairah agar saya bisa menyajikan karya tulis terbaik bagi pembaca.

Kerja Sama dengan Pemda
Alhamdulillah saat ini media online apoymadura.com sudah menjalin kerja sama dengan Kepala Desa Pasongsongan Ahmad Saleh Harianto, S.Pt dan Komunitas Therapy Ramuan Banyu Urip Pusat Yogyakarta. Selama ini berjalan dengan baik dan lancar dalam pemberitaan berimbang.

Sedangkan tentang buku, pada Rabu, 6 Mei 2020 kemarin lewat sosial media, owner penerbit CV Duta Media Pamekasan menyarankan untuk mengajukan proposal ke Pemda Sumenep. Menurutnya, buku-buku tentang sejarah lokal semestinya ada di perpustakaan-perpustakaan desa agar masyarakat luas bisa tahu sejarah daerahnya sendiri.

Nah, karena saya memiliki nomer hand phone Kepala Dinas PMD, Moh. Ramli, pada Jum’at (8/5/2020), saya mencoba menghubunginya via sosial media. Saya utarakan maksud dan tujuan serta keinginan itu terhadapnya. Barangkali ada solusi terbaik.

“Buku perpustakaan desa, penawarannya bisa langsung ke masing-masing Kepala Desa atau ke Dinas Perpustakaan Daerah. Kalau lewat Dinas PMD sekadar kebijakan regulasi. Dan di Perbup sudah diamanahkan, terbuka ruang kepada desa untuk dapat menganggarkan buku Perpustakaan Desa dari Dana Desa (DD). Khusus pengadaan buku seperti itu tusinya Dinas Perpustakaan Daerah, bukan tusi (tugas dan fungsi) Dinas PMD,” tulis Moh. Ramli di sosial media yang ditujukan sama saya.

Saya paham benar pernyataan Kepala Dinas PMD tersebut. Namun realita di bawah kebanyakan perpustakaan desa tidak berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Atau saya yang tidak mengetahuinya?

Lalu bagaimana dengan desa Anda? Apakah sudah ada aktifitas orang membaca buku di Balai Desa?

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


LihatTutupKomentar