Tradisi “Molang Areh” di Desa Pasongsongan
Opini: Yant Kaiy
Tradisi “molang areh”
sudah sangat akrab di telinga semua lapisan masyarakat di Kota Keris Sumenep. Biasanya
empat puluh hari dari kelahiran cabang bayi ada tradisi yang dinamakan “molang areh” . Sebuah tradisi turun menurun yang hingga kini tetap lestari,
khususnya di Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura.
Dalam pelaksanaan tradisi ini tuan rumah mengundang sanak
saudara dan para tetangga. Setelah itu dilantunkan shalawat nabi yang dipimpin
oleh seorang kiai atau ustadz. Pada saat mahallul qiyam bayi diletakkan di atas
nampan yang di sampingnya ada gunting dan mangkok berisi air bunga.
Secara bergantian hadirin mencelupkan jarinya ke air bunga
dan disentukan pada kepala sang bayi. Ada pula yang menggunting rambut si bayi
seraya membacakan shalawat nabi.
Kemudian mereka mendoakan si bayi agar menjadi anak yang
berbakti kepada kedua orang tua, guru, dan pemimpinnya. Ia juga didoakan agar
hidupnya sejahtera, senantiasa diberikan hidayah. Dijauhkan dari beraneka
musibah.
Ada kepercayaan dari sebagian masyarakat tentang pelaksanaan
tradisi “molang areh” ini. Kalau bayi
berjenis laki-laki umumnya dihelat empat puluh hari. Tapi jika bayi perempuan
dimajukan karena takut jodohnya lambat. Ada pula kepercayaan kalau tradisi ini
dapat digelar setelah masa nifas si ibu sudah berakhir.
Semua perbedaan-perbedaan kecil itu tetap tidak mengurangi
kesan sakral pada upacara tersebut.
Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com


