Nasib Nelayan Pasongsongan di Tengah Pandemi Covid-19
![]() |
| Perahu nelayan Pasongsongan lagi bersandar di dermaga. |
Apoymadura.com – Desa/Kecamatan
Pasongsongan Kabupaten Sumenep adalah penghasil tangkap ikan terbesar di Pulau
Madura. Setiap harinya nelayan Pasongsongan mampu menghasilkan ratusan ton ikan
berbagai jenis. Biasanya ikan-ikan itu dikirim ke berbagai kota, memenuhi
permintaan pasar dan pabrik.
Para pedagang Pasongsongan itu menjual ikannya ke Surabaya,
Pati, Rembang, Banyuwangi, Pasuruan, Jember, Probolinggo, Tulungagung, Lamongan,
Bali, bahkan sampai ke Jakarta.
“Nelayan tetap di Desa Pasongsongan itu ada 3000 orang
lebih. Sedang nelayan tidak tetap ada sekitar 1500 orang. Nelayan tidak tetap
di sini maksudnya mereka yang memiliki aktivitas lain. Di saat mereka lagi menganggur,
mereka melaut,” ujar Kades Pasongsongan
AS.Harianto,S.Pt. kepada apoymadura.com
ketika berada di Pos Pantau Kesiap Siagaan Covid-19 di Desa Pasongsongan.
Minggu (12/4/2020).
Melimpahnya hasil tangkap ikan nelayan Desa Pasongsongan
semestinya segera mendapat apresiasi dari pihak terkait. Perlu ada suatu ide
brilian. Butuh suatu perubahan agar mereka diuntungkan.
“Selama ini yang menikmati keuntungan adalah orang luar
Pasongsongan. Bukan orang kita. Sebab orang Pasongsongan menjual ikan
mentahnya. Berbeda kalau menjual ikan yang sudah diproses dulu. Harga jualnya
tentu berlipat-ganda,” terang Kades
AS.Harianto atau yang lebih akrab dipanggil Ian.
AS. Harianto mencontohkan. Satu ikan tongkol seharga Rp
10.000,-. Ketika dijadikan pentol bakso ikan
tentu untungnya lebih dari Rp 50.000,- setelah dipotong biaya
lain-lainnya.
“Ini sungguh luar biasa. Anda bisa bayangkan, satu ikan
dapat keuntungan Rp 50.000,-. Potensi ini nyata ada di depan mata. Maka siapa
pun orang yang akan mengembangkan potensi ini untuk kesejahteraan warga masyarakat
Pasongsongan, saya akan mensupport-nya,” tukasnya bersemangat.
Namun setelah adanya pandemi virus corona, nasib nelayan
Desa Pasongsongan menjadi sangat memprihatinkan. Harga jual ikan sangat rendah
karena para pedagang tidak lagi bisa menjual ikannya ke beberapa kota. (Yant
Kaiy)

