Kebakaran
| Get Google |
Pentigraf: Yant Kaiy
Asa Tonah pupus seiring kebakaran melalap rumah dan tokonya.
Ia dan suaminya hanya bisa menangis setelah mendengar kabar kebakaran itu.
Mereka tampak lemas. Tak mempan bujuk dari orang tuanya. Mereka kebetulan
sedang berlibur di kampung, di rumah orang tuanya.
Dengan diantar keluarga besarnya, Tonah menyaksikan
puing-puing bangunan saja. Toko butiknya di lantai satu, tempat tinggalnya di
lantai dua, semua isinya jadi debu. Padahal di situ aset terbesar satu-satunya.
Suatu impian masa depannya.
Tonah berusaha sabar. Tapi itu tidak mudah ditanamkan dalam
batinnya. Sabar seringkali mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan.[]
Pasongsongan, 12/4/2020
