Benarkah Cut Meutia adalah Nyai Agung Madiya?
| Senjata Nyai Agung Madiya warisan dari ayahandanya, Syekh Ali Akbar. (Foto Dok. Bambang DS) |
SUMENEP, apoymadura.com - Nyai Agung Madiya adalah anak perempuan dari Syekh Ali Akbar
Syamsul Arifin (wafat 14 Jumadil Akhir 1000 H/Sabtu, 28 Maret 1592 M). Nyai
Agung Madiya lahir dan besar di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep Jawa Timur.
Nyai Agung Madiya terkenal sebagai panglima perang pemberani
yang dimiliki Kerajaan Sumenep. Dia dan pasukannya seringkali memenangkan
pertempuran di medan perang. Salah satunya ketika Kerajaan Aceh meminta bantuan
kepada Raja Sumenep untuk mengusir tentara kolonial Belanda dari Aceh. Pada
jaman itu yang berkuasa adalah Raja Sumenep ke-29, yakni Raja Bindara Saod
(memerintah 1750-1762).
| Surat tanah dari Raja Sumenep untuk Syekh Ali Akbar atas kemenangan perang di Aceh. (Foto Dok. Bambang DS) |
Nyai Agung Madiya dan prajuritnya mampu menghancurkan
tentara Belanda bersenjatakan modern. Berkat keberhasilannya, Nyai Agung Madiya
dianugerahi tanah luas di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep.
Menurut para keturunan Syekh Ali Akbar yang dikumpulkan apoymadura.com lewat wawancara,
diantaranya: Kiai Haji Muhammad Mustofa Mukammal (Pengasuh Ponpes Al-Istikmal
Pasongsongan), Drs. Kiai Haji Mas Ula Ahmad (Pengasuh Ponpes Assyafi’iyah Desa
Panaongan-Pasongsongan), dan para keturunan Syekh Ali Akbar lainnya. Sebenarnya
Cut Meutia yang ada di Aceh adalah Nyai Agung Madiya.
Korelasi yang memperkuat kalau Cut Meutia adalah Nyai Agung
Madiya, yaitu adanya budaya Zikir Samman di Desa Pasongsongan. Budaya ini tetap
lestari keberadaannya. Setiap haul Syekh Ali Akbar, Zikir Samman tetap digelar
di Astah Syekh Ali Akbar yang terletak di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan
Kabupaten Sumenep Madura.
Zikir Samman dibawa Nyai Agung Madiya dari Aceh. Beliau
sering pergi ke Aceh dan menetap lama di sana. Hingga akhirnya beliau meninggal
di Aceh. (Yant Kaiy)
