Ular Perempuan
Pentigraf: Yant Kaiy
Habis turun hujan cukup deras, tanpa diketahui datangnya,
ular itu ada di depan pintu kamarku. Beruntung ia tak langsung mematuk kakiku.
Segera kuambil sapu menggiringnya ke luar. Sampai di halaman aku bunuh dia.
Lalu kubakar. Ada kepercayaan dari orang-orang di kampung, tujuannya agar ular
tidak datang lagi. Sedari kecil aku sangat penakut ular walau tidak berbisa.
Aku jijik melihatnya.
Ketika bangun tidur aku mendengar suara ular di kamar mandi. Ia terdengar mendesis.
Pelan-pelan aku buka daun pintu.
Bersiaga penuh aku pegang pentungan kayu. Ketika kuayunkan, tiba-tiba
suara wanita berteriak. “Ampun…! Aku Tonah, kekasih gelapmu. Kau sudah gila
apa?” Astaga. Kukucek mata, ternyata benar.
Sejak saat itu aku tak bisa lagi membedakan antara ular dan
perempuan.
Pasongsongan, 4/3/2020
