Sabuk Janur Kuning, Pohon Awar-awar, dan Kidung Jimat, Kearifan Lokal Jawa yang Masih Dipercaya
Opini: Herry Santoso *)
Di tengah hiruk-pikuk yang membarengi merajalelanya Covid 19 di
negeri ini, khususnya di etnik Jawa
muncul kepercayaan masyarakat yg sulit dihilangkan yaitu bersabuk janur kuning dan menanam pohon awar-awar agar terbebas dari keganasan
wabah laiknya virus corona.
Orang Jawa menganggap pandemi Covid 19 sebagai pageblug yaitu fenomena alam yang
ditandai dengan datangnya wabah yakni berjangkitnya suatu penyakit secara
massal dan sulit dikendalikan.
Orang Jawa pra-mellenial menyikapi dengan tatacara adat yang
terkesan nyeleneh ( imposible). Bahkan diam-diam banyak
orang berkultur metropolis pun yang bergegas mempraktikkan "laku"
tersebut.
Mengapa harus janur kuning dan awar-awar ? Secara simbolis
etimologis orang Jawa selalu mengekspresikan kearifan kolal melalui
simbol-simbol yang disebut sanepa.
Janur dari akronim jumudhule nur
sedangkan kuning mrmberikan makna kudu
hening. Secara harfiah dapat dimaknai agar muncul Nur Illahi maka kita harus hening dan konsentrasi ( mengisolasi diri) serta (tidak
lupa) bersujud pada Yang Maha Kuasa (Allah) serta penuh "kehati-hatian" (emergency). Sedangkan pohon awar-awar (ficus septica) memiliki simbolisasi
sebagai penawar ( tawar, tawa, netral ),
yang artinya sebagai media penetral racun, sekaligus mikroorganisne, dan virus
agar tidak bisa masuk ke keluarga kita. Untuk itu, pohon awar-awar tersebut
oleh etnik Jawa di tanam di kedua sudut halaman. Tumbuhan tersebut jika malam
hari akan mengeluarkan aroma (gas) penetralisir racun.
Tolak Balak
Kearifan lokal etnik Jawa tersebut digeneralisasi secara
turun-temurun (descending downward)
dan dipercaya kebenarannya punya daya tangkal magis yang ampuh terhadap suatu
wabah atau pandemi yang saat ini sedang terjadi yakni Covis 19.
Masih satu lagi kearifan lokal yang konon bisa menebar aura
sakti untuk mengatasi wabah yaitu berupa kidung (tembang) Jawa berjenis Dhandhanggula.
Jenis tembang macapat ini dipercaya oleh masyarakat Jawa diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan mempunyai
daya magis yang luarbiasa. Adapun liriknya sebagai berikut :
Ana Kidung
Ana kidung rumeksa ing
wengi
Teguh hayu luputa ing
kelara luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
peneluhan tan ana wani
Miwag panggawe ala
gunaning wong luput
Geni atemah tirta malung
adoh tan ana ngarah mring mami
Guna duduk pan sirna
Terjemahan bebas : Ada lagu berkumandang di tengah malam / yang menjadikan kuat imunitas dan selamat /
terbebas dari penyakit / terbebas dari petaka / jin dan setan pun tidak mau /
segala jenis sihir tidak berani mendekat / apalagi perbuatan jahat / guna-guna
sirna / api jadi air / pencuri pun menjauh dari kita / segala marabahaya akan
lenyap.
Nah, dari klenik Jawa yang sarat filosofi kehidupan tersebut
pada gilirannya menjadi warisan budaya yang adhiluhung
sungguhpun zaman semakin melejit sundul langit. Lebih-lebih tatkala orang-orang
kian dilanda kepanikan, berbagai kearifan lokal akan kembali bermunculan dan
menjadi khazamah budaya yang plural
sebagai perekat nasional kebangsaan (nation
and character building) di antara kebyar kehidupan metropolistik yang
secara substansial ditandai life style
utilitas pengagungan kebendaan kaum borjuis yang paradoks dengan kehidupan
kerakyatan terutama rakyat bawah ( the
lower class ) yang berlumur kebersahajaan.
-------------ooo-----------
*) Herry Santoso adalah pemerhati masalah sosial-politik dan budaya koordinator jurnalis Jurnalfaktual.id Jawa Timur menetap di Blitar


