Pisau Asmara


Pentigraf: Yant Kaiy
Jiwa dan ragaku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Debur telah menancapkan pisau asmaranya tepat di jantungku. Maka setiap detak jantungku ada namanya. Dalam pikiranku ada bayang wajah tampannya. Padahal aku kenal Debur hanya satu bulan yang lalu.

Dia penuh perhatian. Tak ada kesan kalau sikapnya dibuat-buat. Dia sangat terbuka dan senang berbagi. Dan dia paling tidak suka kepada perempuan yang munafik.

Aku menerima cintanya karena ada banyak kesamaan. Dia tidak sombong. Sangat menghargai lawan bicaranya. Tapi sayang, gajiku lebih tinggi darinya hampir separuhnya.

Pasongsongan, 20/3/2020


LihatTutupKomentar