Pencuri Hati
Pentigraf: Yant Kaiy
Pencuri itu telah merampas kebahagiaanku. Aku mengetahuinya
tapi tak berani menangkapnya. Tak ada
bukti kongkret yang bisa menjerat dia.
Lalu dia begitu leluasa menjajah kebebasanku. Ia seolah tak peduli kalau orang lain
bahagia atas semua pesonanya.
Akhirnya aku mulai jatuh cinta terhadapnya. Aku akui kalau
dia seorang lelaki tahan banting, tak menyerah sebelum janur kuning melengkung
di depan rumah. Padahal aku sebelumnya mengincar seseorang yang menurutku akan
mendatangkan kesejukan. Tapi yang aku dambakan jauh panggang dari api.
Sebagai perempuan aku tak bisa mengambil jalan pintas,
lantaran banyak tikungan norma agar kebebasan tidak kebablasan. Manusia punya
akal, beda dengan binatang yang bebas-lepas tanpa sedikit rasa malu. Walau dia
merdeka didalam mencintaiku, namun dia tidak bisa memporak-porandakan segala
yang aku miliki.
Pasongsongan, 9/3/2020
