Tinta Islam di Madura

Hasil gambar untuk Astah buju' Panaongan
Foto: Pintu Gerbang Astah Buju' Panaongan
               
SUMENEP, apoymadura.com - Menakar Islamisasi di Pulau Madura yang sekarang mayoritas penduduknya beragama Islam tak lepas dari kajian empiris dari situs, budaya,  tradisi, dan kearifan lokal. Hal yang mustahil kalau kehidupan suatu daerah tidak memiliki catatan sejarah yang melingkupinya. 

Masing-masing obyek di alam semesta ini tentu mempunyai nilai kausalitas sehingga terbentuklah sebuah paket histori. Berpijak dari sinilah kita akan lebih mendekati kepada telaah yang sudah ada sebelumnya. Sebab agama Islam di Madura bukan hasil simsalabim habba kadabra. 

Proses  Islamisasi di Pulau Garam ini membutuhkan waktu cukup panjang karena agama penduduk Madura sebelumnya bukan Islam. Maka akan diperlukan srategi jitu untuk bisa menembus gunung keyakinan mereka. Diperlukan siasat piawai untuk membelah batu kepercayaan mereka yang sudah lama diwarisi leluhurnya. 

Sebuah mega proyek yang memerlukan perjuangan dan pengorbanan spesial dari mereka berjiwa ikhlas. Orang-orang berjiwa bijaksana lahir-batin inilah di jaman dahulu sebagai pelopor tanpa pamrih, menembus sekat budaya dan tradisi penduduk setempat.
               
Di Bangkalan misalnya, sejarah perkembangan Islam di kabupaten paling barat di Pulau Madura ini diawali dari masa pemerintahan Panembahan Pratanu yang bergelar Lemah Duwur. Panembahan Pratanu diangkat menjadi raja pada 24 Oktober 1531 dan dirinya sudah memeluk agama Islam. 

Panembahan Pratanu belajar Islam kepada Patih Empu Bageno. Sedangkan Patih Empu Bageno mempelajari Islam dari Sunan Kudus atas perintah ayah Panembahan Pratanu yang bernama Raja Pragalba. 

Sebagai orang yang memiliki power kekuasaan, Panembahan Pratanu menyebarkan Islam tanpa mengalami kesulitan di daerah Arosbaya, sekitar 20 km dari Kota Bangkalan ke arah utara. Kendati Islamisasi di Bangkalan berangkat lewat tangan sang penguasa itupun tidak serta-merta masyarakatnya muslim, karena hanya penyebarannya yang mudah. Sementara untuk menjadikan muslim mayoritas masih memerlukan proses panjang dalam tempo yang cukup lama.
               
Tidak mudah membulatkan pipa besi yang lurus hanya dengan tangan kosong. Dibutuhkan suatu media/alat dengan tata cara yang baik agar hasil akhir sesuai dengan harapan. Begitu pula dengan proses penyebaran agama Islam di Madura. Kita tentu sudah banyak tahu tentang karakter orang Madura yang “keras” karena alam/lingkungan telah mempengaruhinya sedemikian rupa. 

Tapi setelah masuknya ilmu Islam ke batin mereka, akhirnya watak dan sikap mereka berubah 180 derajat. Mereka kemudian memiliki sifat kelembutan yang membanggakan, seperti yang diajarkan Baginda Nabi Muhammad SAW. 

Itulah indahnya Islam sehingga banyak penganut-penganut baru bermunculan di bumi Madura.
               
Adalah Panembahan Ronggosukowati sebagai raja pertama Pamekasan yang secara terang-terangan mengajarkan agama Islam kepada rakyatnya. Beliau menggantikan kedudukan ayahandanya yang sudah tua, Pangeran Nugeroho alias Bonorogo. 

Panembahan Ronggosukowati memerintah Pamekasan sekitar paruh kedua abad XVI, ketika pengaruh Mataram mulai masuk Madura. Panembahan Ronggosukowati muda belajar Islam kepada Sunan Giri atau Raden Paku. 

Konon Panembahan Ronggosukowati menyiarkan Islam di Pamekasan bersama seorang santri Sunan Giri bernama Sayyid Muhammad bin Abdurrahman bil Faqih.
               
Menurut beberapa literatur tentang sejarah dan perkembangan Islam di Pulau Madura memang banyak telaah. Berbagai riset mengetengahkan data sebagai pijakan opininya mengemuka ke tengah-tengah publik. 

Ada sebagian yang pesimistis terhadap banyak kajian tersebut karena riset mereka cukup lemah. Namun ada pula yang bergairah dan tersentak merespons temuan anyar terhadap peninggalan jejak sejarah baru. 

Seperti penemuan jejak sejarah Islam yang ada di Desa PanaonganKecamatan Pasongsongan Sumenep. Astah Buju’ Panaongan  menurut beberapa pemerhati sejarah adalah sebagai titik paling awal Islam ada di Madura.
               
Pada catatan di babad Sumenep diterangkan kalau masuknya agama Islam pertama ada di Pulau Sapudi. Pulau yang masih masuk wilayah administrasi Kabupaten Sumenep ini digadang-gadang memiliki andil awal dalam penyebaran agama Islam. 

Adalah Sayyid Ali Murtadha (kakek dari Adi Poday dan Adi Rasa) yang datang ke Pulau Sapudi sekitar tahun 1400-an yang bersama puteranya bernama Pangeran Pulang Jiwo atau lebih dikenal dengan nama Panembahan Belingi.
               
Narasi ini sepertinya “rontok” setelah ditemukannya kuburan para  syekh di Desa Panaongan. Suka tidak suka terhadap kenyataan sejarah ini memang diperlukan lagi sebuah riset menyeluruh terhadap keberadaan Astah Buju’ Panaongan sebagai pembuktiannya. 

Penemuan makam bernama Syekh Abu Suhri yang wafat 1281 menunjukkan sebuah realitas yang tidak bisa dibantah lagi. Ada lagi kuburan Syekh Al-Arif Abu Said yang wafat 1292. Penemuan ini semakin memperkuat keberadaan Islam di Desa Panaongan. 

Jelas dan meyakinkan kalau di abad ke-11 Islam sudah berkembang ‘terbatas’ di daerah ini karena mereka menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi seperti yang diterangkan oleh KH. Ismail Tembang Pamungkas. 

Syiar Islam dengan metode sembunyi-sembunyi ini sengaja para waliyullah sikapkan karena mereka tak menghendaki terjadi sesuatu hal yang bisa menyebabkan dirinya terkucil dari lingkungannya. Kalau ini terjadi, sudah dipastikan yang rugi adalah dirinya sendiri. 

Dari sikap sembunyi-sembunyi arifbillah inilah yang menyebabkan tidak terdatanya mereka di museum sejarah Kabupaten Sumenep.
               
Ada memang sebagian pengamat sejarah yang meragukan dan mempertanyakan keabsahan sejarah Islam di Panaongan. Itu boleh-boleh saja sepanjang mereka mau menelisik lebih dekat tentang keberadaan Buju’ Panaongan tidak hanya dari satu sisi saja. Tak bijak rasanya kalau kita hanya menelaah dari perspektif kuantitas semata. 

Sebab Astah Buju’ Panaongan adalah obyek peninggalan bersejarah yang terputus akibat wabah tha’un. Orang-orang yang terkubur di sana diperkirakan hidup di abad ke-11. Maka kita harus menguliti tentang adanya bekas pondasi pondok pesantren di sekitar Astah Buju’ Panaongan yang diperkirakan sebagai berdirinya pondok pesantren tertua di Madura. 

Kita harus mengupas tuntas tentang sejarah pelabuhan Pasongsongan yang tercatat sebagai pelabuhan pesisir pantai utara terbesar di wilayah Madura. Dan pelabuhan Pasongsongan ini tercatat pula sebagai tempat mendaratnya para waliyullah etnis Arab. 

Hasil gambar untuk Kh. Ismail paberasan
K.H. Ismail Tembang Pamungkas


Kita harus juga mempelajari tumbuh-kembang etnis China yang ada di Pasongsongan yang menjadi penggerak utama majunya perniagaan di daerah tersebut. Mau tidak mau juga kita mesti berbenturan dengan keberadaan sosok Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin yang tak lain adalah paman dari Raja Sumenep Bindara Saod. 
Hasil gambar untuk Astah Syek Ali Akbar Pasongsongan
Foto: Daun pintu Astah Syekh Ali Akbar
Pernak-pernik seperti budaya, tradisi, adat-istiadat juga membutuhkan kajian yang komprehensif agar semuanya menjadi terang benderang. Jernih dan tidak diragukan. Elemen-elemen inilah yang perlu diperjelas dari beberapa riset dan observasi lapangan, bukan sekadar merujuk pada daftar pustaka.
               
Sama sekali bukan tujuan para tokoh sejarah Desa Panaongan ingin “merampok” eksistensi beberapa temuan sebelumnya yang mengatakan kalau Islam lebih awal ada di tempat lain. Beberapa tokoh agama di Desa Pasongsongan dan Panaongan sama sekali tidak antipati dengan “celoteh”  dari sosok yang berlabel sejarawan. 

Oleh karena itu mereka tetap menghargai berbagai temuan yang direkontruksi oleh beberapa kalangan sebagai wujud ikhtiar dari dedikasi yang dimilikinya. Tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk  menuliskan sejarah Desa Panaongan di buku. 

Namun mereka  mempunyai kapasitas meniscaya, sebab mereka lahir dan besar di Panaongan. Mereka tidak akan bisa mengelak dari fakta yang ada. Bukan dari mitos, melainkan situs peninggalan yang riil. 

Seperti Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin yang meninggal tahun 1000 Hijriah. Tulisan tersebut ada di daun pintu Astah Syekh Ali Akbar. Atau tulisan yang terdapat di nisan Syekh Al-Arif Abu Said (wafat 1292) dan Syekh Abu Suhri (wafat 1281) di Astah Buju’ Panaongan.


Kontroversi
Ada beberapa orang yang mengatakan kalau tahun yang tertulis di Astah Buju’ Panaongan adalah Hijriah. Berarti keberadaan Astah Buju’ Panaongan ada setelah Astah Syekh Ali Akbar yang ada di Dusun Pakotan Desa/Kecamatan Pasongsongan Sumenep.

Akan tetapi K.H. Ismail Tembang Pamungkas (da’i, pengasuh thoriqoh di Desa Paberasan Sumenep) sangat yakin jika adanya orang-orang yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan lebih awal ketimbang turunnya Wali Songo di Pulau Jawa.

Jika memegang pendapat K.H.  Ismail Tembang Pamungkas, berarti Astah Buju’ Panaongan lebih awal ketimbang Syekh Ali Akbar. (Yant Kaiy)


Bibliografi
Graaf, H.J. De, (1990), Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, Jakarta: Pustaka Grafiti.
---------------, (1987), Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati, Jakarta Utara: Pustaka Grafitipers.
Kaiy, Yant, (2019), Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin: Menelisik                             Sejarah Pasongsongan yang Terputus, Sumenep: Rumah Literasi.
Susanto, Arif, (2015), Pasongsongan Tanah Mardikan: Perspektif Sejarah dan Pengembangan Potensi Wisata di Kecamatan Pasongsongan, Sumenep: Kantor Kecamatan Pasongsongan.
Abdurachman, (Tjetakan II), Sedjarah Madura Selajang Pandang, Sumenep: Pertj. Automatic The Sun.
Al-Humaidi, Muh. Ali, (2010), Cina dalam Bingkai Islam Pesisir, Pamekasan: STAIN Pamekasan.
Raffles, Thomas Stamford, (2008), The History Of Java, Yogyakarta: Narasi
Bachtiar, Tiar Anwar, dkk, ((2002), Sejarah Nasional Indonesia Perspektif Baru, Bogor: Aiems.
Fauziah, Wiwik, dkk, (2010), Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, Sidoarjo: CV. Orion.
Mestu, Slamet, (2003), Pemakaman Raja-raja Bangkalan: Makam Aer Mata, Bangkalan: Kasi Kesenian, Pengemb. Bahasa dan Budaya, Dinas P dan K.
de Jonge, Huub, (1989),  Madura dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam, Jakarta: Gramedia.
Gunawan, Restu, (2017), Sejarah Indonesia, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Vlekke, Bernard H. M, (2008),  Nusantara: Sejarah Indonesia,  Jakarta: Gramedia.
Ahmad, Zainollah, (2019), Tahta di Timur Jawa: Catatan Konflik dan Pergolakan pada Abad ke-13, Yogyakarta: Matapadi Presindo
Hardjowigeno, Sarwono, (1995), Ilmu Tanah, Jakarta: Akademika Pressindo.
Syamsu As, Muhammad, (1999), Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya, Jakarta: Lentera.
Hartono Hs, Bambang, (2001), Sejarah Pamekasan: Panembahan Ronggosukowati Raja Islam Pertama di Kota Pamekasan-Madura, Sumenep: Nur Cahaya Gusti.
Mansurnoor, Lik Arifin, (1990),  Islam in an Indonesia World Ulama of Madura, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Darmawijaya, M. Isa, (1990), Klasifikasi Tanah (Dasar-dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia), Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kasdi, Aminuddin, (2003), Perlawanan Penguasa Madura atas Hegemoni Jawa, Yogyakarta: Penerbit Jendela.
Mahasin, Aswab, (1996),  Ruh Islam dalam Budaya Bangsa, Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.
Azra, Azyumardi, (1999), Jaringan Ulama: Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan.


LihatTutupKomentar