Pondok Pesantren Tertua

Madun, S.Pd. (kanan) dan
Yant Kaiy (kiri)
SUMENEP, apoymadura.com - Penemuan Astah Buju’ Panaongan  di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Jawa Timur menggemparkan masyarakat luas.ini ada satu  keterkaitan dengan sejarah tentang adanya pelabuhan besar di Desa Pasongsongan dan pondok pesantren tertua di Pulau Madura. Menurut Sri Sundari, ini sangat relevan dengan peninggalan situs bekas pondasi yang ada di sebelah timur dari penemuan Astah Buju’ Panaongan.
               
Situs bekas pondasi itu menurut beberapa tokoh agama dan tokoh adat yang ada di Panaongan juga diyakini sebagai bekas bangunan pondok pesantren. Sedangkan ustadznya adalah orang-orang yang dikebumikan di Astah Buju’ Panaongan. 

Seperti yang pernah Sri Sundari dengar dari kakeknya dulu, bahwa para pengajar di pondok pesantren tersebut umumnya dari Negara Timur Tengah. Dan para santrinya dari Aceh, Sulawesi, Jawa, dan Madura. 

Pada masa penjajahan Jepang, bekas bangunan orang-orang alim itu dijadikan tangsi/barak oleh tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka bangunan bersejarah itu runtuh dimakan usia karena tidak ada keturunan yang merawatnya. 

Memang keturunan para orang alim itu lenyap tak tahu rimbanya. Pertanyaan besar tetap menggantung di benak banyak orang. Lantas kemanakah keturunan para alim yang ada di Astah Buju’ Panaongan tersebut? 

Sri Sundari berpendapat, sebagian keturunan yang tersisa itu turut berpetualang menyebarkan agama Islam. Tidak tinggal di Panaongan lagi karena masyarakat di Panaongan dan sekitarnya sudah mandiri dalam menjalankan ritual ibadah yang telah diajarkan mereka. 

Sebagian besar dari mereka berpencar menyebar ke pelosok negeri yang mengemban misi untuk mengabarkan tentang ajaran Islam.  Sebuah paham yang mengajarkan kedamaian dan persaudaraan bagi manusia, karena agama Islam adalah agama yang mendatangkan rahmat bagi sekalian alam.
               
Tidak ada unsur paksaan dari para arifbillah itu terhadap masyarakat Panaongan untuk pindah ke agama Islam. Mereka pindah dari agama nenek-moyangnya dengan inisiatif sendiri. Masyarakat Panaongan berlomba-lomba memeluk Islam pada abad XI.
               
Madun,S.Pd. memperkuat argumen Sri Sundari, bahwa kebanyakan keturunan dari para ustadz berdarah Arab itu berkelana ke penjuru negeri sesuai kata hatinya. Tujuannya ingin menyebar-luaskan ajaran Baginda Nabi Muhammad SAW. ke seantero alam jagad ini. 

Tekadnya sangat bulat sesuai dengan ajaran Islam yang dianutnya, bahwa menyampaikan ajaran agama tidak boleh setengah hati, harus totalitas. Mereka lebih mementingkan agama daripada kepentingan lainnya. Sebab iman tidak bisa dibeli dan tidak ada toko yang menjualnya. Maka tinggallah sebagian keluarga dari mereka yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan.
               
Sungguh luar biasa pengorbanan mereka. Demi peradaban Islam yang cerah menerangi langit Pulau Madura, mereka rela bercerai-berai dengan keluarganya. Mereka angkat kaki dari tanah kelahirannya demi sebuah tujuan mulia, menyampaikan risalah Islam. 

Terpisah oleh jarak dan waktu berkelana. Mengarungi samudera luas dari Negeri Timur Tengah dengan nyawa taruhannya. Ombak dan badai tak membuat nyalinya ciut. Sungguh menakjubkan perjuangan dan pengorbanannya.
               
Demi kemajuan Islam di bumi nusantara mereka tidak peduli lagi dengan impian gemerlap dunia  seperti layaknya manusia di jaman sekarang. Sungguh hebat perjuangan mereka, melepaskan pernik-pernik kenikmatan dunia yang sesaat, mengejar akhirat untuk surga yang dijanjikan Allah SWT. Subhanallah.
              
Setelah para waliyullah Buju’ Panaongan berhasil menancapkan akidah Islam ke tengah masyarakat, mereka tidak serta-merta berhenti. Mereka yang tidak kenal lelah terus memperkokoh keimanan jemaahnya dengan mengadakan pengajian dan ceramah agama pada setiap kesempatan. 

Kemudian para keturunan mereka juga tidak tinggal diam saja. Estafet dakwah dilanjutkan kaum muda yang menyebar ke segenap penjuru negeri ini.
               
Sayangnya sebagian dari mereka yang sudah jauh mengembara juga tidak kembali lagi ke pangkuan leluhurnya yang ada di Panaongan. Mereka berkelana  tak tahu ke mana kaki melangkah. Mereka menyusuri lorong waktu. 

Jadi putuslah mata rantai dari silsilah orang-orang mulia yang terkubur di Astah Buju’ Panaongan. Mereka pun kemungkinan besar telah meninggal di dalam pengembaraannya menyiarkan agama Islam di bumi nusantara.
               
Andai saja keturunan dari para arifbillah ini ada yang kembali ke Panaongan, meneruskan pondok pesantren yang telah dibangunnya, barangkali ceritanya akan beda. (Yant Kaiy)
Hasil gambar untuk Astah buju' Panaongan
Astah Buju' Panaongan di
Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan
Sumenep-Madura
Narasumber: - Sri Sundari (warga Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep).
                    - Madun, S.Pd. (warga Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep). 
LihatTutupKomentar