Gaji Guru Honorer tidak Manusiawi

Hasil gambar untuk Gambar kartun guru mengajar
Opini: Yant Kaiy

Seorang guru honorer menghidupkan kendaraan roda duanya. Sepatu mengkilat. Celana sudah diseterika tadi malam. Baju lengan pendek kelihatan masih bagus. Rambutnya pendek dan rapi. Aroma wewangian menyegarkan penampilan. Layaknya seorang PNS ia melaju ke salah satu Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura.

Berangkat jam 6.30 WIB dari rumahnya, pulang jam 12.00 WIB. Begitulah rutinitas tiap hari tanpa henti. Bahkan ada guru honorer yang lebih rajin dari guru yang sudah PNS. Satu kepedulian tulus. Ia menyadari betul kalau itu tanggung jawabnya.

Ketimbang menganggur, mending mengajar. Hitung-hitung beramal untuk akhirat. Begitulah ungkapan yang sering terdengar ketika seorang guru honorer ditanya soal bayaran. Kalau masih bujang cukup untuk beli sabun, pasta gigi, shampo, deodorant, hand body, minyak rambut, parfum, plus bensin untuk berangkat mengajar.

Tapi apabila sudah berumah tangga, ini yang jadi masalah. Karena bayaran seorang guru honorer Rp 10.000,- per sekali mengajar. Sungguh memprihatinkan. Tapi itulah realitas di lapangan yang terjadi. Realitas yang semua pejabat tahu akan nasib seorang guru honorer. Bahkan presiden pun tahu akan hal ini. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Sedikitnya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ijasah yang ia dapatkan, akhirnya ia terjebak ke lembah sangat dalam. Ia tak berkutik. Akhirnya ia menyerah. Sebab tidak ada alternatif lain yang bisa mengangkisnya. Ia terombang-ambing di lautan khayal berkepanjangan. Apalahi pengabdiannya sebagai guru tidak sebentar. Rata-rata mereka mengajar lebih 15 tahun. Ini bukan waktu sebentar.

Kalau dibandingkan dengan keponakan saya, bayaran seorang cleaning service di sebuah kantor pemerintah di Kabupaten Sumenep berkisar Rp 650.000,-. Keponakan saya ini melamar memakai ijasah SD. Sedangkan guru honorer ijasahnya S1. Bagai langit dan bumi upah guru honorer versus cleaning service.

Saya tidak habis pikir dengan kenyataan ini. Tak bisakah upah guru honorer itu dinaikkan agar taraf hidupnya mendekat pada tipe agak sejahtera. Mereka juga anak bangsa yang peduli pada murid-muridnya.
Jangan lagi iming-imingi mereka dengan senandung  pujian: Menjadi guru adalah pekerjaan sangat mulia.


LihatTutupKomentar