Surat untuk Debur
Cerpen: Yant Kaiy
Debur menerima surel dari sahabatnya, Angga. Dia satu SMA
dengan Debur. Banyak cerita telah mengiringi persahabatan keduanya. Tak ubahnya
seperti saudara sendiri, karena ke mana-mana mereka selalu berdua.
Kini mereka terpisah. Debur masih berada di tanah kelahirannya.
Sedangkan Angga telah berada jauh di kota lain, ikut istrinya. Debur pernah
sampai ketempat tinggal istri Angga: Di sebuah kampung yang indah di lereng
gunung.
Jalan beraspal rusak adalah akses menuju ke beberapa kantor
di kecamatan yang penduduknya banyak bercocok tanaman.
“Sahabatku, Debur.”
“Aku tidak kerasan di sini. Banyak problema keluarga
telah melukai hati ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika akan ada badai
di perjalanan biduk rumah tanggaku. Kami terus berusaha berbenah dan bergegas
meninggalkan segala kecewa. Segala bentuk penyesalan.”
Debur mulai serius menyimak surel dari smartphonenya.
“Inti persoalan itu bukan dari istriku. Tapi dari mertua
perempuanku. Aku dibuatnya serba salah, padahal menurutku sudah benar. Seperti
contohnya kemarin, aku menghidupkan mesin pompa air. Aku penuhi bak kamar mandi
dan dapur agar semuanya menjadi lancar
mengerjakannya dan cepat selesai.”
Sebelumnya Debur duduk di bibir ranjang, ia pindah ke kursi
dan menyeruput kopi hangat.
“Tapi apa yang terjadi, mertuaku ngomel karena semestinya
tidak usah dipenuhi dulu bak kamar mandi. Mendingan menanak nasi dulu pakai
rice cooker. Sebab kalau menanak nasi bersamaan menghidupkan pompa air biasanya
lampu tidak kuat. Jadi harus bergantian. Aku hanya bisa mengelus dada. Pekerjaanku
jadi tidak ada artinya.”
Sebatang rokok terselip di bibir Debur. Lalu ia menyulutnya.
Asap nikotin itu memenuhi kamar tidurnya.
“Tadi pagi aku menuruti keinginan ibu mertuaku yang
kemarin. Tapi ternyata salah juga. Ia bilang, seharusnya dipenuhi dulu bak
kamar mandi baru menanak nasi. Lagi-lagi harga diriku tak bermakna di mata ibu
mertuaku.”
Debur terbatuk demi asap sigaret kretek terlalu banyak
terhisap.
“Ini memang tidak terlalu sakit. Seminggu yang lalu, ibu
mertuaku bilang kepada para teman kerjaku, bahwa aku kalau ada di rumah hanya
tidur saja. Padahal kalau aku pulang kantor biasanya langsung menyabit rumput
untuk sapi mertuaku. Sore hari aku berkebun di belakang rumah. Malam hari aku
menyelesaikan tugas-tugas kantor. Pagi harinya, mencuci pakaianku dan istri.
Setelah itu aku berangkat ke kantor.”
Satu usapan lagi surel Angga selesai.
“Doakan agar aku bisa punya rumah sendiri. Bahwa hanya
dengan jalan inilah persoalan rumah tangga kami aman dan tenang!”
“Amin,” ujar Debur lirih seraya meletakkan hape androidnya
di meja.
Pasongsongan, 2019
