Peradaban Panaongan Jaman Duhulu
.
| Foto: Astah Buju' Panaongan Pasongsongan-Sumenep |
Sekitar abad XI pelabuhan pesisir pantai Pasongsongan adalah pelabuhan
yang terbesar di wilayah Pulau Madura. Selain sebagai tempat bongkar-muat
barang, pelabuhan Pasongsongan juga menyediakan perahu jenis tengkong sebagai
sarana transportasi penumpang.
Tengkong adalah jenis perahu yang
kanan-kirinya ada bambu menyentuh air yang gunanya sebagai penyeimbang. Perahu
jenis ini tahan ombak dan angin. Ia akan terus membelah laut mencapai tujuan. Sangat
aman untuk sebuah perjalanan jauh sekalipun.
Perahu buatan nelayan Panaongan
ini cukup handal dalam mengarungi samudera luas sekalipun. Menurut beberapa
nelayan Pasongsongan, perahu jenis tengkong ini belakangan ditiru oleh
beberapa nelayan lain di Madura. Masyarakat
di daerah tersebut sudah bisa membikin perahu sendiri sebelum abad XI.
Garansi
keselamatan penumpang menjadi prioritas utama bagi nakhoda tengkong
Pasongsongan. Maka tidak heran kalau akhirnya pelabuhan Pasongsongan menjadi
tempat raja-raja Sumenep apabila hendak bepergian ke pulau lain. Transportasi
laut menjadi sarana satu-satunya jikalau seseorang hendak pergi ke pulau lain
pada jaman itu.
Sedangkan menurut beberapa tokoh kelahiran Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, dulu Desa Panaongan bernama Desa Padangdangan Barat, seperti yang mereka pernah
dengar cerita-cerita dari para orang tua dahulu. Tapi karena suatu proses
eksistensi yang tidak relevan dengan nilai historis, maka pemangku kebijakan
(para pini-sepuh) mendesain nama lokasi tersebut berdasar pada nilai-nilai
historis yang melingkupinya.
Bukankah orang-orang jaman dahulu dalam memberikan
nama apapun senantiasa disandarkan pada peristiwa yang melekat pada obyek
tersebut.
Seperti dalam memberikan nama pada anak bayi misalnya. Karena ketika
melahirkan bayinya sedang terjadi huru-hara, maka segera menamakan anak bayinya
dengan embel-embel ‘ribut’. Atau ketika seorang bayi lahir yang diiringi dengan
meninggalnya kedua orang tuanya, lantas kerabatnya menamakan sang bayi ‘yatim’
(Bhs. Madura: Jetem).
Ada juga yang berpendapat, dulu nama Desa Panaongan adalah Pade’engan. Arti nama Pade’engan adalah sebuah lokasi
atau tempat terjadinya berbagai bentuk pembunuhan/pembantaian manusia yang
mayatnya dibuang di bukit pasir sekitar Astah Buju’ Panaongan.
Sekitar tahun 1987, saya (penulis) sering
bermain di sekitar Astah Buju’ Panaongan. Memang dengan mata
kepala sendiri penulis menyaksikan banyaknya
tulang-belulang dan tengkorak manusia yang berserakan di bukit pasir
tersebut.
Ketika penulis bertanya kepada beberapa warga Panaongan tentang
tulang-belulang manusia itu. Ada yang menyebut kalau tulang-tulang manusia itu
adalah terbuangnya mayat akibat pergolakan PKI (Partai Komunis Indonesia) sekitar
tahun 1965. Orang-orang yang terlibat dalam pergerakan PKI itu dibumihanguskan
oleh sang penguasa.
Ada pula yang menyatakan kalau tulang-tulang manusia itu
korban dari wabah tha’un yang mayatnya tidak sempat terkubur secara tuntunan
syariat Islam. Orang-orang kala itu tidak memikirkan orang lain demi dahsyatnya
bencana penyakit mematikan tersebut. Bahkan ada satu keluarga meninggal dunia
semua. Tidak ada yang mengurusnya. Akhirnya bangkai manusia itu dibiarkan
begitu saja. Orang-orang yang sebagian selamat menjauh dari Desa Panaongan.
Ada juga pendapat dari beberapa tokoh
masyarakat dan tokoh adat setempat yang menyatakan, bahwa nama Panaongan
tercetus spontanitas ketika ada salah seorang Raja Sumenep yang hendak
menyeberang sungai Pasongsongan dengan menggunakan rakit. Sang Raja turun dari
tandunya menuju rakit yang serta-merta pengawalnya memayungi raja tersebut.
Sikap memayungi itulah oleh masyarakat setempat dikatakan Panaongan.
Demikian hasil wawancara penulis
dengan beberapa orang asli kelahiran Desa Panaongan dan Pasongsongan. Apapun
pernyataan dan narasi tentang Desa Panaongan, akan tetaplah eksistensi
Panaongan merupakan sebuah desa yang memiliki alur cerita/sejarah masa lampau
yang cukup eksotik. Perlu sebuah observasi lebih detail agar semuanya menjadi
terang-benderang pada obyek bersejarah ini.
Beberapa tokoh peduli sejarah Panaongan sangat
berharap, ke depannya para ahli sejarah di Madura mau melakukan riset di Astah
Buju’ Panaongan sebagai bentuk dedikasi pada karier yang dijalaninya selama
ini. Kalau bukan orang setempat, lalu siapa lagi.
Yang menjadi aneh, ada
sebagian oknum di Desa Panaongan tidak mau berkomentar ketika ditanyakan
tentang Buju’ Panaongan. Namun mereka kemudian menelikung opini orang lain,
dengan alasan bahwa hanya darinyalah sumber sejarah Buju’ Panaongan paling
benar. Paling sahih.
Sikap egosentris semacam ini seringkali penulis jumpai di
tengah masyarakat Desa Panaongan. Tak bijak rasanya kalau kita menganulir
pendapat orang lain. Karena orang lain punya perspektif yang mungkin mendekati
benar kepada fakta sejarah yang sesungguhnya.
Sejarah memang lahir dari sebuah
proses perdebatan yang tidak selesai dalam tempo singkat. Ia akan mengalami
beragam bentuk renovasi narasi dari waktu ke waktu. Proses metamorfosis ini wajar dan memang
berlaku bagi semua obyek sejarah di belahan dunia manapun.
Tendensi dari sebuah
perdebatan tidak semestinya menatalkan sikap alergi terhadap statement orang
lain, apalagi sampai terjadi konflik berkepanjangan, saling menjatuhkan satu
sama lain dengan argumennya masing-masing. Ini sangat ironis dan ini bukanlah
urgensi dari bentuk pengungkapan fakta sejarah dari keagungan nama Astah buju’
Panaongan itu sendiri.
Perlu digarisbawahi sekali lagi,
bahwa hakikat kebenaran yang sesungguhnya terletak di tangan Allah SWT. Karena
kita tidak hidup di jaman penyebar agama Islam Buju' Panaongan tersebut.
Semestinya kita tidak mengumpulkan pembenaran diri pribadi dari orang lain,
tapi kita mencari kebenaran itu sekuat tenaga dalam pengungkapan fakta sejarah
Buju’ Panaongan.
Semoga kita mampu dan bisa! Jangan menunggu orang lain bisa mengungkap. Orang lain bisa, kenapa kita tidak. (Yant Kaiy)
