Keliru
Cerpen: Yant Kaiy
Sinta adalah seorang gadis berparas cantik di salah satu
kampung yang asri. Dia dari keturunan biasa-biasa saja. Ayahnya seorang kuli
bangunan. Ibunya seorang penjual sayur-mayur di pasar yang tak jauh dari
rumahnya. Sinta tiga bersaudara perempuan semua. Dia anak sulung terpintar
diantara kedua saudaranya.
Dalam kesehariannya, Sinta mengenakan jilbab layaknya gadis
di kampung itu. Ia punya prinsip kalau jilbab merupakan identitas seorang
wanita muslimah. Sikapnya tidak sombong, membuat teman-teman SMA-nya banyak
yang menyukainya. Dia tipe gadis periang.
Tuhan telah mengaruniai Sinta berotak cerdas. Dia selalu mau
berbagi ilmu pelajaran sekolah pada siapa saja. Sering teman-temannya yang
tidak mengerti bertanya padanya. Hal ini secara tidak langsung, ia telah banyak
membantu para guru di sekolahnya.
Dari sekian banyak teman di sekolahnya, Santi paling dekat
dengannya. Di mana ada Sinta, jelas di situ ada Santi.
“Tadi malam kata Ayah, keluarga besar Pak Eko ke rumahmu.
Benar itu, San?” tanya Sinta ketika mereka sedang jam istirahat sekolah.
“Itulah yang akan kubicarakan sama kamu, Sin,” jawab Santi
serius.
“Kamu tentu senang, dong. Coba tunjukin cincin tunangannya!”
pinta Sinta tanpa beban. Ia meraih tangan sahabatnya. Satu cincin emas
melingkar di jari manis Santi.
“Kita semua tahu, kalau guru kita itu menyukaimu, Sin.”
“Ngaco kamu,” tepis Sinta.
Pak Eko memang belum pernah apel ke rumah kedua gadis itu.
Sedangkan guru matematika itu bukan berasal dari kota mereka.
“Tapi kenapa keluarga besar Pak Eko melamarku. Ini aneh.”
“Apanya yang aneh. Bukankah Pak Eko telah menunjukkan gadis
yang akan dilamarnya?” korek Sinta.
“Benar.”
Tradisi di kampung Sinta, biasanya kalau melamar gadis hanya
pihak kedua orang tua pria saja.
“Memangnya kamu tidak senang mendapat kejutan ini?”
“Entahlah.”
“Sudahlah. Jangan berpikir macam-macam lagi. Terima cinta
Pak Eko dengan tulus. Aku berharap begitu.”
Ketika bel pulang sekolah berbunyi. Sinta dan Santi
dipanggil Pak Eko ke ruang guru.
“Kalian saya panggil karena ada sesuatu yang penting,” ujar
Pak Eko memulai pembicaraan. Sedangkan guru-guru lainnya masih ada di situ.
“Sebelumnya saya minta maaf pada Santi. Saya dan kedua orang
tua barusan dari rumah Santi, meminta maaf kepada mereka. Bahwa lamaran semalam
itu keliru.”
Santi sudah bisa menebak arah pembicaraan Pak Eko.
“Sebenarnya lamaran itu buat Sinta…”
Pasongsongan, 4/2/2020
