Menelisik Sejarah Desa Panaongan

Hasil gambar untuk Foto astah Buju' panaongan pasongsongan
Makam di Astah Buju' Panaongan
              
SUMENEP, apoymadura.com - Panaongan berasal dari kata dasar ‘naong’ yang artinya teduh. Kemudian diberi awalan ‘pa’ dan akhiran ‘an”. Jadi makna kata dari Panaongan adalah tempat orang berteduh dari panas menyengat dan beristirahat sejenak dari penat. 

Dengan kata lain, Desa Panaongan merupakan sebuah lokasi yang bisa melindungi/membentengi seseorang dalam arti yang lebih luas. Bahwa daerah ini adalah suatu daerah yang sejuk, nyaman, dan menentramkan bagi siapa saja yang berada di dalamnya.
               
Menurut beberapa warga Panaongan, nama Panaongan tercetus ketika pada jaman dahulu ada banyak orang yang berteduh sebelum melanjutkan perjalanan jauh dari dan ke pelabuhan pantai Desa Pasongsongan. 

Panaongan merupakan sebuah lokasi/tempat bagi kebanyakan orang yang berteduh di sekitar Astah Buju’ Panaongan karena di sekitar itu sudah ada komunitas Arab yang telah mendirikan pondok pesantren dan berbaur dengan masyarakat setempat. Kala itu tidak ada sekat tradisi dan budaya pada keduanya. Ibarat satu koin mata uang logam, dua sisinya berbeda tapi nilainya sama. 

Proses akulturasi bangsa Arab ini berjalan dengan baik, tanpa ada sebuah gesekan berarti pada ujung perkembangannya. Justru etnis Arab ini telah mewariskan nuansa toleransi tingkat tinggi yang tidak pernah ada sebelumnya. Dan endingnya warga Panaongan tergiring pada status sosial lebih mapan, lebih bersahaja, dan lebih berkelas seiring pencapaian pola hidup masyarakat yang sangat sejahtera.



Hasil gambar untuk Foto astah Buju' panaongan pasongsongan
Pintu Gerbang Astah Buju' Panaongan
               
Hasil gambar untuk Foto astah Buju' panaongan pasongsongan
Astah Buju' Panaongan
Kecamatan Pasongsongan-Sumenep

Di jaman dahulu rumah-rumah penduduk lebih banyak berada di sekitar Astah Buju’ Panaongan. Banyak pedagang dari luar daerah seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa dan pulau-pulau kecil di sekitar Madura yang melakukan transaksi jual-beli di daerah ini. Termasuk pula para pedagang dari Negeri Tirai Bambu China dan Jasirah Arab yang begitu kental mewarnai aroma perniagaan di Desa Panaongan. 

Kehadiran bangsa asing ini cukup memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan Panaongan di sektor perekonomian masyarakat. Maka semakin lengkaplah kemajuan Panaongan dalam segala sisi.
               
Menurut Drs. K.H. Mas Ula Ahmad menyatakan, bahwa di lokasi Astah Buju’ Panaongan  Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Sumenep dulu adalah pusat bisnis terbesar di wilayah pantai utara (pantura) Pulau Madura. Selain itu Panaongan juga merupakan pusat peradaban Islam pertama di Sumenep. Salah satu bukti kuat kalau Panaongan merupakan pusat peradaban Islam pertama di Madura, yaitu adanya jalinan persahabatan masyarakat Panaongan dengan Kerajaan Islam Aceh dan Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan.
               
Bisa dipastikan kalau peradaban Islam sudah berkembang sangat maju di Panaongan seiring hubungan keislaman dengan beberapa kerajaan yang ada di luar Pulau Madura. Hal ini tampaknya tidak terekam oleh kalangan sejarawan di Madura, khususnya Sumenep. 

Mengapa ini semua bisa terjadi? Mungkin tidak ada literatur pembanding sebagai pijakan dalam pengungkapan fakta, sehingga sikap skeptislah yang berkuasa. Kebimbangan berlebihan akan menatalkan kebuntuan pada peradaban sejarah Desa Panaongan. Bahkan banyak diantara kalangan masyarakat Panaongan yang gamang mengambil sebuah statement meniscaya sebagai ikhtiar dari pengungkapan fakta folklor pada situs di Astah Buju’ Panaongan.
               
Ada juga yang segan dalam menulis sejarah Buju’ Panaongan. Itu disebabkan oleh adanya aroma intimidasi yang berhembus dari beberapa kelompok yang disinyalir punya kepentingan tertentu. Peristiwa itu terjadi ketika Buju’ Panaongan masih baru ditemukan. Tapi sekarang aroma intimidasi itu perlahan sirna seiring waktu.

               
Kemasyhuran Desa Panaongan jaman dahulu sebagai pusat bisnis terbesar di pesisir pantai utara pada akhirnya tumbang juga. Sebuah bencana besar menghantam kejayaan Panaongan. Merobohkan bangunan menara tinggi perekonomian masyarakat luas tanpa ampun. Daerah yang semula tenteram tiba-tiba berganti mengerikan.  

Wabah penyakit tha’un melumpuhkan aktifitas perekonomian masyarakat setempat. Wabah penyakit mematikan ini mampu menyikat habis nyawa penduduknya  tanpa kompromi. Sebagian dari mereka ada yang mengungsi  ke tempat lain demi menyelamatkan diri dari musibah penyakit itu. 

Menurut K.H. Mas Ula, wabah tha’un merupakan suatu penyakit kulit yang sangat mematikan dengan cepat. Terjangkit tha’un pagi hari, pada malam hari meninggal dunia. Penyakit instan ini semacam penyakit kusta atau lepra. 

Ia berasal dari virus yang awalnya menyerang hewan ternak. Orang yang terjangkit akan muncul borok pada kulitnya. Wabah sangat cepat ini menyebar liar ke seluruh masyarakat Desa Panaongan dan sebagian lagi Desa Pasongsongan tanpa pandang bulu. 

Banyak orang yang terjangkit sehingga dalam tempo singkat puluhan ribu jiwa meninggal dunia. Maka tidak heran kalau akhirnya daerah Astah Buju’ Panaongan sepi dari penduduk. Panaongan tiba-tiba menjelma jadi lokasi mencekam yang menakutkan. 

Begitulah kalau Allah SWT mau membinasakan umat-Nya, sangat mudah. Maka sebagai insan lemah  kita senantiasa harus bersyukur terhadap nikmat yang diberikan. (Yant Kaiy)
LihatTutupKomentar