Mengenal Etnis China di Pasongsongan

               
Hasil gambar untuk Peranakan China

SUMENEP, apoymadura.com - Desa Pasongsongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep memiliki warga beretnis China, Arab, dan Jawa. Desa yang terletak di Barat Utara dari Kabupaten Sumenep ini berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Pamekasan.

Etnis China di Desa Pasongsongan memiliki cerita menarik untuk diketahui. Karena etnis ini peniagaan di Pasongsongan maju pesat.

Etnis China sukses menggerakkan roda bisnis di daerah Pasongsongan selaras dengan runtuhnya hegemoni bangsa Arab di Panaongan.  Kendati etnis Arab tumbang dan gaungnya lenyap ditelan alam, tetapi mereka telah cukup berarti menciptakan nuansa agamis pada tataran budaya masyarakat Desa Pasongsongan dan sekitarnya. 

Mereka telah berhasil mewarnai langit Pasongsongan dengan ornamen kerukunan nan indah. Mereka telah sukses mengantarkan Pasongsongan ke gerbang kemajuan dalam menghargai setiap perbedaan. Benih toleransi telah tumbuh di tengah masyarakat lokal sehingga kedatangan bangsa Tiongkok Tibet tidak mengalami proses asimilasi yang signifikan. 

Etnis mata sipit ini telah diwarisi sebuah kebun kerukunan oleh arifbillah yang ada di Astah Buju’ Panaongan, maka mereka tinggal merawatnya saja. Mereka tinggal menyiraminya.
               
Menurut K. Muhammad Ersyad (warga keturunan China), komunitas China di pesisir pantai Pasongsongan awal masuk ke nusantara melalui Pulau Sumatera. Setelah mengetahui kalau pelabuhan Pasongsongan adalah tempat strategis dan aman serta menjanjikan bagi tujuan pengembaraan awal. 

Etnis China di Pasongsongan menggantikan posisi bangsa Arab yang telah lebih dulu masuk ke Pasongsongan. Kebetulan agama orang Tionghoa ini adalah Islam. Mereka cukup yakin kalau pelabuhan Pasongsongan bisa memberikan ruang baginya untuk dapat mengepakkan sayap bisnis dan kepercayaannya. 

Jadi untuk etnis China yang ke Pasongsongan ini tidak hanya mau berniaga saja, melainkan mereka juga penyebar agama Islam.
               
Adalah seorang King yang berasal dari  Tiongkok Tibet yang beragama Islam. Beliau merasa tidak sepaham dengan lingkungannya yang berbeda ajaran. Ia terpanggil jiwanya untuk keluar dari negerinya. 

Kemudian beliau melakukan petualangannya ke nusantara beserta keluarganya. King telah banyak tahu kalau di nusantara terdapat hasil bumi yang melimpah. Informasi tentang nusantara King dengar dari tetangganya yang pernah berkunjung melakukan perniagaan. 

King banyak bertanya kepada mereka tentang penduduk nusantara seperti apa. Maka ketika gambaran tentang nusantara merasa cocok dengan benaknya, barulah keputusan diambil King. Niatnya sudah bulat dan tekadnya begitu meniscaya. Dalam perjalanan laut berhari-hari, diombang-ambingkan gelombang, akhirnya King sekeluarga memasuki bumi nusantara. 

Pertama-tama King mendarat di Sumatera menjajaki pola hidup masyarakat, tradisi dan budaya setempat. Tapi karena perkembangan Islam di Sumatera sudah ada, plus tidak adanya kesesuaian dengan impiannya ketika ia masih di tanah kelahirannya, maka King melanjutkan perjalanan lautnya lagi. King tidak masuk ke Pulau Jawa karena catatan masa itu hubungan bangsa China dengan kerajaan-kerajaan Jawa kurang baik. 

Ada kekhawatiran kalau di Jawa dirinya tidak merdeka dalam bersyiar dan berniaga. King menjatuhkan pilihannya pada pelabuhan Pasongsongan sebagai tujuan, karena sebelum berangkat beliau mendengar cerita dari orang-orang Sumatera kalau ada pelabuhan besar di Pulau Madura yang bisa mewujudkan impiannya, yaitu pelabuhan Pasongsongan. Batinnya mengatakan kalau pelabuhan Pasongsongan akan memberikan sebuah harapan hidup lebih baik.
               
King mendarat dengan selamat di pelabuhan pantai Pasongsongan. Ternyata memang benar cerita para pedagang kalau masyarakat Pasongsongan sudah sangat maju dalam hal kehidupan masyarakatnya. Sementara perniagaan masih terlihat  “sakit” di mata King. Ia mulai menata konsep perniagaan yang tepat. Neo-konsep perniagaan King yaitu pembeli adalah raja. Pelayanan yang lemah-lembut  King berhasil mengubah citra perniagaan di Pasongsongan.
               
King tidak membutuhkan proses yang terlalu lama dalam beradaptasi dengan kehidupan masyarakat sekitar. Dalam tempo yang singkat untuk ukuran akulturasi bangsa pendatang, King muda sudah mampu merajai perdagangan di Pasongsongan. Beliau pandai mengambil hati warga pribumi karena beliau sangat cerdas dalam berasimilasi. Apalagi agama King sama dengan masyarakat Desa Pasongsongan sehingga cukup mudah baginya dalam menjalin kerjasama dibanyak hal pada hubungan sosial-budaya.
               
Setelah menetap di Pasongsongan sekian lama, King hidup sukses dengan gurita bisnisnya di pesisir pantai Pasongsongan bersama keluarganya. Sebagai penganut ajaran Islam yang taat, King pun melaksanakan rukun Islam yang kelima yakni menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Mekah. Sepulang dari menunaikan ibadah haji, King tidak pulang ke Pasongsongan, melainkan beliau menetap di Surabaya sampai akhir hayatnya.
                
Sambil menjalankan bisnis, di Surabaya beliau juga memperdalam ajaran Islam. Menurut K. Muhammad Ersyad, King masih berkerabat dengan Sunan Ampel Surabaya. Di tempat baru itu King punya nama lain, yakni Tumenggung Ongkodjoyo atau ada sebagian peranakan China di Pasongsongan menyebutnya dengan Tumenggung Ongkowidjoyo. 

King yang sukses membangun kerajaan bisnis di Surabaya berhasil membeli sebidang tanah luas yang sekarang menjadi pemakaman Sunan Ampel dan keluarganya. Tanah tersebut dihibahkan King kepada Sunan Ampel. King meninggal di Surabaya dan kuburannya berada di kawasan pemakaman Sunan Ampel.  Keturunan King sebagian pulang ke Pasongsongan lagi karena peninggalan kekayaan almarhum King cukup banyak di Pasongsongan. Bahkan di Palembang King mempunyai kerabat dekat yang sama-sama berasal dari Tiongkok Tibet. Dan kerabat King itu informasinya juga sukses dalam bidang perniagaan.
               
Ada pertanyaan besar dari kalangan sejarawan, kenapa King mau hidup di sebuah desa kecil di Pasongsongan? Biasanya orang-orang Tionghoa dalam menjalani akulturasi berada di kota karena alasan faktor keamanan dalam menjalani aktifitas sehari-hari.  

Untuk King seorang memang sangat spesial, karena beliau beragama Islam sejak kecil, bukan beragama Konghucu seperti kaum Tionghoa yang berada di Sumenep pada umumnya. King memilih Pasongsongan sebagai tujuan disebabkan karena sebelumnya komunitas Arab sudah menancapkan akidah Islam lebih awal. King sudah memperhitungkan dengan cermat dan matang dalam menentukan suatu pilihan. Andai saja King tidak beragama Islam kemungkinan banyak beliau akan mengalami berbagai kendala berarti pada proses asimilasi.
               
Kehadiran King di Desa Pasongsongan memberikan angin segar bagi kemajuan agama Islam. Setelah keturunan Buju’ Panaongan  melakukan penyebaran  Islam di tanah Jawa, estafet dakwah Islam dikomandani King yang menjadi tokoh sentral berpengaruh di kawasan Pasongsongan. 

Jadi sangat membingungkan kalau ada narasi sebagian kalangan menganggap jika King beragama Islam setelah dirinya mengalami proses interaksi dengan lingkungan, terang K. Muhammad Ersyad di kediamannya, Jalan Abubakar Sidiq Desa Pasongsongan. Ia juga menambahkan kalau King adalah kaum bangsawan di tanah kelahirannya yang beragama Islam taat.
               
K. Muhammad Ersyad juga menginformasikan kalau keturunan King tidak hanya ada di Pasongsongan.  Keturunan King ada juga di Kecamatan Ambunten, Batang Batang, Saronggi, dan Surabaya. Di masing-masing tempat tersebut komunitas peranakan China tetap berdiri sampai sekarang. Jalinan kekeluargaan sama-sama keturunan King ini masih berlangsung harmonis. Satu sama lain saling bersilaturrahmi.
               
Menurut K. Muhammad Ersyad, di Pasongsongan kebanyakan keturunan King ini ada di organisasi keagamaan Muhammadiyah. Tetapi ada pula yang di organisasi keagamaan NU. Perbedaan aliran keagamaan ini tidak membuat sekat di antara mereka sesama keturunan China. (Yant Kaiy)

LihatTutupKomentar