Goa Soekarno: Antara Mitos dan Situs
| Goa Soekarno yang terletak di Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan-Sumenep Madura. |
SUMENEP, apoymadura.com - Objek wisata Goa Soekarno telah banyak
menyedot perhatian masyarakat ramai dari segala penjuru negeri ini. Beragam
tulisan pun menghiasi hingar-bingar kehadirannya dibanyak media massa.
Beberapa pengamat wisata juga turut
memaknainya dari perspektif yang beraneka-macam. Para tokoh sejarah dan tokoh
masyarakat tidak terkecuali juga terlibat adu argumen dan opini untuk mendekat
pada sisi historis yang melingkupi Goa Soekarno.
Sesungguhnya hakikat semua itu
semakin menambah khasanah pengetahuan pada manusia itu sendiri. Maka kita
implementasikan analisis itu sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha
Pencipta. Sebab kita mengkaji tentang hasil ciptaan-Nya yang sangat eksotis dan
tiada bandingnya.
Berbagai analisis yang dikemukan
tentu memiliki pijakan yang berbasis dari beragam penemuan dan cerita/folklor
para tokoh adat sepuh setempat. Memang
kadang ada tendensi ego demi mengembangkan folklor sebagai manifestasi
kebanggaan tak terukur yang tak jarang
kebablasan dan bersifat bombastis.
Nuansa bombastis inilah yang menyebabkan
ketidaknyamanan dari beberapa kalangan. Dan hal ini justru akan mendiskreditkan
keagungan Gua Sukarno di mata publik.
Memang kita tidak hidup di jaman mereka. Kita
sebagai manusia yang lemah; baik sebagai pengamat atau pemerhati tidak bisa
menjustifikasi segala sesuatu berdasarkan power nalar semata. Sebab power nalar
tidak berbanding lurus dengan power metafisika. Maka tugas pengamat atau
pemerhati harus bisa memfilter faktor-faktor yang bisa melahirkan polemik yang
berujung pada kegaduhan dari beberapa kalangan.
Apalagi sampai melahirkan
konflik atau gesekan-gesekan antar individu. Kehati-hatian inilah yang harus
dijaga agar kita tidak sembarangan menggelindingkan opini ke tengah-tengah
masyarakat awam. Kita tentu tidak ingin terjebak pada konfrontasi sejarah antar
sesama yang berbeda sudut pandang. Sebab urgensi dari semua analisa tentu
berbasis pada fakta di lapangan yang dikaitkan dengan beberapa cerita yang
meliputinya.
Dan kebenaran di atas muka bumi ini sangat relatif. Bisa saja menurut kita benar saat ini, mungkin
di suatu saat nanti akan menjadi salah dan terdengar lucu pada generasi yang
akan datang. Oleh karena itu, manusia tidak bisa memvonis segala sesuatu, bahwa
dirinyalah yang paling benar dan paling baik.
Kecuali ketetapan dari Sang
Pencipta yang tidak akan bergeser sampai hari kiamat. Sungguh ironis memang,
tetapi begitulah manusia yang tidak bisa lepas dari khilaf, lemah, dan dosa.
Publik sudah banyak tahu kalau
kebenaran di alam fana ini nisbi adanya, begitu kalimat bijak yang sering
mengalun dari kaum cendekiawan, akan tetapi mereka yang tergolong kolot akan
menyimpulkan segala sesuatunya berdasarkan daya nalar yang kerdil.
Padahal
mereka juga sering mendengar slogan, kalau hakikat kebenaran yang sejati hanya
terletak pada Allah SWT. Maka sepatutnya kita harus menetralisir semua itu demi
terciptanya iklim kebersamaan sebagai anak bangsa.
Saling menyudutkan dalam
melontarkan analisis dari berbagai kalangan adalah sebuah sikap yang kurang
bijak rasanya. Karena kita mafhum, bahwa di atas langit masih ada langit.
Sejatinya kita menghormati dari beragam argumen itu sebagai ilmu yang tak
ternilai harganya.
Karena bagaimanapun juga, eksistensi Goa Soekarno tetaplah
gua yang penuh magnet bagi siapa saja yang ingin menikmati maha karya dari Sang
Khalik.
Kendati demikian, opini dan
argumen dari banyak pemerhati sejarah yang sudah menatalkan narasi ke ranah publik,
semestinya bisa menggiring pada pendekatan histori. Endingnya, pemufakatan
berjamaah pada background riset yang telah dilaksanakannya.
Wujud dari semua
itu bukanlah akhir dari episode penelitian yang selama ini telah banyak
kalangan lakukan. Suatu saat nanti akan lahir juga neo-opini yang mungkin lebih
bernas, lebih tajam, dan lebih berbobot. Semua tidak menutup kemungkinan.
Dari sekian banyak opini yang
berkembang di tengah-tengah publik, kali ini kita akan meminimalisasi analisis dari
dua sudut pandang saja. Kalau kita cermati, sesungguhnya Gua Sukarno mempunyai dua
sisi interpretasi yang tidak terpisahkan antara mitos dan situs.
Sebagai mitos,
Gua Sukarno menyimpan banyak arti tentang kisah masa lampau perihal
keberadaannya yang baru mengorbit belakangan ini. Kisah-kisah klasik pun tidak
bisa dibendung lagi seiring sudah banyak orang mengunjunginya. Bagai bola batu
yang menggelinding dari ketinggian puncak gunung. Kemudian publik pun mengemas
cerita itu sedemikian rupa agar orang lain percaya terhadap folklor yang
dihadirkannya. Selanjutnya folklor tersebut dicross-check dengan realitas di
lapangan.
Sebagai situs, Goa Soekarno telah menjadi tempat riyadah orang-orang terkemuka. Riyadah adalah sebuah tradisi mengolah batin. Seperti kebiasaan para tokoh spiritual jaman dahulu. (Yant Kaiy)
