Tradisi Riyadah di Gua
| Gua Hira': Tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama. |
SUMENEP, apoymadura.com - Riyadah dalam bahasa Arab diartikan sebagai olah raga. Namun dalam kajian tasawuf diartikan sebagai olah batin. Proses olah batin ini penting karena mendekatnya makhluk itu kepada Sang Pencipta yakni lewat batin
Patut diingat, Baginda
Nabi Muhammad SAW juga pernah berada di Gua Hira. Semua kaum muslim tahu, kalau
Gua Hira merupakan salah satu situs yang maha penting bagi sejarah Islam.
Pasalnya di gua ini Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama yaitu Surat Al-Alaq dari ayat 1 sampai 5. Tepatnya,
pada Senin 17 Ramadhan, ketika Nabi Muhammad tengah khusyuk bertafakur. Wahyu
itu disampaikan oleh Malaikat Jibril. Saat itu juga Nabi Muhammad resmi
dilantik sebagai nabi dan rasul dalam
usia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut kalender Qamariah.
Nabi Muhammad berdiam diri di
Gua Hira sepanjang Ramadhan. Beliau menghabiskan waktu untuk berkontemplasi dan
memikirkan fenomena alam yang terjadi di sekelilingnya.
Demikian pula dengan Raden Said
atau banyak orang mengenalnya dengan nama Sunan Kalijaga, ia juga pernah
bertapa di Gua Langsih di Bukit Surowiti, Desa Surowiti, Kecamatan Panceng,
Gresik. Kini tempat pertapaan Sunan Kalijaga tersebut masih tetap terjaga dan
menjadi tempat destinasi wisata religi yang sangat banyak dikunjungi wisatawan.
Di Kabupaten Sumenep ada deretan
gua yang pernah dijadikan sebagai tempat untuk menjalani riyadah (laku batin)
tokoh penting dan berpengaruh di jamannya.
1. Di
Kecamatan Guluk-guluk ada Gua Payudan yang dijadikan tempat bertapa Raden Ayu Potre
Koneng. Kita tahu Potre Koneng adalah ibunda dari Pangeran Jokotole (Raja
Sumenep yang ke-13). Pangeran Jokotole adalah seorang raja yang sakti ketika
mendirikan pintu gerbang raksasa Kerajaan Majapahit atas kehendak Raja
Brawijaya VII.
| Gua Payudan di Guluk Guluk Sumenep |
2. Gua
Kahuripan yang terletak di Pulau Giligenting Kabupaten Sumenep merupakan tempat
bertapa bagi Ario Danurwendo (Raja Sumenep ketiga). Sampai sekarang Gua
Kahuripan ini dipercaya masih dijaga oleh kedua piaraan/pengawal Raja Ario
Danurwendo, yakni macan putih dan ular putih.
3. Gua
Jeruk yang terletak di dataran tinggi di luar Asta Tinggi di Desa Kebun Agung
Kabupaten Sumenep merupakan tempat Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I
(Raja Sumenep ke-32) menjalani riyadah. Sultan Abdurrahman bernama asli Notonegoro
Putra Raja Sumenep yaitu Panembahan Notokusumo I. Beliau mendapat gelar Doktor
Kesusasteraan dari pemerintah Inggris karena ia pernah membantu Letnan Gubernur
Jenderal Rafles untuk menerjemahkan tulisan-tulisan kuno di batu kedalam bahasa
Melayu.
Barangkali dengan melakukan tirakat
atau riyadah di mana saja boleh dikerjakan. Asal tidak menyimpang dari syariat
Islam itu sendiri. Akan tetapi kalau sekiranya bisa membahayakan bagi
keselamatan jiwanya, lebih baik mengerjakan riyadah di mesjid saja.
Jadi tidak
salah atau berdosa mengerjakan ritual (bertafakkur) di sebuah gua untuk mencapai bentuk
ketenangan jiwa menyatu dengan Sang Khalik. Karena akhir-akhir ini banyak persepsi kalau menjalani riyadah di gua adalah syirik. Pekerjaan orang-orang yang memiliki ilmu hitam. (Yant Kaiy)
