Kisruh


Hasil gambar untuk Gambar sketsa wanita cantik india

Cerpen; Yant Kaiy

Biduk rumah tangga Debur belakangan ini terlihat goyah. Tidak tegak seperti sebelumnya. Debur sebagai orang terpelajar berusaha untuk terus memperbaikinya. Bahwa persoalan rumah tangganya harus diselesaikan bersama istrinya. Dirinya yakin kalau permasalahan itu akan selesai seiring waktu.

Tapi terpaan dan guncangan ombak kata-kata tetangganya membuat kuping Debur gatal juga. Semakin lama semakin membuncah. Ia mulai tidak tahan. Batinnya mulai punya komitmen untuk mengambil tindakan.
Tapi ia mulai kebingungan, hendak dimulai dari mana menyelesaikannya. Ia tak ingin membuat air keruh sebelum ikannya tertangkap. Ia harus bisa menjaga harmonisasi mahligai rumah tangganya tetap tenang, tentram, damai…

Ketika malam merangkak melahirkan sepi. Debur dan Isna satu kamar.

“Bang, kita sudah berumah tangga lebih 17 tahun. Persoalan ini pasti bisa kita lalui bersama. Kita pikirkan nasib kedua anak kita,” pinta Isna sembari melihat ke arah suaminya yang tidur terlentang di sampingnya.

“Perlakuan paman dan bibi kamu itu keterlaluan, Is. Berkata-kata itu harus dipikirkan. Diproses dulu. Apa ucapannya itu benar atau tidak. Apa menyakitkan atau tidak. Masak bicaranya seperti orang kentut saja. Enak saja. Memangnya aku makan dari hasil kerja mereka. Atau minta uang jajan anak kita sama mereka. Selama ini tidak kan,” cetus Debur.

“Tapi kita tidak boleh tersulut emosi, Bang.”
“Ya, aku harus menjadi air terus. Sabar. Itu maumu kan. Dan mereka selamanya menjadi api, membakar seenak perutnya sendiri. Untungnya kita bukan kayu.”
“Nah, justru itu maksudku, Bang,” sela Isna dengan senyum.
“Maksudmu apa sih?”

Debur membalikkan badannya. Kini wajah mereka saling berhadapan.

Belakangan ini Debur memang cepat dan mudah tersinggung, tidak seperti dulu lagi. Perubahan ini disebabkan mertua perempuannya. Sang mertua mulai tidak ada kecocokan pada Debur. Akhirnya sang mertua selalu curhat sama saudaranya.

“Kita sudah menjadi besi sekian lama. Maka kita mesti bersikap besi juga. Alangkah baiknya kalau kita pindah rumah saja,”  usul Isna.

“Tidak cukup uang kita, Is.”

“Kita juga harus pakai semangat besi, Bang. Kalau kita selamanya berkumpul dengan orang tua, pasti akan terjadi friksi yang meruncing pada perpecahan. Soal uang, kita beli rumah kredit,” tandas Isna.
Debur mengernyitkan keningnya.
“Setuju.”


Pasongsongan, 3/2/2020
LihatTutupKomentar