Sejarah Singkat Syekh Ali Akbar, Tokoh Ulama Abad XV dari Desa Pasongsongan Kabupaten Sumenep
![]() |
| Foto: Daun pintu Astah Syekh Ali Akbar |
SUMENEP, apoymadura.com - Nama Pasongsongan tak lepas dari
beberapa kunjungan para Raja Sumenep dalam rangka hendak bepergian dengan
menggunakan sarana perahu. Transportasi antar pulau menggunakan perahu ketika
abad ke-11 hanya di Pasongsongan-lah yang paling maju. Jenis perahu yang
digunakan nelayan Desa Pasongsongan adalah tengkong, yaitu perahu yang
kanan-kirinya ada bambu sebagai penyeimbang sehingga tahan ombak dan tak mudah
tenggelam
Nelayan Pasongsongan terkenal
tangguh dalam mengarungi lautan lepas. Di samping itu jaminan keselamatan bagi
para penumpangnya menjadi prioritas. Pada saat itu pelabuhan terbesar yang ada
di Kerajaan Sumenep hanyalah pelabuhan Pasongsongan.
Menurut beberapa tokoh sejarah,
disinyalir bahwa nama Pasongsongan menjadi tersohor ketika jaman Raja Bindara
Saod. Raja Sumenep ke-29 ini merupakan keponakan dari Syekh Ali Akbar. Adanya
ikatan darah ini pula yang membuat hubungan keduanya menjadi sangat dekat.
Seringnya Raja Bindara Saod berkunjung ke Pasongsongan lantaran beliau banyak
menimba ilmu agama Islam. Walau sebagai guru spritual, Syekh Ali Akbar tetap
memperlakukan keponakannya itu sebagaimana layaknya penyambutan rakyat biasa kepada rajanya.
Hadirnya Raja Bindara Saod
disongsong dengan Syekh Ali Akbar. Maka tempat itu kemudian dinamakan
Pasongsongan. Bisa diartikan Pasongsongan
adalah penyambutan. Makna luas Pasongsongan yaitu sebuah lokasi
penyambutan rakyat terhadap para pemimpinnya sebagai bukti kecintaan rakyat
kepada rajanya karena telah hadir di tengah-tengah mereka. Mengagungkan raja
sebagai junjungan menjadi tolak ukur bahwa rakyat sangat mencintai pemimpinnya.
Bukti sejarah satu-satunya
tentang kebesaran dan keagungan Syekh Ali Akbar ada di daun pintu astah (tempat
kuburan beliau). Kuburan yang terletak di Dusun Pakotan Desa Pasongsongan
Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Jawa Timur setiap harinya ramai dengan
pesiarah. Di daun pintu astah tertulis bahasa Arab yang kalau diterjemahkan
begini artinya.
“Ini
wafatnya Al-Arif, Al-Alim, Al-Kabir, Al-Mujtahid, At-Tawadhu’, di Desa
Paongsongan pada malam Rabu Tanggal 14 Jumadil Akhir 1000 Hijriyah.”
Beberapa gelar yang disandang
beliau diberikan Raja Bindara Saod. Ini satu prasasti tidak terbantahkan kalau
keberadaannya sungguh luar biasa bermakna bagi masyarakat luas. Berikut arti
dari beberapa gelar tersebut:
1. Al-Arif merupakan tipe orang
yang tidak membanggakan amal ibadahnya. Orang ini senantiasa memperhatikan
dirinya dan mengkhawatirkan amalnya; dapat menempatkan dirinya dalam setiap
kondisi dengan jiwa yang waspada dan tenang.
Orang ini biasanya juga akan
membuang jauh-jauh perasaan ‘ujub dan sum’ah pada dirinya. Apalagi sampai ingin
termasyhur atau didengar orang lain. Ia akan senantiasa berusaha berbuat yang
terbaik dan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat luas tanpa
pandang bulu.
2. Al-Alim adalah orang yang
memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Rasa takut yang menjadikan seseorang
berhati-hati dalam setiap tindakan dan perbuatannya. Rasa takut yang membuat
orang tersebut merasa senantiasa diawasi Allah kemana saja kaki melangkah. Rasa
takut yang membuat orang tersebut mawas diri jangan sampai terjerumus kedalam
perbuatan keji dan mungkar yang dilarang Allah.
Ia termasuk dalam golongan orang
cerdik-pandai, banyak ilmunya, ahli serta pakar dalam bidang ilmu agama. Semua
bentuk tindak-tanduk dan sikapnya dalam bergaul dengan lingkungannya dalam
kehidupan sehari-hari senantiasa dilandasi hukum-hukum Islam.
3. Al-Kabir adalah orang yang
memiliki kesempurnaan tidak sebatas pada dirinya, akan tetapi mengalir luas
kepada khalayak ramai. Baik itu ilmunya, kebajikannya, hartanya dan lainnya.
Selain bermanfaat bagi dirinya, ia juga dapat memberi manfaat bagi orang lain.
Tidaklah ia bercengkerama dengan orang
lain kecuali kesempurnaan pada dirinya mengalir kepada orang lain tersebut.
Kesempurnaan pada dirinya mengalir kepada orang lain tersebut. Kesempurnaan
seorang hamba adalah pada ilmunya, wara’nya (kehati-hatian) ia dalam menjalani hidup.
Ia lebih baik terhindar dari hal-hal yang mubah dari pada nanti terjerumus pada
yang haram.
Kabir bagi seorang hamba adalah
orang yang berilmu lagi bertakwa dan dapat menunjukkan sekaligus mengarahkan
kepada jalan yang lurus bagi orang lain.
Oleh karena itulah, walau orang
memiliki harta dan ilmu banyak tetapi tidak dapat memberi manfaat bagi orang
lain maka ia termasuk dalam golongan orang kabir.
4. Al-Mujtahid adalah seseorang
yang memiliki harta dan ilmu kemampuan ijtihad atau istinbath (inferensi) hukum-hukum
syariat dari sumber-sumber muktabar dan bisa diandalkan.
Ada beberapa unsur bagi seseorang
yang dapat dikategorikan dirinya pantas memperoleh gelar Al-Mujtahid:
- Harus bisa menguasai dan
mengetahui arti ayat-ayat hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, baik menurut
bahasa dan syariah.
-
Harus bisa menguasai dan
mengetahui hadis-hadis tentang hukum, baik menurut bahasa maupun syariah.
-
Harus bisa mengetahui
nasakh dan mansukh dari Al-Qur’an dan sunnah, supaya tidak salah dalam
menetapkan hukum.
-
Harus bisa mengetahui
permasalahan yang sudah ditetapkan melalui ijma’ ulama.
-
Harus bisa mengetahui
qiyas dan berbagai macam persyaratannya
serta menginstimbatnya, karena qiyas merupakan kaidah dalam berijtihad.
-
Harus bisa menguasai Bahasa
Arab dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan bahasa, serta
pernak-pernik berbagai problematikanya.
-
Harus bisa menguasai ilmu
ushul fiqih yang merupakan pondasi dari ijtihad.
-
Harus bisa mengetahui
tujuan syariah secara umum, karena bagaimanapun juga syariah itu berkaitan
dengan maqashidu asy-syariah sebagai standarnya.
5. At-Tawadhu’ adalah orang yang
rendah hati (lawan dari sikap sombong) yang melahirkan perkataan, perbuatan
atau sikap serta perasaan memiliki kekurangan, kelemahan dibanding dengan orang
lain meskipun ia mampu melakukan yang lebih baik dari orang lain
Berikut ciri-ciri orang yang
tawadhu’:
a.
Bersikap tenang dan sopan.
b.
Menghargai orang lemah.
c.
Sederhana.
d.
Menjauhi perilaku sombong.
Kelima gelar yang diberikan Raja
Bindara Saod tersebut memang layak dan pantas dihadiahkan terhadap Syekh Ali
Akbar. Karena jasa-jasanya sungguh luar biasa bagi peradaban Islam di
Pasongsongan. Ditambah dedikasinya terhadap Kerajaan Sumenep yang mengagumkan.
Tentu tidaklah sembarangan orang memperolehnya. Bukan sebab Syekh Ali Akbar
sebagai pamannya. Bukan pula karena Syekh Ali Akbar sebagai guru spritualnya.
Tapi semua berdasar realita yang melekat pada pribadi beliau. (Yant Kaiy)

