Merapi Tak Pernah Ingkar Janji…

Hasil gambar untuk gambar artis wanita india


 Cerpen Remaja  : Herry Santoso



Kabut masih menguap di ruas  Malioboro. Hari masih terlalu pagi. Hanya satu-dua lapak yg mulai buka menggelar dagangannya. Sungguhpun begitu kakiku sudah hilir-mudik  menapaki street tours  terindah di Asia itu.  Semua memang menarik. Tetapi yg paling menarik bagiku justru perempuan yg tengah termangu-mangu sendirian di depan *Pangestu Butik*  itu.

" Mahal ya, Mbak ?" gumamku di belakangnya tatkala ia mencermati blus motif abstrak di tangannya. Ia hanya menoleh dan tersenyum manis. Manis sekali. Ada tahi lalat menempel di antara kedua alisnya  mengingatkanku pada Patricia Mallini gadis blesteran India-Italy  yg nembintangi Twilight Lost In Rome (Senja Tersesat di Roma) itu. Sungguh aku tertegun melihatnya...

" Kukira Anda lebih cantik lagi jika kenakan blus yg biru itu..." gumamku sok kenal sok dekat ketika ia menenteng dua potong pakaian ke kamar pas.
"Oh ya ? Tak cobain dulu ya...." katanya sembari melempar senyum indahnya dg mata mengerling ke arahku. Aku benar terpana dibuatnya, bahkan tak menggubris lagi Kang Iswanto, sahabatku, yg sedari tadi menguntitku entah tersesat di mana. Dengan pura-pura memilih batik  Pekalongan hatiku berdebar saat perempuan cantik itu kembali muncul dan merapat di dekatku.

"Oh ya, jadi pilih yang biru, kan ?" tanyaku.
" He-eh..." balasnya tersipu.
" Kenalan dulu dong.." ucapku mengajaknya bersalaman di sela-sela kesibukannya menebus nota di kasir.
"Herry..." kataku.
" Mera..." balasnya.
" Panjangnya ?"
" Merapi Nusantarawati. Tapi panggil saja Mera."
" Hah ??"
" Kenapa terperangah ?"
" Ah, enggak, cuma...."
" Cuma apa ?"
" Cuma jujur aku terpesona dengan nama indahmu itu..." ucapku lirih. Mera tertawa kecil dan menunduk.
" Setelah ini kamu kemana ? " tanyanya tiba-tiba.
" Cari gudeg terenak di Jokja, yuk, Mer, "
" Hehee...."
" Kok ketawa ?" sergahku.
" Malu..."
" Nggak usah malu, paling orang yang melihat kita menebak-nebak kau cucuku,"
"Bukan, bukan itu maksudku !" tukasnya.
"Terus ?"
" Kita baru saja kenalan kok udah seakrab ini, ya ?"
" Iya-ya, kenapa ya, Mer ?"
"Mmm...kalau menurutku... kamu sih orangnya unik bingit," jawabnya.
" Unik ? Maksudmu aku adalah spesies perpaduan antara Gombloh dan Anjasmara, begitu ?" tukasku.
" Haahaaaa..." Mera tergelak lagi. Tak sadar hp-ku bergetar berkal-kali. Kulihat Mas Nanang-travel sudah WA aku berkali-kali ditunggu teman-teman di bus sejak tadi.
"Mer..."
"Hem.."
"Aku udah ditunggu bus nich... Karena pagi ini akan menaikimu !"
"Apa ? Menaikiku ? Kok telibat !" Mera kaget.
" Heee...nggak usah gusar. Maksudku menaiki Merapi haha....!"
" Hahaaa..." ia tergelak juga. "Kamu nggemesin sih orangnya !" sergahnya lagi dengan wajah mirip kepiting rebus.
"Oh ya, kita belum tuntas Mer. "
"Maksudmu ?"
"Eh nocell kamu berapa ?" kataku tak segan. Ia pun menyebutkan angka dan aku pun mengetiknya.
"Terus  tinggalmu di mana, Sayang ?"
Ia tersenyum. Mungkin panggilanku "sayang" itu terdengar lucu di telinganya.
" Aku juga di Merapi, kok,"
"Halah, mosok ?"
"Iya, malahan ibuku jualan _dawet ayu_ di area Bunker Watuadem sana. Kalau nggak percaya, tanya
saja namaku sesampainya  di sana nanti. " ujar Mera.

Kami pun berjalan beriringan keluar dari butik itu. Hari masih terlalu pagi. Mentari tak juga muncul tetapi Malioboro sudah sibuk dan semarak. Kami memasuki sebuah angkringan di depan sebuah bank : 'Gudeg Yu Jem' sebuah branded yg telah mendunia. Kami pesan dua porsi istimewa, plus kopi susu, tapi Mera lebih memilih lemon milk juce. Kami juga tak segan-segan  saling mencicipi pesanan masing-masing, bahkan Mera tidak menolak ketika kuusap butiran nasi yg menempel di pipinya.

"Mer..."
"Hem,"
"Bagaimana perasaanmu makan pagi dengan lelaki setua aku ?" lagi-lagi gumamku.
"Kenapa ? Tenang saja,"
"Paling orang mengira aku kakekmu, ya ?"
"Menganggap kekasih pun nggak apa-apa," gumamnya.
"Aku kan udah 60. Kamu berapa ?" tatapku.
"Kenapa ? Naoko Nemoto saja menikah dengan Soekarno masih di usia 19. Padahal BK waktu itu kalau tidak salah 67. Mengapa gusar ?

Sedang saat Merapi erupsi terakhir dulu aku juga 19, lho ! Hitung-hitung sekarang kan 27 umurku. Udah dewasa, kan ? Sedang njenengan baru 60 saja galau hehe...." mata indah itu mengerling kocak.

"Kamu masih sendiri ?"
Mera mengangguk.
"Tapi pacarmu banyak tentu ?"
"Kamu kira aku The Girl Adventurous ?" mata  itu nenatapku lurus.
" I'am Sorry Mer..." kataku. "Ayo kita go away from here,"
"Yuk," balasnya.
"Ingat kita nanti ketemu di puncak ya, Mer !" teriakku pada gadis semampai itu. Ia pun melambaikan tangannya dan cium jauh setelah menyeberangi jalanan sibuk. 

Aku terdiam. Diam-diam terasa ada yang hilang di hatiku saat mengamati Merapi lenyap diantara  banyak orang....

***

Merapi memang indah. Meski gunung berapi tersangar dan termisteri se jagad ini tak setinggi  Alpen, Pinatubo, atau Kalimunjaro. Alamnya ramah dan indah. Semua bagaikan puisi yg tak pernah basi. Aku dan teman-teman rombongan kepala sekolah purnatugas menyusuri lembah-lembah berbatu di alur Kaliputih. Melacak "dunia yang hilang" di sana.

"Ini dulu perkampungan padat,  Bapak-ibu...!" ujar pemandu mengamati remah-remah yang tersisa. Ada kuburan masal, besi yg meleleh, bahkan dua ternak sapi yg tinggal kerangka. Aku menghela nafas dalam-dalam sembari mengucap doa....

Jeep Willis 1947 terus menanjak. Meraung-raung di jalanan berbatu. Banyak rumpun andelwis  yg bertaburan sepanjang bantaran Kaliputih. Aku jadi ingat, dulu pernah kukumpulkan bunga ajaib itu dari lereng Kelud sebagai kado ultah istriku. Ya, hanya itu yang kubisa. Istriku menerima dg mata nanar, berkaca-kaca haru. Kini ia telah pergi untuk selama-lamanya.....

" Kita sampai di Bunker Watuadem....!" lagi-lagi teriak pengemudi yg nyambi pemandu. Bagaikan terbangun dari mimpi, aku pun bergegas mendahului rombongan ingin mencari pejual dawet ayu dengan harapan bertemu gadis cantik yg kukenal di Malioboro pagi tadi. Mataku langsung menyapu pandang stand-stand makanan yg bertebaran di situ. Hiruk-pikuk wisatawan pun kian meradang. Mentari nyaris tergelincir di langit barat. Kudekati wanita tua yg menggelar dagangannya : dhawet ayu.

"Dawet, Mase?" sambutnya ramah.
" Njih, Bu...." jawabku santun.

Di antara nikmatnya rasa semangkuk dawet aku terus mengamati perempuan tua itu. Rambutnya bagaikan kapas. Wajahnya tampak mengeriput, seakan kian terlipat usianya.

"Ibu sejak sebelum bencana sudah jual dawet di sini ?" tanyaku basa-basi.
"Iya, tapi waktu itu di Pos Pantau Kinahrejo, Mase.."
"Dekat rumahnya Mbah Marijan ?" tanyaku lagi dengan penasaran.
"Benar !"
"Terus....maaf...Ibu kok bisa selamat ?"
" Saya ikut evakuasi, Mase....tapi...." suaranya tersendat.
"Tapi kenapa, Bu ?"
" Tapi keluarga saya semua tidak bisa me....menyelamatkan diri....Mase...." wajah tua itu spontan meredup. 

Ada kenangan pahit yang tiba-tiba menikam hinggap di airmukanya yg semakin keruh dan ngeluyup.
" Suami saya..." lanjutnya datar suaranya nyaris tertelan, "Putri kami satu-satunya, juga jadi korban. Padahal Ia sudah semester akhir di UGM...." langsung wajah tua itu tertunduk lesu. Berkabut....
"Sudahlah Bu....iklaskan saja....mereka sudah damai tempatnya...." kuletakkan dawet di mangkokku. Aku terhanyut dalam sentimentil itu. "Sungguh, tragis, Mase...." wanita itupun tersedu. Airmatanya berderai bergulir di wajah keriputnya.
"Kalau boleh tahu, eh....siapa nama putri ibu itu...."

Wanita tua itu masih berusaha mengusap airmatanya yg tetap merembas. Matahari sudah tergelincir di ketiak ufuk. Suasana adem terasa mulai menyentuh kulit tubuhku.

"Nama putri saya itu... Merapi. Lengkapnya Merapi Nusantarawati....."
"Hahh ??" aku terkesiap nyaris terjengkang dari tempat dudukku.
"Mase kenal ?"
"Ti..ti...tidak..." ucapku lirih. 

Dengan tangan gemetaran kurogoh uang receh sekenanya di kantung celana seraya meletakkannya di lapak ibunya Merapi itu. Aku bagaikan dilecut  menghambur pergi nenjauhi tempat itu. Panggilan berkali dari stand dawet itu tak kuhiraukan. Paling-paling uangku tadi masih punya kembali.

Udara mulai atis saat kami turun di pangkalan Willis. Sayup-sayup terdengar adzan dari sebuah surau. Aku pun bersimpuh membaca doa, semoga arwah Merapi Nusantara damai di sisi-Nya. Oh, merapi ternyata kau tak pernah ingkar janji....




( Cerpen ini kutulis dan terinspirasi oleh kunjungan kami ke Puncak Merapi DIY, 14 Januari 2018 )

Editor: Yant Kaiy
LihatTutupKomentar