Dahaga


 

Dahaga

Puisi: Yant Kaiy

 

telah lama bumi menanti hujan tercurah

sesekali air matanya berlinang

menahan dahaga dalam doa pada-Nya

yang selalu sia-sia di ujung duka

 

tanah semakin panas

perang silih berganti, datang tanpa undangan

asap maut terus mengepul dari cerobong dendam

kuda modern kesukaan manusia kian sesak, berjubel

di sini kematian bergelimpangan saban detik

di sana lupa daratan, beringas…

di situ kelaparan, perampokan menindas kaum jelata

 

tiada henti bumi dalam tangis

“tanpa terima kasih kau berbuat semena-mena

semau gue, sesuka hati, tanpa peduli pada asalnya

jangan begitu, kita masih bercucu.”

 

Pasongsongan, 1992

 

 

Publish: Koran Berita Yudha (8/11/1992)

Postingan populer dari blog ini

Pisah Sambut Pengawas Warnai Pertemuan Rutin KKG PAI Pasongsongan di SDN Pasongsongan 1

Pertemuan Bulanan KKG PAI Pasongsongan: Resmi Sambut Pengawas Baru

Tak Semua Pahlawan Memakai Seragam, Ada yang Berblangkon dan Mengantar Seorang Bocah Menjemput Langkah Pertamanya