Rakyat Terbuai Bantuan

Bantuan beras kepada masyarakat. (foto: Dok. Pribadi)

Opini: Yant Kaiy
Beraneka bantuan terus mengalir kepada rakyat Indonesia. Sasaran dari bantuan itu sendiri menyisir warga masyarakat yang menjadi target menerima bantuan sesuai peruntukkannya. Realita di lapangan masih ada saja yang tidak tepat sasaran. Dalihnya pun bermacam-macam.

Misalnya, data yang diusulkan dari tinggkat bawah sudah benar, tapi tidak terakomodir semuanya. Penerima bantuan melebihi kuota. Pusat yang menentukan, daerah tidak tahu menahu soal itu. Pemangku kebijakan hanya berjanji akan mengusulkan adanya perubahan penerima manfaat kalau terlanjur tidak tepat sasaran.

Kisruh di bawah memang sudah menjadi lukisan unik di beberapa lokasi, menghias pelaksanaan bantuan. Ada yang gigit jari karena dirinya merasa lebih pantas sebagai penerima bantuan. Ada yang tersenyum karena bantuan itu sebagai penyelamat disaat dirinya terjepit.

Mabuk Bantuan
Macam-macam bantuan dari Pemerintah Pusat mulai dari Program Keluarga Harapan, Program Kartu Sembako, Program Kartu Pra Kerja, pembebasan biaya listrik dan diskon dari PLN, BLT DD, dan lain-lain. Ditambah lagi dengan bantuan dari pemerintah daerah yang labelnya juga beraneka ragam.

Ada juga bantuan dari personal partai politik, pengusaha, mereka yang akan ikut kompetisi pesta demokrasi, pimpinan perusahaan, pribadi pemerintah dan dinas di daerah, organisasi kemasyarakatan tidak ketinggalan. Dan seabrek lagi nama bantuan itu disalurkan kepada masyarakat.

Banyaknya bantuan kepada warga miskin di tengah pandemi Covid-19 di bulan suci Ramadan kali ini telah membuat rakyat mabuk. Satu sisi mereka terselamatkan dari jepitan kebutuhan hidup. Tapi hanya sebatas embun pagi. Mereka tidak sampai satu minggu sejak menerima bantuan, lalu mereka kembali berkubang di lumpur derita.

Akhirnya masyarakat menjadi ketergantungan akan bantuan. Bukan menyelesaikan masalah yang ada. Atau memang didesain demikian agar masyarakat mengharap bantuan kembali. Bisa jadi semua ada udang di balik batu. Tujuan bantuan mungkin untuk meredam gejolak anti pemerintah, di tengah menurunnya tingkat kepercayaan rakyat terhadapnya?

Mari berpikir logis! Mencekoki rakyat dengan berjuta merek bantuan bukanlah solusi bijak. Mungkin tersedianya lapangan kerja adalah jalan terindah bagi mereka. Tidakkah diantara mereka banyak yang mengais rejeki di negeri orang.

Maaf, mereka yang duduk di pemerintahan bukanlah orang-orang bodoh. Mereka terdiri dari orang-orang pintar. Namun ternyata, otak pintar tidak menjamin mereka bijak.[]


Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com
LihatTutupKomentar