Sejarah Zikir Samman di Pasongsongan
| Surat tanah Dusun Pakotan dari Kerajaan Sumenep. (Foto Dok.Bambang DS.) |
SUMENEP, apoymadura.com - Desa
Pasongsongan masuk dalam wilayah Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep
Madura. Desa ini terletak di barat utara Kota Sumenep berjarak 37 km. Sebelah
barat Desa Pasongsongan adalah Desa Bindang Kecamatan Pasean Kabupaten
Pamekasan. Jadi Desa Pasongsongan termasuk ujung barat Kota Keris Sumenep.
Di Desa Pasongsongan, tepatnya di Dusun Pakotan terdapat
makam Syekh Ali Akbar Syamsul Arifin. Tokoh penyebar agama Islam di Pasongsongan
pada abad XV yang kharismatik dan disegani. Syekh Ali Akbar meninggal dunia tanggal 14 Jumadil Akhir 1000
H, atau Sabtu, 28 Maret 1592 M. Beliau mempunyai putri bernama Nyai Agung
Madiya.
Pada jaman pemerintahan Raja Sumenep ke-29, yaitu Raja
Bindara Saod (1750-1762), Nyai Agung Madiya diberi tugas Raja Bindara Saod
untuk berperang, menumpas penjajah Belanda yang ada di bumi Aceh. Ini adalah
permintaan Raja Aceh kepada Raja Sumenep yang memang sekian lama bersahabat sebagai
sesama kerajaan Islam.
Nyai Agung Madiya tercatat sebagai panglima perang wanita
satu-satunya di Kerajaan Sumenep. Beliau berhasil menumpas tentara kolonial
Belanda di Aceh. Keberhasilan ini mendapat apresiasi Raja Sumenep dengan mendapat hadiah tanah
luas. Tanah itu berada di Dusun Pakotan Desa Pasongsongan.
Menurut beberapa keturunan dari Syekh Ali Akbar yang
diwawancarai apoymadura.com beberapa
hari yang lalu, Nyai Agung Madiya sering bolak-balik ke Kerajaan Aceh. Beliau
kemudian membawa kebudayaan Zikir Saman dan diajarkan kepada keluarga besarnya.
Zikir Saman Pasongsongan merupakan aliran Thoriqoh
Sammaniyah yang berkembang pesat di Aceh. Zikir Saman sampai detik ini terus
lestari di Dusun Pakotan. Setiap haul Syekh Ali Akbar pada tanggal 14 Jumadil
Akhir, di astah beliau Zikir Saman dilaksanakan. (Yant Kaiy)
