Nasib Penulis di Era Media Online


Opini: Herry Santoso
Serbuan media berbasis online sudah semakin nyata. Cepat atau lambat media online akan menggeser eksistensi media cetak. Dalam beberapa tahun terkahir, bahkan satu per­satu media cetak telah banyak yang gulung tikar. Sebagian mengganti formatnya dalam bentuk digital. Sebagian lagi tutup sama sekali.

Berbagai dampaknya pun mulai dirasakan. Antara lain pengurangan tenaga kerja. Bagaimanapun dibanding media cetak, media online lebih efisien. Dia tidak membutuhkan biaya untuk membeli kertas dan tinta, operasional percetakan, karyawan untuk mencetak maupun loper untuk mengantar koran. Itu juga salah satu faktor mengapa banyak media cetak yang kemudian beralih menjadi media online.
    
Ketakutan itu pun tidak hanya dirasakan oleh para pemilik maupun pekerja di media cetak, tetapi juga para penulis. Sudah menjadi tradisi, antara para penulis dan media cetak terjalin hubungan mutualisme. Selama ini para penulis berperan dalam hal memberikan kontribusi pikiran lewat tulisan-tulisannya yang dimuat di media cetak. Apakah tulisan itu berupa opini, kritik, pendapat maupun berupa fiksi.

Sebaliknya dengan hadirnya tulisan-tulisan dari penulis itu, sebuah media cetak menjadi lebih berwarna serta kaya akan rasa. Mengingat tidak semua hal bisa terpantau oleh internal media.
    
Selain itu, kehadiran tulisan-tulisan dari penulis itu ikut memperkaya perspektif atas informasi yang diberitakan. Termasuk membuka ruang bagi terciptanya polemik yang nantinya ikut mendongkrak citra dan popularitas itu sendiri.
    
Peluang itulah yang belum terdapat di media online. Seperti kita tahu prinsip dasar media online adalah mengandalkan kecepatan penyebaran informasi. Karenanya berita-berita yang ditulis umumnya bersifat straight news.

Karenanya space yang ada tersedia di media online umumnya terbatas untuk berita-berita semacam itu. Masih jarang ada space untuk berita yang sifatnya ulasan. Juga setahu saya, belum ada media online di Indonesia yang memberikan laman khusus untuk tulisan-tulisan dari penulis, sebagaimana yang berlaku di media cetak.


Hati-hati Honor Media Online
Sebuah pengalaman pribadi, rasa senang ketika naskah termuat di media online memang berbeda dengan ketika termuat di media cetak. Hal itu karena tulisan media online tidak ada bukti fisik pemuatannya laiknya di media cetak.

Jejak digital di media online hampir tidak dibaca orang kecuali media online yang punya nama besar, sebut saja detik.com, kompas.com, dan sebagainya.
    
Parahnya lagi, jika kita tidak jeli mengontrol laman media online, honorarium bisa "raib".

Pernah saya menulis cerpen dan opini (politik) di salah satu media online. Saya tidak bisa mengontrol dimuat-tidaknya tulisan saya itu. Tahu-tahu saya dapat ucapan selamat dari pembaca dalam pertemanan di FB. Saya pun bergegas membongkar arsip di laptop, ternyata sudah lebih 5 bulan lalu tulisan terkirim. Iseng-iseng saya hubungi redaksi media online tersebut via email. Apa yang terjadi ? Emailnya sudah mati.
    
Untuk itu kita harus hati-hati dengan eksistensi media online. Media berbasis cyber ini memang serba "harap-harap cemas". Meski demikian karena di tubuh saya terlanjur mengalir darah penulis, suka duka itu sudah biasa.

Sama halnya ketika (saya) dulu mulai merangkak dari bawah secara otodidak sebagai penulis. Lagi pula tidak pernah kutemukan di pendidikan formal yang membimbing orang jadi penulis kecuali hanya teori-teori menulis yang dikarang oleh para akademisi. Untuk itu sedikit pengalaman saya ini tetap berharga daripada sebuah teori. Minimal menurut saya pribadi. Salam kreatif! []


*)Herry Santoso, penulis yang berdomisili di Blitar
LihatTutupKomentar