Dampak Covid-19
Opini: Yant Kaiy
Di beberapa akun sosial media yang saya miliki, saban hari selalu
ada kiriman foto-foto kreatif, anekdot, sticker, wallpaper, dan kalimat-kalimat
lucu dari teman-teman menghias suasana hati menjadi ceria. Di tengah hati galau,
sosial media terkadang menjadi penyeimbang. Menjadi penghibur.
Ada pula dari mereka mengirimkan video dan audio serta
gambar-gambar kartun membikin senyum bahagia. Mereka menjadi inspiratif,
imanijatif dalam mengisi nuansa kekhawatiran. Bahkan mungkin ada sebagian besar
masyarakat panik dengan adanya wabah virus corona.
Semua akan wajar kalau panik itu masih diambang batas. Tapi
kepanikan berlebihan tentu akan membuat suasana di rumah akan kurang nyaman.
Padahal kepanikan yang terlalu akan membuat diri kita stres, depresi. Menurut
Ibnu Sina, ahli kedokteran modern; bahwa kepanikan adalah separuh dari
penyakit, sedangkan ketenangan adalah separuh dari obat, dan kesabaran adalah
sebuah permulaan kesembuhan.
Maka anjuran pemerintah untuk stay at home (tinggal di rumah) dalam
menghadapi epidemi virus corona sangatlah tepat. Disamping itu bisa pula
memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dari sudut agama hal ini terkandung
hikmah luar biasa. Ini akan menjadikan kita untuk senantiasa bermuhasabah.
Mengevaluasi diri apa-apa yang telah dilakukan dimasa lampau
dan selalu berniat untuk mengerjakan
lebih baik lagi diwaktu mendatang agar mendapatkan ridho Allah. Jika
manusia bersandar pada agama yang benar, insya Allah ketenangan jiwa akan dapat
diraih.

