Sebening Embun


Pentigraf: Yant Kaiy
Aku telah berusaha melupakan semua catatan luka yang pernah aku titi di masa lalu. Tapi ternyata tidak mudah menghapusnya. Bayang-bayang kecongkakan mereka sungguh menyiksa batin ini. Sebenarnya aku ikhlas mereka melakukan kekejian itu karena  sudah berlalu dan Ayah tidak akan hidup lagi. Kekejian yang mengakibatkan terbunuhnya Ayah di tangan mereka.

Ayah pasrah terhadap tuduhan yang dibuat-buat itu. Sebab Ayah memiliki Allah sebagai penerang jalan di tengah kegelapan. Beliau berupaya menangkis serangan demi serangan senjata tajam sebagai wujud perlawanan. Tapi Ayah kalah dalam pengeroyokan itu. Ibu hanya bisa menangis di pembaringan terakhir Ayah.

Masih segar semua peristiwa itu walau tertutup embun malam. Barangkali kilaunya akan tetap ada di sanubari. Entah sampai kapan akan sirna.

Pasongsongan, 20/3/2020


Postingan populer dari blog ini

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura PAS Kelas IV SD

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura Kelas 3 SD di Sumenep

SDN Padangdangan 1 Gelar Upacara Rutin, Pembina Tekankan Setiap Anak Unik dan Punya Potensi Sukses