Langsung ke konten utama

Jelaga Hati si Janda

Cerpen: Akhmad Jasimul Ahyak
Bias senja jiwa membingkis ranum pada wajah mentari jingga. Dialah perempuan yang baru mekar di atas semak daun-daun beraroma bunga melati, dan aku baru tahu itu adalah si Aminah, perempuan janda yang baru dipulangkan dari perantauan karena adanya wabah virus yang terjadi saat ini. Dalam hati aku bertanya baru kali ini aku melihatnya. Iseng-iseng aku bertanya pada tetanggaku tentang pekerjaan selama di perantauan. Ternyata si janda Aminah kerja di salah satu restoran ternama di Malaysia.

Lengkung pelangi indah di kala senja. muncul sosok tubuh si janda itu dari dalam rumahnya dengan masker dimulutnya, dan duduk di kursi terasnya sambil memainkan HP di tangannya. Aku pandangi dari kejauhan, wajahnya menghias elok pada dinding yang menjadi sandaran dikepalanya, tubuhnya indah semampai pada sosok yang menggoda. Lelaki mana yang tidak suka sama si Aminah, walau janda tapi tidak punya anak. Bisa dikata 'janda ia perawan ia'.

Entah sudah berapa petang tak lagi kuseduh wajah parasmu. Rasa kangenku kini meraut syahdu menyeret pilu, relung hatiku yang kian merindu. Kenapa si Aminah tidak kelihatan lagi, mungkin belakangan ini engkau capek dan terlelap dalam pelukan bantal yang hangat. Sedangkan aku bingung berjibaku memikirkan kamu bersama waktu.

Aku tak mau bersimpuh menunggu angin begitu saja. Kebetulan aku kenal dengan teman akrab si Aminah, dan ini kesempatan untuk meminta nomor HP si Aminah siapa tahu punya nomornya. Alhamdulillah nomor HP si Aminah sudah aku kantongi dan ini kesempatan untuk bisa menghubungi kala ada waktu senggang. Engkau adalah kidung pujian sedangkan aku adalah penikmatnya, kali ini akan kutekan semua kerinduan tentang kamu lewat HP aku. Dan setelah aku hubungi, malah yang mengangkat bukan si Aminah melainkan ibunya, aku sempat menanyakan kabar si Aminah.

Mendengar kabar dari ibunya rasanya tercekik leherku, dadaku sesak mendengarnya kini yang ada hanya antara maut dan cinta karena asap hitam corona sudah menempel ditubuh si Aminah. Sekarang bukan wajah hangatmu membelaiku tapi kematian si Aminah sudah menjemputnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib Guru Honorer PAI di Sumenep tidak Terurus

Catatan: Yant Kaiy Tidak adanya rekrutmen PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) bagi guru PAI (Pendidikan Agama Islam) di lingkungan Dinas Pendidikan Sumenep, menambah panjang penderitaan mereka. Karena harga dari profesi mulia mereka sebagai pendidik dibayar tidak lebih dari Rp 300.000,- per bulan. Rupanya pihak pemangku kebijakan masih belum terketuk hatinya untuk mengangkis mereka dari lembah ketidak-adilan. Sekian lama guru PAI terjebak di lingkaran mimpi berkepanjangan. Impian para guru PAI ini untuk menjadi PPPK menyublim seiring tidak adanya jaminan kesejahteraan. Namun mereka tetap berkarya nyata walau kesejahteraan keluarganya jadi taruhan. Mereka tetap tersenyum mencurahkan keilmuannya terhadap murid-muridnya. Animo itu terus bersemi karena ada janji Allah, bahwa siapa pun orang yang mendermakan ilmu agamanya, maka jaminannya kelak adalah surga. Barangkali inilah yang membuat mereka tidak bergolak dalam menyampaikan aspirasinya. Mereka tidak turu

Panji Gumilang Pesohor Akhir Kekuasaan Jokowi

Catatan: Yant Kaiy Emosi rakyat Indonesia berpekan-pekan tercurah ke Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun, Panji Gumilang. Episode demi episode tentangnya menggelinding bebas di altar mayapada. Akhirnya, lewat tangan-tangan penguasa ketenangan dan kenyamanan Panji Gumilang mulai terusik. Telusur mereka berdasar pernyataan dirinya tentang beberapa hal yang dianggap sesat oleh sebagian besar umat Islam di tanah air. Cerita tentangnya menenggelamkan beraneka berita krusial dalam negeri. Isu ketidakadilan, kasus besar menyangkut hajat hidup orang banyak menyublim di dasar laut Al Zaytun. Banyak orang bertanya-tanya, seberapa perkasa Panji Gumilang di mata hukum Indonesia. Ia bertakhta atas nama kebenaran walau kadang berseberangan jalan dengan organisasi Islam yang ada. Mungkin baginya, berbeda itu indah. Sekarang tugas penguasa menyembuhkan suasana negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Tidak ada nilai tawar.[] - Yant Kaiy, Pimred apoymadura.com

SDN Panaongan 3 Layak Menyandang Predikat Sekolah Terbaik di Pasongsongan

Agus Sugianto (kanan) bersama Kepala Dinas Pendidikan Sumenep Agus Dwi Saputra. [Foto: Sur] apoymadura.com  - SDN Panaongan 3 terletak di Dusun Campaka Desa Panaongan Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Lokasinya masuk pelosok dengan jalan rusak ringan. Warga masyarakatnya sebagai besar bekerja di ladang sebagai petani. Musim penghujan mereka bercocok tanam jagung. Musim kemarau masyarakat lebih banyak menanam tembakau.  Ada pula sebagian dari mereka merantau ke kota lain. Bahkan ada yang bekerja di Malaysia, mengadu peruntungan agar kesejahteraan hidup lebih baik. Etos kerja warga masyarakat cukup tinggi. Mereka sadar, putra-putri mereka paling tidak harus punya pondasi keilmuan yang cukup. Agar dalam mengarungi hidup lebih indah, sesuai impiannya. Kendati perekonomian mereka rata-rata lemah, namun masalah pendidikan anak-anaknya menjadi sebuah prioritas. Karena mereka sadar, hidup bahagia itu lebih lestari dengan ilmu. Mereka menginginkan pendidikan putra-putrinya ke tingkat p