Tifus Cinta

Hasil gambar untuk Sketsa gadis cantik
Cerpen: Yant Kaiy

Tiba-tiba tubuhku demam menggigil. Kepala ini serasa mau pecah. Perut seperti terbakar. Pandangan menjadi kabur. Aku terbaring lemas di atas tempat tidur. Aku segera dilarikan ke sebuah Puskesmas oleh teman kost dan dibonceng sepeda motor.

Dengan dipapah, aku masuk ke ruang UGD dan langsung diperiksa oleh dua perawat. Setelah diwawancara ala kadarnya, perawat itu menarik satu kesimpulan kalau aku terkena tifus. Tanpa babibu lagi, perawat itu menginfusku.

Teman kost langsung pamit pulang karena ia harus masuk kerja. Kami sama-sama buruh di salah satu 
perusahaan minuman ringan. Kami dari kota berbeda, tapi kami sudah seperti saudara.

Sejurus kemudian datang dokter memeriksaku. Dokter itu menyatakan kalau aku positif terkena tifus, jadi harus rawat inap. Aku mengangguk setuju. Dengan kursi roda aku menuju ruang rawat inap.

“Sudah makan, Mas?”  tanya perawat yang mengantarku. Ia terlihat anggun. Sinar matanya lembut, penuh keibuan. Balutan jilbab di wajahnya menambah gairah bagi mata lelaki manapun.
“Belum.”

Dengan sikap menahan rasa sakit aku merebahkan badan. Ia mencoba membantunya.

“Aku terburu-buru tadi, Bu. Kalau minta tolong boleh kan,” pintaku tanpa sungkan.
“Baik. Mau beli apa?”
“Roti dan air mineral.”

Ia pun berlalu. Seutas senyum sempat mengiringi kepergiannya. Perempuan yang baik hati, gumamku lirih.
Hari-hari berikutnya aku merasa betah dan nyaman di rumah sakit, seiring penyakitku mulai membaik. 

Belakangan aku tahu nama perawat itu Rani. Entah kenapa aku mulai jatuh hati padanya. Kami seolah dekat dengannya. Atau mungkin sikap Rani sama ketika menangani pasien sebagai bentuk pelayanan profesional? Atau hanya padaku?

Empat hari kemudian aku diperbolehkan pulang. Sebelum pulang, aku menyempatkan mengajaknya makan di sebuah restoran sebagai bentuk terima kasihku.

“Kapan itu, Mas?” tanyanya sambil melepaskan infus di lenganku. Rani tersenyum, senyum yang sulit kujabarkan.
“Lusa, habis kamu pulang kerja. Bisa kan?”
“ Maaf, Mas! Aku lagi ada acara keluarga.”
“Kapan bisanya?” desakku sambil menyelami perubahan sikapnya.
“Saya sudah punya suami.”
“O…”

Hanya kata-kata itu yang keluar dari kerongkonganku.


Pasongsongan, 2/2/2020


  
LihatTutupKomentar