Sisa-sisa

Hasil gambar untuk sketsa gambar gadis india
Cerpen: Yant Kaiy

Mendapatkan cintanya tidak mudah bagiku. Banyak pengorbanan tergelar diantara persaingan lelaki yang tergila-gila pada Luna. Gadis bertubuh seksi itu merontokkan iman siapa saja bila berada di dekatnya. 
Kulitnya putih hampir tiada cela. Matanya bagai bulan purnama. Wajahnya oval terpancar sikap lembut penuh keibuan. Pokoknya yang ada Luna bagiku sangat istimewa.

Suatu senja di bulan Januari. Aku menghadiri undangan kecil di sebuah kafe. Alumni geng SMA-ku yang terdiri delapan orang. Kami sudah tiga tahun lulus sekolah. Jalinan komunikasi jumpa darat setiap tahun sengaja dilaksakan untuk bisa berbagi apa saja. Berbagi tentang problema hidup, problema rumah tangga karena ada tiga temanku yang sudah punya istri.

“Kapan kau menyusul kami, Deni?” tanya Ikbal yang istrinya sudah hamil.
“Doakan agar secepatnya!” sahutku sekenanya.
“Jadi kau sudah ada calon? Siapa?” timpal Anang ingin tahu.
“Luna,” samber Totok yang duduk di sampingku.
“Apa?”

Semua temanku hampir secara bersamaan terkejut. Aku jadi tidak enak. Suasana yang sebelumnya ceria berubah tegang. Tapi alunan musik lembut terus menghiasi nuansa kebersamaan kami.

“Kau sudah mantap dengan pilihanmu itu, Deni? Atau kau masih dalam proses perkenalan?” cecar Anang memecah kebuntuan.
“Aku merasa nyaman ada di sampingnya, Nang. Luna mampu memberikan cinta terbaiknya padaku,” terangku meniscaya.
“O ya?”
“Luna kan sering gonta-ganti pacar dulu, Den. Bahkan pernah diisukan berhubungan mesra dengan lelaki punya istri. Apa kau tahu itu, sobat?” celetuk Angga sembari meraih minuman di meja.
“Benar. Aku pernah dengar itu,” pintas Ikbal yang sekarang sudah bekerja di sebuah bank swasta terkemuka.
“Memang sudah ada rencana menikah, Den?” sahut Hasan yang sedari tadi tak habis penasaran.
Aku  mengangguk.
“Jadi kamu juga tahu kalau ayah Luna terjerat kasus korupsi beberapa bulan yang lalu? Maaf, bukannya aku mau menghalang-halangimu, kawan,” cetus Ikbal.
“Memang ayahnya seorang pejabat negara?” Hasan lebih terperanjat.

Aku tak peduli dengan omongan teman-temanku tentang sisi gelap Luna. Aku pulang dari kafe tetap penuh gairah. Bahwa Luna tetap calon istri terbaik bagiku, meski aku mengais dari sisa-sisa cintanya.


Pasongsongan, 7/1/2020


LihatTutupKomentar